Cari

Selasa, 25 Desember 2012

Farewell's Speech


Salam Sejahtera bagi kita semua,
Oliver Wendell Holmes berkata: sesuatu yang paling berharga didunia ini bukan terletak pada seberapa kuatnya kita berdiri, tapi seberapa kuat usaha kita untuk bergerak ke arah yang kita inginkan. hari ini adalah farewell party untuk jurusan pendidikan bahasa inggris. 4 tahun sudah kita lewati hingga sampai pada tempat ini, ke arah manakah yang akan kalian tuju setelah ini? Mengajar di sekolah internasional? Melanjutkan study S2 keluar negeri? Atau malah menikah dan punya anak? Mungkin beberapa memang masih bingung untuk menentukan arah, sama seperti saya. Beberapa waktu yang lalu, seorang dosen memberikan pelajaran berharga, bahwa jika kau bahagia, maka kau akan membuat orang lain juga ikut bahagia, karena inti dari kehidupan adalah kebahagiaan. Hidup seperti itu dirasa cukup. Tapi semua orang disini tahu bahwa saya dan teman-teman bukanlah orang yang bisa memberikan orang lain sebuah kebahagiaan. Meskipun saya tidak tahu bagaimana caranya, saya harap apapun arah yang diambil teman-teman semua bisa memberikan kebahagiaan dalam hidup.

Saya mewakili teman-teman calon wisudawan mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada para dosen dan akademik pendidikan bahasa inggris IKIP PGRI semarang, tanpa kalian kita tidak akan tahu bagaimana menulis dalam bahasa inggris yang baik, berbicara dengan aksen inggris yang lancar, membantu mendapatkan pacar karena tugas kelompok yang diberikan dan segala kebaikan yang tidak bisa disebutkan karena saking banyaknya. Kami sangat berterima kasih sekali. Terima kasih juga dihaturkan kepada mas-mas Cleaning service, tanpa mereka kita pasti kebingungan mencari ruangan, menyalakan proyektor, kepanasan karena AC belum dinyalakan, dan lawan futsal yang tangguh. Makasih mas!

Selain itu, kami, saya pribadi dan teman-teman semua memohon maaf juga kepada para dosen dan segenap jajaran pegawai di kampus. Mohon maaf jika kami dulu sering bolos, sering tidak mengerjakan tugas, karena sebelum mengerjakan skripsi, game di laptop, pacaran, dan nongkrong di kantin untuk PDKT sama semester bawah itu lebih menyenangkan daripada duduk dikelas untuk kuliah. Kami juga mohon maaf kalau sering nyinyir di facebook, twitter, atau nampang di PM BBM. Mohon maaf kalo kami suka sok tahu, bapak ibu semua. Kami mohon maaf.

Kemarin pak wiyaka menanyakan kepada saya apa kesannya belajar di IKIP PGRI, jujur kesannya tidak terlalu bagus, kenapa sih harus ada peraturan ini, dan itu, seragam hitam putih? Lalu disaat saya dan teman-teman yang sudah terjun bekerja untuk membiayai kuliah akhirnya sadar, bahwa segala peraturan itu dibuat agar kita tidak kaget disaat bekerja nantinya. Dan semoga pendidikan bahasa inggris kelak bisa meningkatkan kualitas birokrasi, sistem pendidikan, entry KRS, KHS dan pemberkasan wisuda. Semoga menjadi lebih baik.

Terima kasih.
Nailal Mustaghfiri. S.Pd (aslinya lebih pantes S. Ag) *pake peci item dan sorban hijau*

Rabu, 17 Oktober 2012

Tentang Patah Hati


“isn’t lovely, wake up in the morning and then fall in love with the same person again and again for the rest of your life?” – Rahne Putri.
###
Pagi itu tidak ada yang spesial. Aku dengan dandanan yang acak kadut, dan kamu bak putri. Cantik sekali. Hari itu aku masih saja bersikukuh membenci dirimu. Entah apa alasannya. Terlalu cantik mungkin. Kau pindah posisi tempat duduk disebelahku. Tepat disebelah kanan kursiku. Tiga baris dari depan dan tujuh kursi dari pintu. Aku dan kamu. Mencoba untuk memecahkan kesunyian. Aku sibuk dengan gusarku, dan kau sibuk dengan rambut mu. Ah.

Itu tiga tahun yang lalu, saat masih kuliah. Dan sekarang aku sedang berbaris menuju pelaminanmu. Antre untuk memberikan ucapan selamat atau sekedarnya. Aku masih berjarak empat orang dari suamimu. Masih lama untuk berjabat tangan, batinku. Dan semua frase-frase kita; aku dan kamu saat masih kuliah beterbangan diantara kuah bakso, minuman segar yang tersaji di meja, diantara kelopak melati di sanggul rambutmu, dan hatiku. Cinta itu hadir tanpa perlu direncanakan. Mereka hadir dengan sendirinya. Hanya saja terkadang datang tidak pada saat yang tepat. Itulah kita. Maksudku, itulah aku. Kata orang-orang cintaku kepadamu itu tak tepat. Seperti biasa tanpa alasan. Argumen macam apa itu!

Aku sudah berjarak satu orang dan bersiap untuk meraih tangan suamimu. Kuberikan ucapan dengan jantan. Aku usahakan sejantan mungkin. Lalu, setelahnya kamu. Ku gamit tangan lembutmu, ada penyesalan, kesedihan bercampur dengan bahagia tiada banding. Kau menatapku dalam. Seakan mengatakan bahwa kau menyesal, memohon maaf dan ikut bersedih atas apa yang sedang aku rasakan. Sebagai laki-laki aku tak mau terlihat cengeng didepan wanita pujaanku. Kucoba sembunyikan perasaan itu setegar mungkin. Mata kita berkaitan. Sebelum melepasmu, aku hendak mengatakan sesuatu. Tak perlu lewat kata, karena tidak ada kata manapun yang bisa menjelaskannya. Binar mata ini saja. Bahwa aku...

###
Ku cintai dirimu sepenuh hati, dan ternyata aku salah. Kau masih ingat saat aku menyatakan cinta dulu? Iya, 15 maret 2009. Saat itu kita masih lugu. Dan perlu kau tahu, hari itu adalah hari yang paling membahagiakan bagiku, sekaligus kebalikannya. Saat itu kau menanyakan kenapa aku mencintaimu. Lalu aku jawab bahwa cinta itu tanpa tanda tanya. Karena cinta sudah membulatkan semua jawaban baik yang telah ditanyakan ataupun yang belum sekalipun. Tapi kau menolakku. Kau sudah punya penjaga hati. Bagiku anjing. Bagimu pacar. Sial.

Semenjak pagi itu, iya sesaat kau menolakku, aku masih bertahan dengan cinta ini. Bagiku cinta itu adalah energi tersendiri. Yang bisa mengubah diri yang merasakannya menjadi seratus kali lebih kuat. Dan ternyata aku makin kuat untuk terus mencintaimu. Beberapa teman menanyakan darimanakah asal muasal energi itu? Aku jawab : “dari surga”.

Cinta itu juga harus murni, tanpa praduga, tanpa tanya, suci. Maka aku tak lagi rewel bertanya pada hati kenapa aku masih bertahan denganmu. Dan kau masih saja terheran denganku. Dan kau mulai berfikir bahwa aku adalah lelaki tangguh. Aku memang lelaki tangguh. Dan aku masih tangguh betul untuk mencintaimu.

Sudah lebih dari dua puluh empat purnama aku lewati, dan coba tebak aku masih saja bersikukuh dengan cintamu. Lalu aku simpulkan bahwa cinta itu bisu. Karena dalam keheninganpun bisa meluapkan rasa yang ada dan memahami bagi yang memiliki rasa. Lalu aku tanyakan kepada langit tentangmu; kau baik-baik saja disana?. Aku harap kau sedang memandang langit pada saat yang sama dengan ku, meski tak serupa tapi langit itu sejatinya milik kita, langitku dan langitmu. Diantara konstelasi bintang-bintang ada serpihan rinduku, lihatkah dikau? Aku rindu dirimu. Sungguh. Aku diam. Mencoba melepaskan diri dari cekikan rindu yang semakin erat.

Ku yakini kalau kau akan datang suatu saat, keyakinan yang sama kuatnya saat aku menyatakan rasa itu. Aku menyebutnya cinta. Entah denganmu. Aku anggap diriku sebagai rumah, yang akan menerima dirimu dalam keadaan apapun; basah kuyup karena hujan, berkeringat karena matahari, atau pucat karena kehidupan. Aku disini bersedia untu selalu membukakan pintu, hanya untukmu. Aku berjanji tidak akan menanyakan apapun tentang dirimu saat kau masuk.  Dan tidak akan aku tanyakan berapa hujan yang harus kau tempuh untuk sampai dipintu ini, berapa keringat dan berapa kepucatan untuk mencapainya. Aku berjanji tak akan menanyakan satupun. Dan saat kau datang aku mohon jangan pergi lagi. Aku lelah menjaga pintu ini. Aku mohon.

Ini tahun ke empat, yang berarti kau telah lama dan jauh pergi. Tapi aku masih disini menunggu mu untuk sesekali mampir, harapku. Awan sedang berunding dengan langit. Lalu gerimis. Bagiku gerimis itu adalah hujan yang hati-hati. Pelan-pelan untuk turun dari langit agar tak merasakan sakit. Aku sedang gerimis. Jangan menghindar. Aku tak akan menyakiti. Kau ingat? Akulah gerimis. Seperti gerimis yang turun dari awan membelai bumi. Seperti Tuhan menurunkan salam dan rindu sebagai jawaban ku atas segala doa. Seperti gerimis, aku yang  jatuh perlahan padamu.

###
Aku harap kau bisa membacanya. Harapan yang sama saat aku menyatakan cinta itu, dan kembalinya dirimu. Aku rasa waktu yang telah disiapkan Tuhan untukku telah datang, maka katamu; cintailah seseorang layaknya tak pernah disakiti, buat hatimu kembali baru. Aku mengangguk. Ada bulir air diujung mata, dan bila Tuhan memberikan aku Remidi, maka akan aku gunakan untuk kembali berusaha mencintaimu (lagi).

17 oktober 2012
Kado untuk yang segera menikah. Aku akan selalu bahagia. J

Kamis, 04 Oktober 2012

TENTANG KISAH

Tidak ada yang berubah di lobi ini, koloni kursi besi yang berderet-deret juga masih utuh ditengah, lampu neon diatasnya juga masih setia menyinari setiap petang datang. seperti saringan air perasan kelapa lubang kecil-kecil di punggung kursi besi itu, mengizinkan mata untuk menelisik dunia dibawah kolong. Matahari siang menembus kaca nako yang sambung menyambung dari lantai bawah sampai atas yang tepat di dekat tangga menuju ruang atas. Aku masih bisa merasakan panasnya matahari meski jarakku dari tangga cukup jauh. Angin berbisik, mengaburkan debu-debu di udara, masih terasa, masih tercium bau diantara mahasiswa yang berlalu lalang didepanku, tidak ada musik, hanya bau parfum para mahasiswi yang semerbak. Bukan wangi, tapi aneh. Aku mengatakannya aneh karena hanya bau parfummu saja yang ada difikiranku. Dirimu saja. Aku duduk di sudut, didepan kelas paling ujung, dekat dengan lift dan tangga darurat, 511 itulah nama ruangannya. Aku masih menunggu disana. Iya tepat disana. Membelakangi toilet pria yang seringkali tidak ada air. 
Ada beberapa yang duduk sepertiku dijam kuliah seperti ini. Wajahnya mengekspresikan sama sepertiku, seperti menunggu seseorang. Digamitnya handphone berulang-kali, tapi tak juga berbunyi. Berulang kali pula dilihat jam sophie martin-nya. Tak jua ada yang datang. Apakah dia menunggu seseorang, sepertiku? Seseorang yang sudah lama tak jumpa?
 Dirimu menguasaiku detik demi detik tak ada habisnya. Mengisi digit terkecil jengkal jam tangan ku, heran. Kuciumi bayanganmu. Terus ku ciumi bayanganmu jengkal demi jengkal tubuhmu. Saat mataku terpejam lalu terbuka, lalu terpejam lagi.aku ciumi dirimu lekat. “Pakai baju apa hari ini? Selalu aku membayangkanmu, ingin aku membayangkanmu.” 
Hari ini aku berdandan untuknya. Jadi hari ini dia harus datang. Dia pasti datang. Tak mungkin dia melewatkan mata kuliah statistik pak wahyu yang terkenal galak. Tak mungkin hatiku mengatakannya. Tapi hati selalu bilang seperti itu. Entah sudah berapa kali dia absen dikelas ini. Selalu pada saat terakhir, pada saat kangen ku sudah berubah menjadi duri. Alasannya klasik: malas, malas bangun pagi. Jadi dia selalu bolos kuliah. Tapi aku tahu alasan tepatnya. Bukan malas. Jam yang sama dilain hari dia bisa kok berangkat pagi. Padahal aku hanya ingin berjumpa. Hanya untuk sekedar bercerita. Betapa banyak yang ingin kuceritakan padanya. Lewat telepon tentu tidak bisa, dia tidak akan membalas sms dan angkat telponku. Lagi pula aku juga ingin menatap wajahnya lekat. Sangat lekat. Memandang matanya. Aku suka matanya, menikmati tawanya yang renyah, mencium bau parfum yang khas, sangat khas. Jika suatu saat nanti mungkin, mencium bibirnya yang selalu saja manis. Itu bisa dilakukan nanti. Entah dimana saja. Membayangkan itu semua, membayangkannya membuatku bahagia. 
Tapi pagi ini dia harus datang dahulu. Tidak boleh tidak. Kelas masih kosong, hanya satu dua saja yang datang, aku masuk. Tidak ada yang merespon. Karena memang aku tidak suka disapa. Aku selalu sendiri. Seorang lelaki masuk. Duduk dibaris paling depan, dekat meja dosen, berjarak 3-4 deret kursi dariku. Tiba-tiba pintu terbuka, wajahku terangkat dan harap-harap cemas kalau saja yang masuk adalah dia, pintu kembali tertutup dan sungguh betapa kecewanya aku. Sekian menit, terdengar suara berisik dari luar, seperti ada keributan. Pintu kembali terbuka. Aku langsung mengadahkan kepala, melihat kearah pintu. Hati ini langsung melompat, memacu adrenalin naik kekepala.menahan harap. Lewat sudut mataku lelaki yang duduk didepanku juga terangkat perlahan, sama-sama cemas. Kini seseorang telah tiba,entah untuk siapa. Nafasku tertahan, lalu seperti di film action dia muncul secara slow motion.
 Matanya menangkapku sepersekian detik. Tapi segera berpaling. Bergegas menuju lelaki yang duduk paling depan tadi. Wajahnya berseri. Sekejap itu membuatku bahagia, tapi selanjutnya menusuk ulu hatiku. Bibirnya mengucap,”pagi sayang..”. Mereka berpelukan, saling mencium pipi lalu duduk berdampingan. Dosen masuk setelahnya. Pelajaran pun dimulai. Dan aku teronggok disudut. Sepuluh menit, lima belas, satu jam. Satu setengah jam. 8.40 pagi. Jam tanganku berbisik, ada 35 mahasiswa yang duduk terkantuk-kantuk dikelas, mendengarkan ceramah dosen statistik pagi ini. Banyak yang sudah menghabiskan kertas untuk mengabadikan ceramahnya. Aku cuma bisa menuntaskan air mineral gelasan. Lalu kubuang disudut kelas. Hambar dan sedikit pahit. Air telah sepenuhnya turun deras ke rongga dadaku. Menenggelamkan semuanya yang ada didalam. Aku merasa berat. Tapi aku punya pilihan. Di atas meja, tulisan tentang statistic milik teman terlanjur ditangkap oleh pena. Ia terpaksa menunggu. 
 ###
Ingatan adalah ruang yang memisahkan antara saat ini dan cintaku. Tapi juga satu-satunya yang mengkaitkan. Selebihnya tidak ada lagi. Terakhir dia didekatku, dia meminta untuk tak lagi mengatakan semua ini. “maaf aku tidak bisa, dan anggap saja ini tidak pernah terjadi diantara kita.”- seperti menyuruhku untuk melupakan pena yang tertinggal di kos. Lalu ia hilang ditelan tangga kebawah. Setelah itu, dia tak pernah berbicara lagi denganku. Tak pernah aku telpon lagi kenomernya. Sisi kiri tubuhnya, punggungnya yang dilihatnya pertama kali, juga kepala yang tertutup kerudung mungil. Dan rancak kakinya menjauh. Seolah peristiwa itu baru saja terjadi, dekat. Berulang. 
 Aku sering bertanya, berapa jauh dari kos ini menuju senyum yang siang itu kutelan bulat-bulat hanya untukku?berapa ratus kilometer yang harus aku tempuh untuk mengulang tawa yang menyegarkan itu? Berapa kali tikungan untuk sampai ditempat dimana aku bisa mencium wangi tubuhmu dari dekat? “berapakah jarak yang harus aku tempuh ke waktu itu?” kutanyakan kepada siapa saja, termasuk pada langit. Tidak ada yang bisa menjawab. Atau mungkin mereka tahu hanya saja mereka tidak berani mengutarakannya. “perjalanan itu,” kata seseorang akhirnya, “akan memakan waktu satu hati saja.” 
 ### 
Dua belas purnama di musim penghujan. Coretan dikalender menunjukan-ia telah sangat jauh. Tanggal-tanggal yang bewarna hitam spidol boardmarker permanen. Sengaja kucoret untuk menunjukan kepadanya bahwa aku tak akan pernah lupa pada hari itu-15 maret 2011. Sebenarnya tanpa coretan itupun hatiku sudah tahu. Tiga hari lagi tahun akan pergi, lalu hadirlah tahun yang baru, akan kuganti kalender itu dengan yang baru, juga. Terpaksa. Mungkin juga baju kemeja hijau lumut yang tergantung di dinding, yang sudah lusuh, yang sudah tak lagi aku pakai sejak tanggal itu. Terkadang aku mual melihat baju itu, rasanya hendak membakar baju itu, karena dia, tapi hanya itu sesuatu yang mengingatkanku padanya. Tanpa bisa ku tahan, sabetan pisau menggeret masa lalu ke depan mata. Selalu aku dan dia. Dia dan aku. Ada saja kesempatan yang aku gunakan untuk dekat dengannya. Mengabadikannya dengan waktu. 
Sangat aku ingat ketika dia risih terhadapku mungkin karena aku yang sok tahu tentang semua yang ia lakukan. Acara kumpul-di depan kelas berubah menjadi perang dingin, hanya aku dan dia, saling diam. Bukan saling, dia yang diam. Sementara aku mencoba mencari celahuntuk mencairkan diamnya yang sekeras beton. Masih banyak hari-hari yang ku selesaikan dengan luka. Selalu dengan sesuatu yang aku lakukan. Mendekati teman-temannya, bercanda dengan teman dekatnya, meminjam buku miliknya, atau masuk sama-sama terlambat. Sepertinya ia punya seribu alasan untuk menjauhiku. Dan aku? Tidak satupun. Terlalu cinta? Ia akan segera bilang, “gombal”. Tapi dihari dia pergi, ia tak marah. Tak ada rasa risih, dan juga sepatah katapun. Ia hanya membawa kabur cintaku dan segalanya. Di hari ia pergi aku tak menangis, tak akan bisa. Mungkin karena sesungguhnya tanpa pernah mau aku kuakui, aku sadar-ia telah lama pergi. 
 ###
Cakrawala itu tidak rata, hanya saja tertutup gedung-gedung tinggi ditimur. Cerah tapi samar, dengan angin kencang menerpa lantai lima, di jendela diujung utara gedung yang lain. Garis lurus yang samar-samar terhalang sesuatu. Menggantung dilangit bagian bawah, tempat dimana matahari muncul, tempat dimana keceriaan baru akan muncul-begitu katamu setiap saat. Kesanakah kau akan pergi? Kau mengangkat bahu sekali, sembari tersenyum manis dan menoleh kearahku. Aku tak yakin. Lalu kau selalu meyakinkanku dengan tepukan tanganmu dipundakku. Yang ku tahu hanya: kau ingin pergi, segera pergi, bukan karena mencintaiku, tapi karena cintaku membebani tubuhmu. Begitu berat hingga kau kelelahan. Penuh seperti orang kekenyangan. Satu-satunya cara yang selalu kau fikirkan adalah berhenti mengkonsumsi cintaku. Mengkonsumsi tatapan mataku yang penuh harap. Memakan bualan-bualan omong kosongku. Satu-satunya cara yang terbesit diotakmu adalah: pergi. Aku hela nafas sekali lagi, kutatap dekat matamu. Sesuatu yang tajam menyayat hati. Menusuk sampai tembus. Membuatnya terasa ngilu bukan buatan, membuat mataku diguyur hujan. Memintamu untuk tetap tinggal adalah hal yang tidak mungkin-aku terlalu mencintaimu-meski tetap tak mengerti mengapa hal itu bisa jadi beban. Dan kau telah berkata jujur. Maka, bisikku:pergilah. Kau terkejut, mungkin kau sangka aku akan menahanmu. Bibirmu bergetar. Susah payah kau menahannya untukku. “sungguh?” kau masih kaget. Aku mengangguk. “kenapa?” pegangan handphonemu tiba-tiba lemas. Berpindah dari jari satu ke yang lain dibawahnya. Menggantung tak jelas. Hampir lepas. 
Kebebasan ini seketika menjadi sangat menakutkan. Hidupmu tiba-tiba menjadi seperti balon yang tertip udara kearah timur-karena disanalah kau hendak pergi-tanpa jangkar yang akan menghentikanmu. Hidupku tiba-tiba menjadi balon yang kemps dan tidak ada udara yang bisa melambungkannya naik kembali. Tapi aku tak penting. Kau lah yang penting dalam hidupku. Aku diam. Kau juga diam. Aku tahu kau ingin pergi. Maka aku mengangguk lagi. Meski tak yakin. Karena, jawabku, jika kau tak pergi, bagaimana kau akan tahu jalan pulang? 

 Semarang, 11 september 2011 Makasih ya mbak avianti armand. Favorit deh..  Kado special buat mas yono; selamat menempuh hidup baru. 

Kamis, 12 Juli 2012

Dikucingan, kita selingkuh..!!


Dilampu merah itu detik terus berlari, menuju hijau tentunya. Dan seperti biasa, jam delapan lebih dua puluh menit. Di sini, didekat lampu merah aku menikmati hidangan makan malam seperti biasa. Deru mobil bersahut-sahutan tidak akan pernah mampu menghalau lalu lalang orang-orang kelaparan untuk datang ketempat itu. Sebenarnya tidak ada yang spesial. Gerobak dorong warna biru. Lampu neon lima belas watt dan gorengan yang berserakan diatas nampan-nampan yang nampaknya pasrah saat gorengan-gorengannya diambil oleh orang tanpa dosa itu. Tapi paling tidak nampan itu mendapatkan tugas yang mulia. Dari pada hanya di letakkan diemperan toko perabot seberang jalan yang tak pernah laku.

Malam itu, seperti biasanya; nasi bungkus rasa ayam Bali dan semangkuk mie instan telur. Sesekali melirik gorengan, yang – jujur terkadang terlihat sangat menawan. Ingin kumakan, tapi sering juga tercekat saat menyadari dompet selalu berteriak kekosongan. Sesuap demi suap aku nikmati malam-malam biasa dengan es teh, nasi, mie dan deru laju kendaraan yang sesekali memekakkan telinga.

Disanalah pak Amin berjualan nasi bungkus. Dan apabila ada undian untuk pelanggan pasti aku akan mendapatkan undian doorprize–nya. Aku adalah pelanggan setianya. Intinya, tidak ada yang bisa mengungguli rasa nasi bungkus ”ayam bali”-nya. Atau mungkin aku yang terlalu lemah untuk beranjak ketempat lain dengan menu dan rasa masakan yang lebih lezat. Bisa jadi aku gagal move on. Aih!

Di hitungan lampu merah yang ke tiga puluh. Kau datang dari balik bilik toko sebelah pasar. Masih aku ingat jelas kau mengenakan kaos barong bali warna ungu kombinasi putih dan celana training biru. Iya, sepertinya begitulah adanya dirimu saat itu. Sederhana dan cantik. Entah mengapa aku terpaku melihatmu. Sempat aku bertanya apakah kau adalah seseorang yang pernah mengisi masa lalu-ku. Tapi aku pastikan kau adalah orang baru. Bukan orang yang baru datang dari masa lalu. Kau cantik. Bagiku sangat cantik. Mata yang teduh itu, ah.
#
Di malam-malam selanjutnya hampir kau selalu ada disaat jam delapan lebih duapuluh. Terkadang hari senin, rabu atau bahkan sabtu malam. Setelah malam yang terakhir disebut aku terka kau belum menemukan pacar atau pujaan hati. Tapi sayang, aku sudah.

Setelah beberapa puluh malam, aku akhirnya hafal apa yang selalu kau pesan. Cuma segelas susu coklat anget. Entah alasan logis apa yang harus aku terima saat kau mencoba membela tindakanmu ini saat nanti – entah kapa kita akan berbicara. Kau selalu memesannya dan kau ambil posisi duduk yang sekiranya berada dalam jangkauan pandanganku. Ah, strategi mu bagus!

Untuk malam itu kau tersenyum pada akhirnya kepadaku setelah kau habiskan susu coklat anget-mu. Malam itu aku gagal tidur sampai subuh. Aku bahagia.
#
Setelah kejadian malam itu aku mencoba untuk mencari dimana kau hidup. Lalu aku temukan alamat yang mungkin seratus persen benar. Kau tinggal beberapa gang jaraknya dari tempat biasa kita bertemu. Aneh kah? Hatiku bertanya saat melihat betapa jauhnya jarak antara warung kucingan ini dan tempat kosmu hanya demi segelas susu coklat anget.

Dua malam setelah itu kuputuskan untuk mengunjungi warung pak Amin lebih terlambat. Jam sembilan lebih tiga puluh. Dan aku bersorak gembira saat kau masih ada disana dengan gelasmu. Kau duduk diseberangku. Gelas, sendok dan nasi ayam bali ini juga terpaku akan waktu. Diam. Malam itu kau tak habiskan susu coklat anget-mu. Langit bergemuruh. Mungkin hujan akan datang lebih awal.
#
Pada malam-malam selanjutnya kau memilih untuk membungkus semuanya. Gorengan, susu coklat, dan hatiku. Berlalu seperti angin. Kau terlalu dingin.
#
Malam itu tepat hari ulang tahunku. Kuputuskan untuk merayakannya sendiri di kucingan pak Amin. Dengan segelas soda gembira-minuma spesial karena hari itu hari yang spesial, serta tak lupa nasi ayam bali dan mie instan telur. Semua terasa hambar. Kurasa karena kau melewatkan hari itu untuk tak datang diacara pesta ulang tahunku. Halilintar menyambar. Tanda akan badai.

Setelah lebih dari sebulan kau tak menampakan diri, aku sampai lupa bagaimana rasanya menikmati nasi ayam bali-ku ini. Tapi beberapa detik setelah detik lampu merah mencapai hijau, diantara celah bayangan lapak-lapak pedagang pasar kau terlihat. Pandanganku berhamburan mencari kebenaran hal itu. Dan memang ternyata itu dirimu. Aku bahagia, gembira. Melebihi rasa manisnya es teh-ku ini.

Diantara para pelanggan yang lain kau seperti mengajakku untuk mengikutimu melalui mata teduhmu. Lalu kau kembali menghilang ditelan gelap. Kukemasi barangku, dan mengejarmu. Ah, seperti itukah seorang perempuan itu?

Dibalik sudut pasar yang terlihat redup itu kau duduk sendirian. Seakan memohon untuk ditemani. Setelah jarak hanya satu langkah kau tiba-tiba menyergapku. Memelukku dengan erat. Kau diam. Tapi aku bisa menerka bahwa ada cinta yang mengalir. Dekapanmu semakin erat sampai aku menahan nafas. Diantara udara yang membisu itu kucoba memecahkannya dengan mengucapkan sesuatu.

“aku juga mencintaimu”.

Kau tetap diam.

Mata kita bertemu. Lalu sekian detik kemudian ada dengus nafas diantara bibir yang beradu. Kau kencangkan lagi dekapanmu, seakan kau tak membiarkan pergi dengan yang lain. Kita berpagutan. Baru kali ini aku mencium seseorang asing. Tapi aku rasa kau bukan seorang asing lagi. Mungkin akunya yang buta tak pernah melihatmu berlalu-lalang dihati.

Diatara dekapan erat, remasan yang menggetarkan jiwa, ada kata-kata cinta. Ada kata sayang. Berulang-ulang.
#
Lalu semua itu hilang ditelan gelap seperti layar TV saat mati lampu. Ku benahi lagi posisi dudukku, diantara para pengunjung yang ramai malam ini kau masih tetap asyik menikmati susu coklat anget –mu duduk diujung sudut kursi terjauh. Entah demi apapun, aku pernah mencintaimu.


Dia seperti genderang malamku
Dia seperti penyejuk malamku
Dia tak kusangka balas pandanganku..

Dia begitu jauh dimataku
Dia begitu jauh di jangkauku
Dia tak kusangka balas senyumanku..

Kami saling pandang tanpa bicara
Sepertinya dia tahu apa dihatiku tertera
Dan waktu saat itu sungguh mengerti aku
Dan dia berlalu tanpa tahu siapa aku..

Aku cukup tahu dia dari sini saja
Aku cukup lihat dia dari sudut sini saja
Dan aku sudah bahagia seperti ini
Dan dia sudah sempurna
(Evo- Aku dan Dia)

12 Juli 2012
Nailal Mustaghfiri
@naelalo
Diantara tumpukan lembar skripsi kutemukan cerita ini, terimakasih untuk Evo atas lagunya..inspiratif.. J
*Dan buat seseorang disana, cinta yang dipendam itu seperti berjalan ke pusat perbelanjaan, hendak membeli sesuatu yang dibutuhkan tapi uangnya tidak mencukupi untuk membelinya.

Jumat, 06 Juli 2012

Bulan, ternyata kau terjebak bingkai jendelaku!!



Bulan masih saja menggantung dilangit, condong di arah timur laut rumahku. Sinarnya menembus tirai-tirai jendela ruang tamu. Membentuk labirin bayangan diantara celah-celah tirai yang terbuka karena angin malam.  Aku masih saja duduk disana, disamping jendela besar yang seperti biasa aku duduki tiap sore, hanya untuk melihat orang lalu lalang didepan rumahku, begitulah alasanku disaat ibu menanyakan mengapa aku selalu duduk disana saban sore. Diatas kursi tanpa sandaran berwarna hijau itu aku biasa menyesali apa yang terjadi. Biasanya aku akan beranjak ke surau ketika adzan maghrib memanggil. Hanya panggilan dari Tuhanlah aku bergerak. Selebihnya mungkin tidak sama sekali. Wajahku terpantul dikaca gelap itu, melihat keluar dengan pandangan yang seakan tak berujung.  Meski hanya melihat pekarangan milikku yang ditumbuhi semak belukar, aku gemar melihatnya setiap sore dengan seksama.

Suara ibu memecah keheningan malam, disentuhnya pundakku dengan lembut, aku tak bergeming, mungkin terlalu asyik dengan pemandangan diluar sana. Ibu menanyakan kenapa sampai larut seperti ini. Aku hanya bisa mengatakan bahwa harus ada yang disalahkan atas semua yang terjadi. Ibu menghela nafas mungkin tanda sudah mulai letih mendengar keluhanku. Tangan halus itu bergerak meninggalkan ku, hampir kulirik melalui ekor mataku, tak sempat.

Harus ada yang disalahkan atas semua ini, pikirku. Sembari membenahkan posisi dudukku aku terus mengulang-ulang kejadian itu berurutan. Pak Lurah yang korupsi dana pembangunan madrasah yang dikepalai oleh bapak,gunjingan yang dialamatkan kepada bapak tentang tindakan bapak yang mencoret-coret lantai masjid,  pak Lurah yang mengambil kawat penyangga tatanan bambu  dipekarangan depan rumah, Yono edan yang minta ijin mengambil beberapa bambu untuk keperluannya, lalu tumpukannya roboh, beberapa hari tidak dihiraukan oleh bapak, dan akhirnya aku membantu bapak memperbaiki tumpukan bambu itu, dan sore harinya bapak masuk rumah sakit karena terserang stroke. Aku terus berfikir. Harus ada yang bertanggung jawab atas semua ini, ketusku.

Ku kutuki diriku sendiri. Mengapa harus terjadi seperti ini, Tuhan mungkin marah dengan ku, dan memberikan ujian seperti ini. Ku pandangi bulan yang masih condong kearah timur laut itu. Andai saja bulan bisa bicara, mungkin dia akan mengatakan bahwa dia malu di lihat secara terus menerus olehku. Bulan, malam ini aku bercerita untuk mu, semoga kau bisa mendengar akan semua ceritaku. Semoga.


Xxx

Hari itu adalah kepulanganku dari kota setelah dua bulan aku menginjakkan kaki dikota untuk kuliah. Sewaktu turun dari bis ku lihat bapak seperti biasa; memakai sarung merah hati dan setelan jas madrasah berwarna abu-abu 80% lengkap dengan peci sulam tiga warna yang biasa bapak pakai setiap mengajar dan hanya pada acara yang menurutnya besar. Tapi pada waktu kelulusanku di SMA bapak tak memakai peci tiga warnanya. Mungkin analisis ku kali ini kurang tepat. Melangkah sepulang dari madrasah bapak terlihat murung. Ku salami beliau, kucium tangannya, aku kangen sungguh sangat kangen dengan beliau. Beliau hanya tersenyum dan mengusap rambutku yang acak-acakan. Bapak menanyakan jam berapa berangkat dari kota, aku hanya tersenyum. Sepulang kuliah mungkin. Aku tak yakin. Terlihat disakunya ada sebuah amplop coklat bertuliskan Departemen Dinas Pendidikan Madrasah.  Perihal: Pemberitahuan dana Bantuan. Ku fikir bapak seharusnya bahagia karena sekolah yang ia perjuangkan selama berpuluh-puluh tahun mendapatkan bantuan dari pemerintah untuk yang pertama kali. Mungkin pemerintah itu sudah membuka matanya untuk rakyat.   Kutanyakan kepada bapak tentang isi surat itu, namun aku segera menyadari pasti ada yang tak beres dengan semuanya. Kulihat air muka bapak. Sekali lagi kulirik. Ini memang tidak beres. Aku beriringan berjalan kerumah dengan bapak. Sore itu aku seperti tercekat untuk menceritakan segala sesuatu yang baru aku alami dikota, bukan saatnya, dan memang belum saatnya untuk bercerita.

Malam harinya, seperti ritual yang biasa dilakukan oleh keluargaku. Makan malam harus diikuti oleh semua anggota keluarga, dan sudah dua bulan ini hanya bapak, kakak perempuan pertamaku  dan ibu yang menjalankan ritual itu. Di waktu itu kami biasa menceritakan apa yang sudah terjadi bersangkutan dengan kami, seperti bapak dengan cerita murid-muridnya yang sangat nakal, ibu dengan cerita kesuksesan si Anto yang sekarang bekerja di luar jawa dan tiap Idul Fitri selalu mudik menggunakan mobil yang berbeda, kakak perempuanku yang selalu menceritakan sosok suami idamannya yang sampai sekarang belum juga ia dapatkan dan terkadang  aku yang bercerita tentang pemerintah, system di Indonesia, serta perilaku para politikus di Negara ini. Untuk yang cerita ku, bapak selalu menyimak dengan hati-hati apa yang aku ucapkan, mungkin baginya aku adalah pembawa berita selayaknya ditelevisi. Sesampainya korupsi di ceritaku yang kesekian kalinya, bapak tertunduk, mungkin perkataanku ada yang menyinggung beliau. Ku hentikan ceritaku, kutanyakan pada bapak apa yang terjadi, beliau hanya menggeleng. Ritual makan malam berakhir dengan hening. Tidak biasa dan sungguh tidak biasa.

Sepulang dari masjid tak sengaja aku menjatuhkan buku-buku milik bapak dirak mejaku.  Setelah aku tinggal di kota, kamar sekaligus perabot sudah menjadi barang milik umum. Siapapun boleh menggunakannya termasuk bapak. Ku buka buku tebal sekaligus besar itu, ku usap sampul depannya yang terlihat lusuh. “data keuangan madrasah”. Judul itu tertulis rapih diatas sampul karton batik parang rusak  berwarna hijau agak gelap. Ku lihat data bulan ini, tidak ada catatan pemasukan, seingatku tadi bapak mendapatkan dana bantuan senilai 10 juta rupiah. Dimana catatan itu. Aku membalik halaman demi halaman. Tapi sampai pada halaman yang kosong aku tak menemukannya. Aku sungguh tak menemukannya. Tampak aneh bagiku. Sungguh aneh.

Suara benda jatuh itu membangunkan bapak, beliau bergegas kekamar, dan mendapatiku sedang membawa buku hijau itu, bapak tertunduk, bapak terlihat bingung. Dengan suara parau bapak menjelaskannya padaku. Ku hanya bisa menghela nafas mendengar bajingan pak Lurah itu yang memakan uang bantuan itu. Bapak adalah tipikal orang yang tidak bisa menceritakan segalanya dihadapan orang lain kecuali keluarganya sendiri. Bapak terkesan acuh bukan karena bapak juga menikmati uang korupsi itu tapi bapak tidak tega melihat anak pak lurah yang gemuk-gemuk itu putus sekolah. Didunia ini baru aku lihat orang yang sangat peduli dengan pendidikan orang lain adalah bapak. Dia bapak nomer satuku. Bapak lebih suka memendam perasaannya sendiri, mengunyahnya sendiri lalu menelan bulat-bulat kenyataan itu. Sering kulihat bapak menangis ketika solat, mungkin karena tekanan dari pak LUrah yang semena-mena. Bapak adalah orang yang jujur, sepeser uangpun bila bukan haknya beliau tidak akan memungutnya meski anak istrinya kelaparan, itu yang aku pelajari dari sikap bapak yang dingin dan kaku. Rahasia itu akan aku simpan hingga suatu saat nanti bila Tuhan mengijinkan aku berbicara kepada kebenaran bahwa bapak sama sekali belum pernah melihat, menyentuh dan menyimpan uang bantuan seperti yang dibicarakan pak Lurah kepada orang-orang. Setelah kejadian itu bapak jadi jarang mengimami masjid sebelah rumah karena para makmumnya tidak mau diimami oleh seorang koruptor. Mereka tidak mau menanggung dosa yang dibuat oleh bapak. Aku ingin teriak dan membeberkan tetapi bapak selalu mengatakan bahwa biar Tuhan yang menunjukan kebenaran.

Xxx

Kulihat bapak sedang memegang kitab mungkin ditangan sebelah kanan, sembari melepaskan kacamata tua yang biasa bapak kenakan ketika sedang membaca bapak memanggilku untuk datang dikamar. Mungkin untuk menonton pertandingan tinju yang bapak sangat digemari bapak, atau mungkin melihat presenter muda cantik yang sedang jalan-jalan keliling dunia. Bapak selalu bercerita tentang pengalamannya mengembara sewaktu masih bujang. Ujung kulon, pelabuhan ratu, bayan, medan, samosir, sampai sabang bapak pernah menginjakkan kakinya disana, sekaligus mungkin membuang kotoran. Bukan untuk bersenang-senang kata bapak, untuk mencari jati diri dengan bepergian tanpa uang saku apapun. Pernah bapak cerita ketika beliau di Nusa tenggara Timur sewaktu masih baru saja merdeka dengan ibu kota Dili, bapak harus membayar dengan baju yang ia kenakan. Lalu bagaimana bapak menutupi auratnya? Hal yang pertama aku lontarkan kepada bapak, bapak hanya tersenyum. Kata beliau dulu terpaksa memakai pelepah pisang selama dua hari hidup di Dili, lalu bertemu dengan petani tua yang merasa iba dengan bapak, lalu diberikan baju olehnya dua pasang. Dan tak disangka baju yang ia kenakan menarik perhatian wisatawan asing yang tengah berkunjung, lalu ditawarlah baju pemberian dengan harga mahal. Itulah alasannya kenapa bapak bisa sampai pulang ke jawa lagi dengan selamat. Dan karena itulah bapak berhenti mengembara karena sudah menemukan jawaban kegundahan hatinya. Semua yang terjadi adalah kehendak Tuhan. Ternyata bukan untuk bercerita bapak kali ini memanggilku. Beliau beranjak dari kursi, mengajakku kegudang untuk mengambil kaleng cat dan spons serta cetakan garis lurus terbuat dari kertas manila putih kotor karena usang. Bapak menyuruhku untuk membawanya ke masjid samping rumah, yang hanya berjarak 10 meter. Lima menit kemudian bapak masuk didalam masjid dan mulai mengukur bayangan matahari. Diambilnya sudut 90 derajat untuk setiap satu baris atau shaf dalam ukuran orang biasa shalat. Begitu seterusnya sampai kebelakang. Bapak menyuruhku untuk membuka kaleng cat yang bewarna hijau. Entah apa alasan bapak mengambil  warna itu. Mungkin menurut bapak Tuhan menyukai warna hijau seperti Rasul Muhammad, yang kata para ulama ketika tiap barjanzi selalu hadir dan duduk diatas pintu rumah dengan berpakaian warna hijau. Entahlah. Mungkin hanya terlihat lebih cocok untuk urusan masjid, agama dan kepercayaan agamaku. Waktu itu pukul 15.45 sore. Bapak sudah setahun menunggu kesempatan ini. Kata beliau hanya pada dua  waktu pada tahun ini yang tepat untuk mencocokan arah kiblat. Ternyata masjid yang sudah berpuluh-puluh tahun, mungkin sudah satu abad, yang biasa tempat aku bersujud berharap mendapat ridho dari Tuhan salah arah, melenceng sekitar 4 derajat ke arah utara. Kalau ini dihitung sampai kota suci mekah sana sudah berbelok arah sampai ribuan kilometer. Bukan menuju mekah tapi mungkin sampai di kalkuta india. Aku baru sadar setelah bapak menunaikan solat asyar sendirian karena seperti biasa orang-orang didesa ku kalau sore jarang yang berkegiatan diluar, meski untuk menunaikan solat asyar. Aku solat dirumah saja karena bajuku dan tanganku tak layak mendapatkan karunia Tuhan. Aku malu bila berpakaian kotor seperti itu, batinku.
 
Kumandan adzan maghrib itu mengantarkan aku beranjak dari kursi hijau dekat jendela ruang tamu, aku bergegas mengambil air suci, berbenah lalu kemudian menuju masjid yang tadi sore baru saja aku cat dengan warna kesayangan Rasul Muhammad.  Kulihat kamar bapak sudah kosong, mungkin bapak sudah berangkat dahulu. Dan memang ternyata sudah, terlihat dari posisi buku yang tadi sore bapak baca tertata rapi dan televisi yang dalam keadaan mati, serta dari sandal yang biasa bapak kenakan sudah hilang lenyap ditelan suara adzan itu. Sungguh begitu kagetnya aku ketika mendapati bapak tengah dikerumuni orang-orang yang hendak solat. Bapak seakan hilang diantara orang-orang itu. Suasana ricuh dan terlihat dibalik tirai shaf putri, ibu mengusap matanya dengan mukena lusuhnya. Ada apa gerangan? Kuraih badan-badan yang menutupi bapak, menyela maju kedepan lalu mendapati bapak tengah dengan suara lantang menjawab serat menerangkan apa yang beliau lalukan terhadap masjid yang sudah berumur ratusan tahun itu. Aku bisa paham mengapa orang marah terhadap apa yang bapak lakukan di masjid tadi sore. Karena itu adalah masjid yang nenek moyang mereka bangun dengan keringat mereka. Bukan nenek moyangku. Keluargaku adalah pendatang, maka apabila melakukan hal yang sudah dianggap kelewatan maka tiada ampun lagi dan maaf untuk keluargaku. Bapak dituduh melakukan pencemaran lingkungan masjid yaitu berupa lantai yang digarisi warna hijau dengan posisi miring ke barat laut. Tidak lurus simetris dengan kubah pengimaman. Kata ta’mir murip ini melanggar kode etik masjid dan melukai perasaan masjid. Waktu itu aku menangis. Takut Tuhan marah atas kelakuan bapak dan aku sendiri mencoret rumah-Nya seperti yang bapak alami terhadap orang-orang kampung.  Solat maghrib kali itu berjalan tanpa mengindahkan garis kiblat yang baru dibuat bapak sore harinya. Dengan bapak yang berada didepan shaf ku, bisa kurasakan bapak menangis sesenggukan. Kulirik tubuhnya yang bergetar, menunduk lalu terdengar suara isak tangis. Aku menangis dan aku yakin satu masjid itu tidak ada yang khusyuk mengerjakan solat. Termasuk aku dan bapak.

xxx

Suatu pagi terlihat pak Lurah merangkak-rangkak dipohon jambu batu yang sengaja aku dan bapak letakkan dibawahnya tumpukan bambu-bambu bekas dari pembangunan masjid kebanggaan desaku. Disana lebih dari seratus bambu yang hampir tak bergerak setiap harinya karena tidak ada yang mau memungutnya untuk dijadikan kayu bakar. Mungkin itu adalah pantangan bagi mereka mengambil barang yang berasal dari masjid. Sungguh terlarang dan  “ora ilok”. Pak lurah masih saja merangkak diatasnya, membawa tang untuk mengambil kawat yang mengendalikan bambu agar tidak menjatuhi orang yang biasa lalu-lalang disekitarnya seperti tetangga sebelah timur pekarangan yang biasa membuat cobek dari batu; pak mus namanya. Beranak dua dan sepertinya hidup bahagia meski tidak berkecukupan. Atau mia bocah kecil berumur 2 tahun yang biasa merengek untuk diambilkan buah jambu yang masih mentah untuk dimainkannya dirumah yang berdinding kayu. Kulihat dari jendela besar ruang tamu, orang itu sepertinya tidak merasa bersalah ketika aku amati dari dalam. Dia memutus kawat-kawat itu dengan serampangan, mungkin tidak ada yang melihat atau mungkin agar tidak ada yang melihat lebih tepatnya. Pak lurah bergegas turun lalu menghilang  dibelokan gang samping masjid, iseng hatiku untuk mengikuti orang itu, gerak-geriknya seperti pencuri ayam kelas  teri. Memang pencuri kelas teri batinku. Ku sekilas melihat kandang ayam yang baru dibuat olehnya teronggok didepan rumah, dan terlihat dia sangat sibuk dengan pekerjaan barunya disamping sebagai kepala desa kampung kami. Ternyata kawat yang baru saja dicuri atau diambil itu untuk memperbaiki kandang ayam karena dia kehabisan paku. Masih saja ada orang seperti dia yang mampu hidup sampai sekarang, setahuku Tuhan telah membinasakan dijaman es bersama dinosaurus berjuta-juta tahun yang lalu.

Tumpukan bambu-bambu itu masih tetap pada posisi  setelah mereka kehilangan kawat-kawat penyangganya beberapa hari yang lalu. Aku masih bersyukur tidak memakan korban. Hingga suara lolongan Yono edan mengganggu ibu dan bapak yang sedang melakukan ritual makan siangnya. Bapak bergegas bangkit dan menanyakan apa maksud yono datang kerumah. Yono terlihat berseri setelah di beri arahan oleh bapak dan mengucapkan terima kasih dan mengangguk-angguk. Yono berlari menuju pekarangan, lalu menarik sebuah bambu, suara retakan bambu itu mulai terdengar, dan secepat kilat roboh dan hampir menimbun yono. Bapak langsung berlari dan tidak menghabiskan makan siangnya. Melihat apa yang telah terjadi bapak tampak berubah wajahnya. Kecut dan pucat. Umur bapak sekitar 62 tahun pada waktu itu. Tersirat kekecewaan dari wajahnya yang tidak bisa ia sembunyikan. Ibu menyusul keluar dan menyebut nama Allah beberapa kali, lalu berkata bahwa tempo hari pak lurah mengambil kawat-kawat yang melilit tumpukan bambu-bambu itu. Tak disangka bapak hanya menunduk dan kembali meneruskan makan siangnya tanpa memerdulikan robohnya tatanan bambu-bambu yang dahulu seminggu ia tata dengan tangannya sendiri. Yono lalu menghilang dengan memikul batangan bambu seperti yang ia harapkan. Menghilang disatu tikungan jalan desa.

Sudah seminggu berlalu kala tumpukan itu berserakan dipekaranganku. Sudah tidak ada yang lalu-lalang melewati pekarangan karena terhalang bambu yang malang melintang tak karuan. Orang yang hendak pergi kepasar harus memutar untuk menuju jalan raya yang berada tepat dibawah pekaranganku. Anak-anak sekolah itu juga terlihat bingung harus lewat mana agar mereka tidak terlambat kesekolah. Pekaranganku adalah jalan tembus yang strategis melewati rimbunnya pohon cengkeh dan jeruk bali yang tiap tahun pasti berbuah. Aku biasa memetiknya setelah waktu buka puasa dibulan ramadhan, sekedar untuk penyegar aku campurkan dengan air limau, irisan mentimun dan es,  minuman yang aku ciptakan sendiri dan ternyata hanya aku yang menikmatinya, tidak ada satupun anggota dari keluargaku yang mau meminum ramuanku itu.

Pagi itu bapak tidak biasanya berpakaian compang-camping, memakai topi merah bertuliskan merek semen ternama di Negara ini serta memakai kaus timnas jerman kala beckenbeur masih Berjaya dilapangan hijau. Beliau mengajakku untuk menata kembali bambu-bambu itu. Aku gusar, sungguh sangat gusar karena kenapa baru sekarang dilakukan. Bapak menolak untuk berkomentar dan meninggalkan aku yang masih asik menonton kartun dihari kamis pagi. Tak lama berselang kususul bapak yang sudah mulai membuat lubang-lubang ditanah untuk menancapkan batangan bambu untuk tiang penahan disetiap sisinya yang berjumlah enam. Empat dipojokan dan dua di samping kiri dan kanan. Ku tancapkan lagi sekuat tenaga bamboo itu dengan harapan suatu saat nanti tidak akan berubah berantakan seperti ini. Seperti halnya manusia yang biasannya hanya belajar dikelas, disaat disuruh untuk mengerjakan hal yang tidak terlalu sesuai dengan apa yang biasa ia kerjakan maka keringat mengucur deras membasahi baju katun ku, bukan anak manja atau bagaimana, aku hanya tak mampu untuk bekerja kasar seperti ini, semenjak kecil aku tak bisa melakukan hal berat selayaknya teman yang lain, selain itu juga aku adalah seorang kidal. Lebih suka menggunakan tangan dan kaki sebelah kiri untuk melakukan segala sesuatunya. Aku mensyukuri semuanya. Ku ambil bambu yang paling besar untuk dijadikan alas, ku letakan melintang hanya dengan tujuan agar bambu yang nantinya akan ditata ulang tidak cepat busuk karena tidak menyentuh tanah yang lembab. Agar suatu saat bila bambu itu dibutuhkan lagi maka tidak akan keropos. Kuangkati semua bambu itu, agar cepat selesai. Adzan dhuhur pun menggema, menandakan matahari tepat berdiri diatas ubun-ubun, dan segera memerintah manusia berTuhan untuk menuju rumah-Nya, ibu menyerukan untuk istrahat, makan siang setelah solat. Tapi bapak langsung mengambil topi semen itu dan kembali mengenakan kostum timnas jerman. Mungkin bapak tak mau dikatakan malas dalam bekerja, batinku bekerja menganalisis semua. Hanya sekitar sepuluh menit hujan mulai menangis seperti ada yang hendak mereka sampaikan lewat tetesannya, aku terlalu bodoh untuk mengetahuinya dahulu, tetesan itu sebenarnya mengatakan untuk beristirahat dahulu, dan bisa dilanjutkan besok menata bambu-bambu itu. Tapi bapak terus melanjutkan hingga hujan semakin deras. Sampai kita tak sanggup meneruskan semua. Bapak harus mengalah kali ini. Kata yang diucapkan bapak sebelum masuk rumah adalah capek. Dan aku baru menyadarinya enam jam kemudian.

Aku merapikan rambut basahku setelah mengguyur badan kurus ini dengan air pegunungan, segar ternyata. Kulihat lagi wajah jelekku, ku pegangi pipi penuh jerawat ini, “Tuhan perbaguslah sifatku, seperti Kau perbaguskan wajahku” doa yang selalu aku ucapkan ketika aku berkaca dimanapun. Mungkin sudah menjadi sebuah nafas dalam kehidupanku ketika melihat kaca akan seperti itu. Rapikan lagi bajuku, melihat jam sedang menunjuk pukul setengah dua siang, tetapi langit sudah hampir sama dengan pukul tujuh malam. Gelap dan hujan. Aku terkadang membenci hujan dengan beberapa alasan. Alasan yang pertama adalah karena hujan datang bersama-sama. Semua orang akan takut menerobos hujan yang kemudian menjadikan semuannya membatalkan kegiatannya. Alasan yang kedua adalah hujan datang bersama petir, dia sengaja mengajak petir untuk turun kebumi bersamaan karena hujan takut apabila sesampainya dibumi ia dimaki-maki penjual es keliling yang menjadikan tidak laku. Aku sangat ridak suka petir karena suaranya. Alasan ketiga adalah hujan mendatangkan teriakan ibu menggelegar seantero rumah. Pasalnya setiap hujan rumahku pasti akan timbul kebocoran disana-sini. Dan kau pasti tahu kepada siapa teriakan itu dialamatkan? Dengan keadaan tergopoh-gopoh aku melenggang membawa baskom-baskom kecil menapaki tetesan air kesana-kemari. Dan alasan yang terakhir adalah bila hujan datang aku tidak akan sempat melihat bidadari itu melewati rumahku. Pasti ia akan dijemput oleh adiknya dengan mengenakan mantel. Dan kau tahu  wajahnya pasti akan tertutupi. Aku sering gusar mendapati hal itu.

Tampaknya hujan kali ini membuatku mengantuk, ku putuskan untuk istirahat siang, melepas lelah setelah semenjak pagi aku menata bambu itu. Siang itu aku bermimpi aneh. Entah kenapa aku melihat wajah orang-orang dimasjid sewaktu maghrib tempo hari, masih mengelilingi bapak dengan sorban belang kotak-kotaknya. Tapi disana banyak sekali orang yang yang tak kukenal, mengapa mereka ada disana? Dimasjid ku? Siapa mereka? Ku coba dekati mereka itu, ketika hendak menyentuh mereka pun hilang seperti debu. Ku hampiri satu per satu tapi tidak ada yang nyata. Sentuhan ibu membangunkanku dari tidur. Dengan memakai baju daster ibu membangunkanku dengan nada bingung. Bapak dalam keadaan mengigau dilantai tengah setelah menulis ijazah para muridnya.  

Tuhan..!! apalagi yang aku alami, bapak bergumam tak jelas dilantai ruang tengah sembari memegangi bahu sebelah kanan. Aku panic, sangat panik. Begitupun ibu. Bapak lalu tak sadarkan diri. Ku papah badan bapak yang ternyata berat. Baru aku rasakan mengangkat badan orang yang mengalami serangan stroke ini. Ku baringkan disofa tempat bapak duduk mengerjakan penulisan ijazah madrasah untuk anak didiknya. Ku tanya ibu, apa bapak tidak istirahat semenjak dzuhur? Ibu hanya menggeleng. Baru kali ini bapak momor satu seduniaku jatuh roboh di lantai. Dan aku yang membantu untuk berdiri. Aku istighfar. Kembali istighfar melihat keadaan bapak yang semakin buruk. Orang-orang mulai berdatangan. Melihat apa yang terjadi. Di desa wajar apabila kabar akan menyeruak secara cepat. Dengan kecepatan evdo kabar bapak jatuh dilantai segera sampai ditelinga masyarakat. Sebagai tambahan bapak adalah salah satu tokoh agama didesa. Banyak yang datang kerumah untuk menanyakan soal tentang agama. Apabila aku dirumah bapak selalu menanyakan pendapatku tentang masalah keagamaan menurut pandanganku. Ideologiku dan bapak mungkin agak berbeda sedikit. Hampir sama tapi tetap saja beda. Bapak berpandangan  bahwa agama tetap saja sama semenjak nenek moyang, tetapi menurutku agama adalah keyakinan yang bedasarkan zaman. Seperti contoh dizaman nabi makan harus menggunakan tiga jari, bila untuk mengejar sunah rasul, tetapi sekarang bila menggunakan tiga jadi dan ini diterapkan di Indonesia maka semuanya akan hancur. Nasi yang dibuat akan mudah jatuh karena hanya ditopang oleh tiga jari. Aku lebih melihat agama hanya sebuah perhiasan yang boleh dikenakan manusia, tetapi bapak melihatnya sebagai baju yang wajib agar auratnya tidak terlihat.  Oleh karena itu bila terjadi perbedaan pendapat diantara aliran maka menurutku itu adalah hal yang wajar dan lumrah, karena slera orang pasti berbeda. Lagipula Rasul telah bersabda bahwa didalam umatnya akan muncul 72 kelompok. Hal itu sudah diucapkan ribuan tahun yang lalu. Tetapi menurut bapak orang islam yang benar adalah orang yang mengikuti apa yang dikatakan oleh bapak. Itu yang sering mengganggu ritual makan siang atau terkadang makan malamku dengan bapak.

Ku pijati kepala bapak. Hari sudah semakin sore, keadaan bapak semakin memburuk. Bapak sudah tak sadarkan diri setengah jam yang lalu. Ku putuskan untuk memanggil mantri yang kebetulan tetanggaku. Setengah jam berlalu tanpa ada tanda batang hidung si mantri itu. Ku coba telpon berkali-kali, dia bilang masih dalam perjalanan, pada saat itu dia baru saja pulang memeriksa orang yang habis melahirkan. Langit semakin mendung dan gelap. Ku putuskan untuk memanggil dokter lain dikecamatan. Lima menit kemudian dokter itu datang dirumah dan segera merujuknya kerumah sakit umum daerah. Maghrib itu pula bapak dilarikan ke rumah sakit dengan jangka waktu terabaikan sekitar 2 jam hanya untuk menunggu mantri sialan itu. Isya bapak sudah masuk ICU. Seperempat jam kemudian aku sampai dengan keadaan basah kuyup menerjang hujan dijalanan pantai utara pulau jawa. Mengigil, dan sangat dingin. Begitu pula dengan hati ini. Sangat dingin menghadapi semua. Dingin bukan berarti tegar seperti yang dikatakan penyiar radio suara kemenangan yang biasa mengalun berisik setiap jam 11 malam. Sungguh heran akan kebiasaan bapak mendengarkan siaran radio tersebut, dan sampai sekarang pun aku masih belum bisa menemukan jawabannya. Sesekali ketika aku dirumah, aku akan melintas sekejap didepan bapak yang sedang bersantai dikursi goyang ruangan tengah, sembari terkantuk-kantuk bapak menyimak apa yang dikatakan penyiar tersebut. Dan sebagai catatan bahwa mengapa aku sangat terobsesi dengan penyiar adalah aku ingin suaraku didengar oleh bapak pada jam 10 malam menggantikan acara kidung malam milik radio suara kemenangan.

Aku bergegas menuju lorong-lorong panjang sebuah rumah sakit daerah di kota kabupaten. Lumayan untuk fasilitas. Tidak terlalu buruk bagiku. Terburu aku berjalan menuju ruang ICU tempat bapak sementara ini dirawat. Aroma obat-obatan dan infuse tersebar kemana-mana. Sedikit mual mungkin tapi akan aku tahan. Karena menurutku aku akan tinggal disini agak lama. Nampak disudut-sudut lorong keluarga-keluarga yang sedang berkumpul dan bercakap sembari menunggui anggota keluarga yang sedang sakit. Mereka terlihat biasa saja dan terima apa adanya. Bisa kah aku seperti itu? Melihat bapak yang tadi sore tak bergerak saja rasanya dunia ini runtuh seketika, apalagi melihat bapak diselang dan ditusuki jarum infuse? Sesungguhnya aku benci pergi ke rumah sakit. Karena aku sangat membenci jarum suntik. Dahulu sewaktu SD aku akan menangis di urutan paling awal ketika ada program kesehatan yang memberikan vaksin anti cacar melalui suntikan. Dan asal kau tahu Bulan, aku selalu paling awal berlari bersembunyi di rumah ketika pak mantri datang untuk memberikan vaksin. Entah kenapa aku juga masih tidak tahu.

XXX

Bulan, masihkah kau mendengar cerita-ceritaku? Maaf telah menjebakmu untuk malam ini. Aku hanya bingung kepada siapa harus menceritakan semua. Tentang pak lurah yang entah kapan akan tobat, tentang arah kiblat masjid kebanggaan desa yang sekarang berubah. Bulan, tahukah kalau semua yang bapak lakukan adalah benar? Paling tidak untukku. Bagiku beliau benar dan sungguh benar? Tapi mengapa Tuhan mu mengujinya dengan seperti itu?
Biarkan orang-orang diluaran sana bertanya-tanya kenapa bulan masih saja diam di timur laut jendela besarku. Biarkan saja orang-orang desa itu mencemoohku dengan kata-kata kasar, karena aku layak mendapatkannya. Aku tidak menyalahkan mu bila engkau tidak akan beranjak dari jendela besarku ini. Selalu menungguiku disetiap aku termenung dijendela besarku, selalu mendiamkan semua ucapan orang-orang desa terhadapku dan kamu. Aku senang ternyata sejak saat aku bercerita kau tampak selalu hadir dijendelaku, menungguku untuk bercerita. Dan sungguh ajaib saat kau menurunkan hujan pertanda kau sedih mendengar cerita-ceritaku.
Aku hanya minta maaf bila kau terjebak dibingkai jendelaku selamanya!!

Semarang, 25th april 2011
 kamar kos.
Nailal Mustaghfiri
Hadiah untuk bulan..
Selamat ulang tahun ya.. ^^

Selasa, 29 Mei 2012

Rasa itu Maya..!!


Maya, dalam potongan – potongan sajak tertentu, adalah sebuah bayangan oasis ditengah gurun bagi kerongkongan kering para pedagang Gujarat yang tengah melewati sahara. Dan di sajak – sajak yang lain, dia adalah kunang-kunang yang behamburan disaat hujan sore telah berpulang di ujung senja. Beterbangan diantara sela-sela teralis kayu depan rumah. Hinggap dari satu titik ke titik yang lain dengan pancaran sinar yang redup, tapi mengesankan.sebuah keindahan yang sekali lagi hanya bisa ditandingi oleh seorang malaikat. Because you’re an angel.

Dalam frase yang lain lagi, Maya adalah sebuah danau. Ah, bukan. Terlalu kecil. Lautan atau samudra? Samudra lebih tepat mungkin. Seorang yang menerima segalanya. Dan disini, aku berdiri. Dengan bekal cinta yang bergemuruh dalam dada, selalu ingin berenang meski – jujur; aku tak bisa berenang. Ingin aku sampai ditengah samudra itu, sampai ditengah. Sampai tidak ada ombak bergulung-gulung tinggi lagi, tidak ada sekoci ataupun kapal nelayan yang mengais ikan, atau ikan paus. Hanya ada aku, langit, dan dia – Maya. Dan pada saat itulah tidak akan lagi aku memerlukan janji – janji indah!

Lembaran lainpun terbuka. Pada halaman ini Maya berbeda lagi. Ia adalah seekor burung merpati yang lincah beterbangan kesana kemari. Tak satupun anak panah pun yang bisa menghentikan kepakan sayapnya yang begitu anggun dan menggemaskan. Dan perjuanganku menjadi perjuangan yang panjang dan sangat melelahkan – meski hanya untuk seekor merpati. Namun, bukan Maya yang aku cinta namanya kalau dengan mudah didapatkan. Disaat aku berada dititik terendah – berkali-kali aku merasakannya, seperti putus asa – dia muncul dengan tiba-tiba dan menggoda. Semangatku naik lagi. 100 %.

Kuterbangkan lagi anak panahku. Sepuluh ribu anak panah: satu menancap di ranting pohon cemara. Dan Sembilan ribu Sembilan ratus Sembilan puluh sembilannya berhamburan memanah angin. Paling tidak aku punya satu sasaran – ranting pohon. Maya lalu menjadi apapun, selain pujaan hatiku.

“ I know that you love me, I know…”. Katanya suatu saat ketika disebuah gurun. Kering, tak berair. Suara itu terucap diantara kaktus yang berisik. Pasir yang mendesir. “look at my eyes, I love you too…God damn, I love you so bad…”.“come, please come here. Swim right now into me..”. katanya disaat menjadi danau. Aih, bukan. Samudra. Hendak ku ucapkan sesuatu. Jemarinya yang lentik lebih cepat menutup bibirku. “I will teach you how to swim into me…”.

catch me, make a trap for me..”. bisikan Maya di episode yang lain. Disaat menjadi kunang-kunang atau merpati dengan kepakan sayapnya. Sanggat mengagumkan. Nyaris tanpa cedera. “sudah takdirku dikejar, dan kau mengejar. Perburuan adalah nilai cinta yang paling kekal…”.
###
Saat malam tiba, sembari menunggu ayam tetangga berkokok dipagi hari. Ku biarkan diriku dilihat oleh ratusan pasang mata Maya yang tertempel di dinding yang hampir penuh olehnya. Setiap senja turun. Aku ingin dia tahu bahwa aku sangat mencintainya penuh. Tak kurang, tanpa ada cacat sedikitpun, ku biarkan rasa minderku, agar dia tahu dan paham lalu kemudian menerima aku selayaknya adaku.

Jujur, aku tak pernah menduga sejenak pun, bahwa jatuh cinta itu ternyata tidak hanya menghabiskan kue bandung – kesukaanmu, menghabiskan obat nyamuk bakar yang tiap malam menemaniku memikirkanmu, tetapi seluruh waktu, seluruh hati, seluruh pikiran dan seluruh hidup!
Aku memang makan, minum dan melakukan kegiatan yang lain dan karena itu aku tahu dan aku masih layaknya manusia.

Tetapi Maya itu lebih penting ketimbang semua itu. Seorang perempuan bersuara merdu, manis yang mendayu membuai hati. Hati siapa saja,paling tidak aku dan monyet-monyetnya seperti dalam frase-ku yang lain.

Andai aku adalah seorang penulis lagu, pasti sudah ribuan, atau bahkan jutaan buah lagu yang aku ciptakan hanya tentang Maya. Tapi Tuhan selalu bertindak dengan segala keindahan-Nya. Dia hanya memberikan aku waktu, perasaan, pikiran dan beratus-ratus obat nyamuk bakar – yang menemaniku disaat aku memikirkanmu – yang semakin lama menyesakkan dada.

Setulusnya, aku tak mempunyai daya pikat dan rayuan untuk menarik Maya kedalam pelukanku. Semua pergerakanku selama ini lebih pas dikatakan sebagai babi hutan ketimbang pemburu yang memiliki sekian pertimbangan sebelum melesatkan anak panah. Apakah sudah saatnya aku menuntut Tuhan? Belum. Aku rasa belum saatnya sebab kemarin sebelum hujan turun, dia memberikan senyum termanis hanya untukku seorang. Kau tahu kawan? Wajahnya itu, wuih!

Jadi, aku kemasi dan merapikan lagi perbekalanku dihati, dan agar aku tak tergesa-gesa melibatkan Tuhan dalam urusan manusia paling primitif ini. Toh maya juga tampaknya tidak memperdulikan semua ini. Maya bergerak mengepakkan sayapnya karena memang harus tetap bergerak, dan tersenyum karena sudah saatnya tersenyum. Bukan berlari karena diburu.

Aku ingin bertemu Maya. Tidak di gurun sahara, atau danau Toba, ataupun dalam bentuk yang lain. Aku ingin dan sangat ingin bertemu M.A.Y.A. inginku keluarkan semua dari palung terdalam hatiku tentangnya. Senang tak senang, mau tak mau. Harus. Aku sudah terlalu lama menyimpanya dan membiarkan asa ini meremukkan semua tulang-tulang harapanku. Kini sudah saatnya untuk menemukan Maya dalam wujud aslinya.
###
Dituliskan aku berada ditengah padang rumput ilalang disore hari, dengan angin sepoi menggoyangkan ilalang disekitar. Hanya ada aku dan kau serta ilalang ini tentunya.  Mereka serentak mendayu karena tertiup angin. Dingin. Jantungku berdetak kencang. Andai saja aku bisa mengambil jarak dari diriku sekarang ini, pasti ini adalah lukisan terindah dihidupku.

“sok imut”.

Aku tergagap. Berusaha tersenyum namun gagal. Aku malah tertunduk dan cemberut. Dia tertawa.

“kau tak pernah mencintaiku. Kau hanya mencintai dirimu sendiri. Aku hanya sasaran sesaat, hanya seperti pematang menuju sawah diujung desa. Pertemuan ini, meski sungguh terjadi, namun tak pernah nyata.”

Aku sekali lagi terkesiap dan berdecak kagum. Bukan karena bahasa asing planetmu yang telah membingungkanmu. Melainkan rambut lurusmu yang terbang, wajah manis mu yang tertiup angin sehingga tampak begitu asing bagiku.

Pada detik selanjutnya, wajah itu berubah: bukan lagi Maya. Dia terlihat seperti fitri tropica. Juga seperti penyanyi yang sedang naik daun – agnes monica. Atau malah lebih mirip bu Sum – penjual nasi pecel gendongan yang setiap mulai jam 6 pagi sudah mangkal didepan rumah, di perempatan depan rumah. Tidak, tidak. Dia lebih mirip mbok jatun penjual jamu gendong. Atau paling tidak dia seperti siti yang selalu melihatku dengan tatapan yang menusuk dikala aku melewati depan rumahnya meski hanya untuk sekedar memebeli nasi penyet.

Lalu, dimana Maya? Aku cari di pasar, di bis-bis kota yang hilir mudik, di mal dan plasa – tempat biasa kita membeli Mc. Flurry berdua, di gedung kesenian kota – yang lebih berubah menjadi tempat tak terurus di kota ini dan gedung bioskop terutama studio 3 – yang kau sukai.

Ku cari di lorong-lorong kota, di kereta bawah tanah, kapel-kapel gereja yang berdiri dengan tegas. Dan aku cari di buku-buku, Koran, majalah, radio dan televisi. Semuanya nihil. Dia menghilang sekejap. Lenyap ditelan frekuensi radio yang naik turun. Meredup lalu gelap seperti gambar di layar televisi tertelan pekat. Musnah!

Aku kelimpungan. Benar-benar kelimpungan. Sungguh sangat benar ingin menyalahkan siapa saja. Atau terlebih apa saja. Bagaimana mungkin Maya yang sebegitu dekatnya denganku. Seperti gigi dan gusi itu bisa menguap tak tersisa? Atau, jangan-jangan dia memang sebenarnya tidak pernah ada? Dia ada karena aku sangat menginginkannya. Tapi siapa yang membisikkan kata “sok imut” ke telingaku lalu tertawa? Maya. Siapa lagi kalau bukan dia?

Semua diam.

Hening.

Tidak ada yang bisa kulakukan selain mencintainya. Buta tak buta sama saja karena cinta enggan menyimpan justa. Meskipun Maya, perempuan yang ditakdirkan menjadi kekasih imajinasiku itu begitu tak tersentuh. Jauh. Lalu ku biarkan saja dia menjadi bayangan yang membuntutiku kemana saja aku pergi, walau menangkapnya adalah satu kata dalam bentuk lain dari sia-sia.

Nailal Mustaghfiri 
@naelalo

18 januari 2012 Trengguli 1 no. 29
Terimakasih buat: abang Budi Maryono atas Cerpennya :)

--cinta yang dipendam itu seperti komidi putar, seakan berjalan, tetapi sebenarnya tidak kemana-mana—Raditya Dika.

Minggu, 15 Januari 2012

Hujan Separuh Dansa

In your majesty, you create differences
In my arrogance, I question your wisdom
In your misery, you create temptation
In my inferiority, you make me more than I am
So, here I am…
###
… jadi seperti ini rasanya? Dalam hati ku menanyakan pada hujan. Semakin deras ternyata hujan menjawabnya. Tuhan tahu apa yang harus terjadi diantara kita. Diantara dengusan nafas kita yang berdekatan. Sampai aku bisa mendengar detak jantungmu. Saat ini. Tuhan sedang menunjukan cinta sebenarnya padaku. Saat ini.
Ku rengkuh jemarimu, memegang erat dan tak ingin melepaskannya. Aku sangat menikmati ditiap detiknya. Kupejamkan mataku, merasakan tiap detail garis-garis tanganmu. Mungkin kau hanya bisa tertegun melihatku seperti ini. Tapi aku sangat bahagia. Sungguh, detik-detik ini tidak akan bisa aku lupakan. Terlalu susah.
Ku condongkan kepalaku mendekatimu, sempat kau bergerak mundur. Heran dengan apa yang sedang terjadi. Aku berhenti sesaat. Ku remas lembut tanganmu lalu kita berpagutan untuk waktu yang lama. Di sini, diruangan ini. Aku bisa memilikimu. Sekarang aku bisa memilikimu. Dalam tiap nafas bibirku bergetar saat  mengecupmu. Ternyata bukan setan aku menciummu. Memang cinta yang sedang merasuki tubuhku. Semoga kau merasakan. Selalu. Diluaran sana, hujan masih separuh dansa menggantung di teras.
###
Tatapan matamu aneh. Itulah yang terlintas saat kita berdansa disana. Hanya kita berdua, meski belum mengenal satu sama lain. Tapi aku tahu ada sesuatu yang tumbuh diantara kita. Maaf, mungkin hanya aku. Aku gemetaran, kau pun ku rasa juga bergetar. Diluar sana hujan turun dengan derasnya, menyaksikan kita sedang berdansa. Syahdu.
Dari situlah aku mengenalmu, mengenal sesosok bidadari yang ternyata memang benar-benar nyata adanya didunia ini. Tuhan dengan angkuh menunjukan padaku. Itulah dirimu.
Kucintai dirimu sejak aku bertatapan denganmu. Mata yang selalu saja ceria. Mata yang selalu saja menyimpan sejuta rahasia.  Dan semenjak itu, bayanganmu selalu muncul ditiap rintik hujan yang turun tiap sore, diteras. Banyak orang yang akan menikmati hujan disore hari dengan segelas teh hangat, cemilan dan rokok. Tapi, bagiku, membayangkanmu berdansa diantara rintik hujan yang turun saja sudah sangat bahagia. Berjinjit-jintit mengikuti alunan nada dari hujan, ritmik. Ku rengkuh tubuhmu, berputar-putar, dan mata kita saling bertatapan. Aku ingin memiliki dirimu sepenuhnya – batinku berucap. Terkadang kamu hanya memandang aneh ketika aku melihatmu dengan nada yang mungkin sedikit berbeda. Itulah yang coba aku katakan padamu. Aku ingin memiliki dirimu sepenuhnya.
Semua kembali sirna, rasa ingin memilikimu, rasa mencintaimu sedikit terluka disaat aku ingat kembali bahwa ada seseorang yang sudah memilikimu. Perasaan bahagia itu seketika runtuh, hancur porak-poranda. Kilat menyambar. Langit berteriak keras. Ku genggam tanganmu semakin erat. Ada amarah yang lewat di nadi-nadi tanganku. Aku kirimkan sinyal-sinyal itu agar kau tahu bagaimana rasanya menjadi aku. Diantara dansa itu ada setetes kebahagiaan yang ada. Meski akan menguap disaat matahari kembali terbit.
Terkadang, kutanyakan pada hujan yang kembali deras disore hari. Semua rasa ini apakah benar dan tepat untukku? Hujan sekejap mereda, lalu bergemuruh. Lalu aku kembali berdansa dengan mu. Berputar kembali mengikuti waktu. Dan disaat bulan hadir dipojokan teras kita akan berpisah. Ada sedu sedan yang melanda untuk saat-saat seperti itu. Kucintai dirimu, cantik.
###
“kau bahagia?”

Ku tanyakan padamu disaat kita sedang beristirahat. Duduk bersila saling berhadapan. Saling beradu tatapan mata. Aku berharap waktu terkena serangan lumpuh. Agar tak beranjak kemana-mana. Ku pegang tanganmu. Dan sekali lagi ku tanyakan padamu disela rintik gerimis sore di kota ini. Berjingkrak-jingkrak diatas aspal.

“apakah kau bahagia?”

Kau hanya mengangguk. Lalu menebar senyum kepadaku. Aku berdebar. Dan kamu mengucapkan sepatah kata yang paling tidak mampu menjinakkan jantungku untuk sesaat.

“iya.”

Lalu diruangan itu, kudekatkan tubuhmu. Semakin mendekat lalu menarik dirimu jatuh dibibirku. Kita saling mengisi. Diantara helaan nafas panjang. Aku tak ingin kau pergi. Sungguh aku mencintaimu. Diluaran sana hujan sudah reda. Hanya saja angin masuk kedalam ruangan, kita saling berdekapan. Saling melindungi dari angin. Disaat-saat seperti ini aku bisa memilikimu. Saat seperti ini, disaat orang yang memilikimu itu sedang jauh. Aku bisa memilikimu. Sesaat.
Di nun jauh sana, terkadang aku berfikir, monyetmu bila mengetahui semua ini pasti akan sangat murka. Dan bila diminta untuk memilih aku lebih memilih bertemu dengan hantu dari pada lihat kamu bergandengan dengan monyetmu. Atau terkena bogem setengah mentah dari monyetmu.  Sumpah.

###

Suatu waktu, hujan masih menggantung dilangit, disudut barat jauh. Belum berencana untuk turun aku rasa. Dan kita masih saja berdansa, berputar mengitari ubin-ubin semu kuning yang semakin lusuh. Disinilah kita mendapatkan cinta itu. Diantara tiang-tiang sanggar yang mempertemukan kita. Tempat dimana Tuhan menurunkan bidadari beserta monyetnya. Aku tak butuh monyet, aku hanya butuh bidadarinya. Dan itu kamu.
Di sela-sela pembicaraan dan dansa kita. Kau bergumam. Menerobos diantara tarian berputar yang kita buat sendiri. Kau dan aku. Aku dan kau. Cinta membuat kita sama, tapi berbeda. Cinta yang menyatukan perbedaan diantara kita. Lewat sorot mata itu aku luluh. Lewat senyum tipis itu aku remuk redam. Kamu buatku jatuh cinta.
Hujan turun juga akhirnya.
Angin menerobos masuk melalui celah-celah jendela. Mengalahkan mesin penyejuk udara ruangan ini. Tanpa disadari kita semakin berdekatan.

“kamu cantik”.

Bisikku pelan, sekaligus mengingatkan mu agar tetap dalam posisi yang ideal dalam berdansa. Kamu lalu membenahi posisimu. Kau tersenyum saja. Lalu ku balas dengan senyuman. Diluar hujan semakin deras untuk berdansa diantara genting-genting. Bersuka ria karena ada cinta ditiap tetesnya.
###
Hujan kembali turun, tapi kali ini bergandengan dengan gemuruh.
Resahku ini kembali muncul. Menyeriap masuk dalam nadi tangan yang sedang memegang erat tanganmu. Matamu lalu bergerak masuk kemataku. Kamu menanyakan sesuatu padaku.

“kenapa?”

Aku hanya tersenyum. Ada kekhawatiran yang harus dikubur hidup-hidup sore itu. Diluar sana. Gemuruh semakin ramai.


###
“aku tak menyuruhmu untuk pergi, bila kau sudah menemukan yang lain, maka pergilah.”

Suara parau darimu yang sangat menyayat. Jadi seperti inikah yang aku rasakan sebagai balasan cintaku padamu? – batinku meronta hebat. Ku coba pegangi dengan tangan kiriku, lalu kupejamkan sebentar. Disela-sela nafasku ada badai yang menggelegar. Memang benar aku tak bisa membuatmu menjadi ratu dihatiku.

“apa karena monyetmu?”

Hujan kembali turun, kini dengan ritmik yang sendu. Tanpa angin, tanpa gemuruh. Hanya hujan. Tak lebih.
Kamu hanya tertunduk. Lelah mungkin yang kamu rasakan. Ku coba untuk tanyakan lagi.
“monyetmu?”
Kau diam.
Aku juga diam.
Ada sesuatu yang terjatuh disana. Disela-sela dansa yang kita tarikan setiap sore. Terinjak diantara kaki-kaki kita yang mengalun pelan seirama nada hujan. Belakangan baru aku sadar bahwa itu adalah hati. Sepotong hati.
Perlahan. Beranjak dari hujan-hujan selanjutnya genggaman tanganmu saat kita dansa menjadi renggang. Tak kuasa aku menggenggamnya lagi. Dan rasannya untuk menahanmu sedetik saja tidak bisa. Senja pun tiba diruangan tempat biasa kita berdansa. Kamu berpamitan. Tanpa isyarat mata seperti biasa ataupun genggaman erat tangan. Tidak. Sama sekali tidak.
Memang harus ada yang kalah dan yang menang. Ritmik hujan masih menggantung diatap teras, berduyung-duyung turun ke selokan. Bersamaan itu pula ku coba hanyutkan perasaan ini. Jatuh bersama sampah dikali sebelah rumah. Terus menuju lautan. Mengambang disana akhirnya. Terapung. Tak bertujuan.

###
Sekarang, dirimu. Entah dimana. Masihkah ingat akan gerakan dansa yang biasa kita latih ditiap sore? – kutanyakan padamu selalu lewat angin yang menelisik diantara sela bajuku.
Disini, diruangan ini, aku masih melatih gerakan tarian dansa kita. Aku dan bayanganmu. Hanya bayanganmu. Yang entah kapan akan menjelma sosok tubuhmu yang asli. Dalam semua gerakan dansa ku selalu ku tunggu dirimu disini. Diatas ubin semu kekuningan ini. Dengan memakai jas dan pantofel yang dulu selalu kau katakan padaku – aku suka dengan bajumu. Sering ku gambari jemariku dengan wajah tangisku. Agar semua orang tahu ada aku yang sedang menunggu kekasihnya pulang.
Terkadang, malam sudah larut. Ibu menyuruhku untuk menyelesaikan latihanku. Lalu menuntunku kembali masuk kamar. Sesekali ibu bertanya kepadaku;

“masihkah kau percaya bahwa dia akan kembali?”

Aku lalu menatap dalam mata ibuku. Mengangguk. Itulah jawabanku.

“bu, mungkin aku akan mendadak terkenal, karena menjadi seorang pria yang selalu berdansa dengan bayangan disaat hujan, tapi yang jelas, disaat dia berubah pikiran kelak, tempat inilah yang pertama kali dia tuju, maka aku harus menunggunya disini dengan setelan jas dan pantofel ini.”

Bunyi lonceng berbunyi. Menandakan jam besuk dirumah sakit ini sudah berakhir. Tiang-tiang penyangga lorong-lorong menuntun ibu menuju gerbang keluar. Dan aku masih saja berdansa.bahagia. Diteras, hujan masih separuh dansa dengan ku.







Nailal mustaghfiri
@naelalo
15 januari 2012
Trengguli 1 no.29
Semoga kau bahagia dengan “monyet” mu.. J

Sabtu, 07 Januari 2012

Sepucuk cinta dariku

Kau yang tercinta,
Maaf bila surat ini mengusik hari-harimu, aku hanya tak tahu harus bagaimana melakukannya. Dalam tiap lembaran surat ini aku sertakan potongan cinta yang sejak dulu aku simpan untuk mu. Maaf, terkadang aku tak punya waktu untuk memberikannya. Mungkin lebih tepatnya tidak menyempatkan. Kau terburu pergi, maka aku kirimkan saja dengan surat ini. Cinta itu sudah tak betah dihati ku. Ia ingin kembali kepada majikannya.
Cinta itu aku bungkus rapat agar tetap segar seperti sewaktu aku kirimkan kepada pak pos. ada raut heran dimata pak pos kala aku datang dengan kotak besar yang aku bawa didepan dada, terhuyung menuju meja resepsionis, beliau langsung mengatakan “apa ini?” cinta pak, jawabku.  Pak pos itu tidak percaya kalau cinta bisa dikirimkan lewat pos. aku selalu percaya. Apakah kau mempercayaiku?
Ketokan stempel pos sudah ada dikotak ini, yang berarti barangnya sudah siap dikirim kepadamu. Kabari aku segera bila kau sudah selesai membaca surat ini dan mengambil cinta dalam kotak itu. Di sini aku pasti akan sangat lega.
Seperti senja di pantai yang dulu kita habiskan waktu bersama, begitulah rupa cinta yang aku kirim kepadamu, semoga masih lengkap dengan buih-buih ombak yang hilir mudik, dengan karang yang kau ambil – untuk dijadikan kalung katamu, aku hanya tersenyum melihatmu seperti anak kecil, bermain pasir pantai yang putih, masihkah rupa cinta yang sudah kau terima dengan apa yang sudah aku gambarkan tadi?
Pasti kau heran bagaimana bisa aku berkirim kepadamu sepotong cinta, maka akan aku ceritakan padamu bagaimana aku mengirimkan cinta itu padamu kembali.
Sore itu hujan, seperti yang dulu sering aku ceritakan padamu kalau disini hujan turun seperti gadis pemalu yang bejingkrak-jingkrak berlompatan diatas jalan, selalu riang diatas trotoar, jalan, atap rumah, pohon yang menjadikan semuanya gembira menari bersama. Hari itu aku baru pulang dari tempatku mencari uang, melepaskan mantel yang basah, mengkibas-kibaskan lalu menggantungnya di dinding, lalu berjalan menuju ruang tengah. Melihat hujan yang selalu riang itu mengingatkanku padamu. Wajah manis yang selalu riang. Tiba-tiba petir menyambar, tepat di depan rumah, lalu aku ingat sesuatu.  Masih ada yang tertinggal dihati hanya untukmu.
Seperti biasa, apabila hujan aku selalu menyukai duduk didekat jendela ruang tengah, melihat rintik air yang jatuh, melihat tempias air yang bercipratan kesana-kemari. Mengedarkan pandangan keluar jendela, jauh disana. Lalu ada yang berontak dihati. Lalu ku ingat dirimu. “akan aku kirimkan itu untukmu.”
Hujan sudah redam. Menyisakan genangan-genangan kecil disana-sini. Aku beranjak menuju dapur. Mencari sebilah pisau. Tapi tak kunjung aku temui teman pisauku. Lalu aku mengalihkan pandangan pada sebuah silet yang tergeletak di atas pintu. Ku coba mengambilnya, tapi sudah berkarat. Kurasa kau tak akan menerima cinta yang sudah berkarat. Aku tidak mengambilnya. Didalam sini, ada yang bergejolak, ku redam dengan tangan kiriku, mencoba untuk menenangkan. Didapur hanya ada sebuah sendok. Apa boleh buat, mungkin sendok itu akan berguna.
Lalu aku kembali keruang tengah. Mencoba mencari sesuatu yang berguna saat itu. Lalu mataku bertabrakan dengan bayangan dicermin. Aku berhenti sejenak. Lalu aku mendapatkan ide gila – yaitu membelah dadaku dengan pecahan kaca. Adakah bekas sayatan kaca dicintamu itu sekarang?
Hujan kembali turun, aku bergegas naik kekamarku. Didalam sana ada sebuah cermin. Tangan kiriku masih memegang sendok dan masih meredam gejolak didadaku. Dengan segera aku hantamkan tangan kananku ke arah cermin, darah segar mengucur dari jemariku. Sangat aneh. Tidak ada rasa sakit sedikitpun. Sebuah bongkahan cermin jatuh kebawah. Dengan darah yang menetes merah aku pungut cermin itu. Sekilas bayangan wajahmu yang cantik tersenyum, seolah mengatakan – segera pulangkan cintaku!!.
Aku gemetaran. Entah apa yang sedang aku lakukan. Kucoba rapalkan sebaris doa yang biasa bapak ajarkan dulu sewaktu SD, lalu kuhunuskan kedadaku. Teriakanku tertahan di tenggorokan, aku tak mau ada yang mendengarkan ku kesakitan. Aku terhuyung jatuh kelantai. Darah dimana-mana. Cermin itu berhasil menembus dadaku. Aku tersengal-sengal tertunduk dilantai. Dengan segenap tenaga aku tarik keatas cermin itu, membentuk sebuah sayatan panjang. Lalu semuanya mereda, sudah tidak ada lagi gejolak di dada. Semuanya hilang. Kulihat dengan mataku, benar ada sesuatu yang biasa kau sebut cinta didalamnya. Kuambil sendok yang tadi terjatuh dengan tangan kiriku. Kumasukan sendok itu, dan cinta itu terangkat. Sedikit berdetak tapi lebih menyerupai pudding coklat yang biasa kau pesan kala aku mengajakmu makan malam.
Kuletakan cinta itu didalam mangkuk, membersihkannya dengan air lalu aku bungkus dengan plastik. Ku obati dada ini dengan antiseptic, agar cepat kering. Lalu ku berlari turun kebawah mencari kotak yang pas. Tapi aku tidak kunjung menemukan. Lalu hanya ada kardus mie instan, kufikir itu akan sangat berguna pada waktu itu. Dengan bercakdarah dimana-mana aku belah jalanan dengan berlari menuju kantor pos. dan aku yakin kau pasti tahu kelanjutannya. Jadi begitulah ceritanya bagaimana aku bisa mengirimkan sepoting cinta untukmu, maksudku mengembalikannya padamu.
Sudah kah kau menghubungiku meski hanya sekedar memastikan kalau cintamu sudah sampai ditempatmu?
Bersama dengan surat ini, aku sertakan cinta yang dulu aku punya hanya untukmu, cinta yang kau buat dengan sikap manismu, paras cantikmu, sudah aku kembalikan, semoga tidak kau kirim balik kepadaku. Aku sudah sangat menderita menjaganya. Aku harap kau mengetahuinya. Sudah kukerat cinta itu diagonal menjadi seukuran kartu pos, agar lebih murah dalam biayanya, masih utuhkah bentuknya?
Kini, hatiku sudah benar-benar tak lagi berbentuk persegi. Pada masa yang akan datang, orang-orang tua, dokter, ataupun ilmuan akan bercerita kepada anaknya, muridnya atau sekedar topic selingan disaat minum kopi, bahwa dulunya hati manusia berbentuk persegi panjang sempurna, tapi lantas seseorang memotongnya dengan sebilah cermin untuk orang yang sangat dikasihinya karena sebagian hatinya sudah menjadi milik kekasih yang sudah jauh pergi itu.
Kau, yang sudah sangat jauh, terimalah cinta ini hanya untukmu, cinta yang secara tidak langsung kau ambil dari seseorang yang sedari dulu ingin membahagiakanmu. Ku mohon kau akan menerimanya, sudah kukembalikan cinta itu utuh, hati-hati dengan debur ombak, pasir pantai, mie ayam yang pedas, serta hujan pertama yang dulu membuat kau dan aku terperangkap dalam tempat yang sama. Semoga tidak tumpah yang menjadikan banjir. Alasan mengapa aku kembalikan cinta itu karena aku seorang penulis. Dari dulu kau sangat membenci penulis, pengecut katamu. Yang hanya mengungkapkan semuanya dengan kata-kata, padahal kata-kata itu tidak akan merubah segalanya.  Itulah sebabnya kau memilih orang yang bergelar sarjana hukum. Bukan sarjana kesenian.
Dari tempat yang selalu hujan, kukirimkan serta rindu, lengkap dengan peluk, cium yang mesra, meski tidak mungkin.

28 oktober 2011
Nailal mustaghfiri
Semarang, trengguli 1 no.29
Terima kasih buat: seno gumira dan kurnia JR atas inspirasinya.. ^^