Tuhan,bahagiakan dia untukku. Selalu.
Dear Anissa,
Doa itu selalu aku sampaikan ke
Tuhan beribu-ribu kali. Sampai bibirku kelu berucap. Dan kita sama-sama tahu
bahwa – dia – yang ada didalam doaku adalah kamu.Tuhan mungkin bosan
mendengarnya, lalu menuliskannya dibuku – hijau – motif batik bertuliskan
namamu di singgahsana-Nya. Berulang
kali.
Sudah berpuluh, atau mungkin
ratusan surat kukirimkan. Tidakkah kamu menerimanya?. Terkadang aku hanya
mengirimkan sepotong doa dan rindu. Kadang juga sebentuk hati lengkap dengan
perangko burung belibis seharga tiga-ribu-rupiah yang aku beli di kantor pos.
Ah, rasanya ganjil jika setiap
surat-surat tak menanyakan kabar terlebih dahulu dibagian awalnya.
Anissa, kamu apa kabar?
Dia pasti memperlakukanmu bak
putri di jauh sana. Hal yang tak pernah aku lakukan saat
denganmu.
Dulu – sekali.
Aku yang tidak pernah punya kesempatan, dan kamu yang
tak pernah memberikan aku peluang. Lalu seakan aku berpura-pura menyalahkan
dirimu, tapi akhirnya aku yang salah. Tapi, kamu selalu bahagia kan disana? Aku
sedih bila kamu tak bahagia. Itulah sebabnya aku menyembunyikan semua
updates-mu di BBM dan twitter. Aku sengaja membuatmu “diam” di twitter. Demi kebahagiaanmu
dan aku. Karena bahagia adalah alasan buatmu tak memilihku. Jangan tanyakan
padaku. Karena kamu sudah tahu jawabannya. pastinya.
Aku bersyukur saat Tuhan
memperbolehkan kita bertemu. Disana. Dimeja-meja yang berbaris rapih terhias
pelayan baru ber-hitam putih menawarkan makanan. Kamu ingat saat ku tanyakan
padamu – mau pesan makanan apa? – tapi kamu hanya membalas dengan gerakan
pundak.
– terserah –
katamu.
Lalu kita tenggelam bersama dengan makanan
yang kita santap. Harusnya aku tahu maksudmu menghabiskan makanan secepatnya.
Sometimes, we create our heartbreaks through expectation. Aku yang terlalu
berharap. Dan bodohnya aku tak mengenalinya saat itu.
Kamu tak lagi menagis kan? Aku
harap dia selalu memelukmu. Mengusap air mata peluhmu. Aku hanya bias memelukmu
melalui doa-doaku yang selalu aku rapalkan setiap harinya. Seperti candu. Bisa
jadi, dia adalah buah dari doa-doaku. Semoga saja benar. Dan berharaplah bahwa aku
selalu berfikir positif tentang itu.
Aku selalu merindukan hidung
semampaimu. Dan aku selalu merindukan kaki-kaki jenggang mu mengapitku saat membonceng.
Kadang, aku berdoa buatmu mengetahui besarnya harapan untukmu tetap tinggal.
Harusnya aku sadar, ucapan selamat tinggal malam itu adalah yang terakhir. Kamu
yang selalu tak pernah peduli dan aku yang selalu kebakaran jenggot karena ke-canggung-an-ku menghadapimu. Harusnya aku tahu. Harusnya.
Jadi, kamu, apa kabar?
Dear anissa, rasanya hati kita
berjarak setengah planet bumi. Atau mungkin sejauh galaksi bima sakti. Kau
tahu? Aku selalu melihat contact di blackberry
messenger-ku, hanya untuk memastikan kamu bahagia dengannya. Atau kadang
untuk membuatku menyayat perih mengingatmu. Dan kemudian aku menangis
tersedu-sedu macam anak kecil kehilangan permennya. Lalu akhirnya berhenti
menangisi karena lelah untuk terus bersedih. Aku lelah untuk terus bersedih.
Akhirnya rasa itu datang. Aku tak
pernah mengundangnya singgah dihati. Hanya dia datang begitu saja. Just passing by, not even to stay.
Awalnya dia memperkenalkan dirinya sendiri sebagai kecewa. Sesekali mengobrak-abrik
rumah impian kita. Lalu membuatku seperti orang bodoh yang menangisimu. Lalu
kemudian terkadang dia juga mengundang salah satu temannya – amarah yang juga
sering mampir kerumah. Meski hanya sebentar.
Dengan mu seperti membaca buku.
Selalu mempunyai epilog disetiap akhir cerita. Aku sungguh bermaksud untuk dibacamu
pelan. Membunuh waktu lalu kemudian memelukmu selalu. Setiap huruf yang
terangkai, alur cerita lembut, semampai dan bangir hidung itu. Kamu
mengagumkan. Disetiap kalimatnya aku sering berharap jarak yang memisahkan kata
akan semakin merapat dipelaminan. Kata “aku” dan “kamu” bersanding di epilog
buku ini.
Aku telah habis membaca seluruh
cerita ini. Diujung epilog ini kuselipkan surat. Andai saja kamu mau
menyelesaikan buku ini juga disana dan membaca suratku, lalu saat kau selesai
semuanya, kau tutup buku ini dan tegar. Berjanjilah kau akan selalu bahagia dan
melupakanku. Jika suatu saat nanti kita bertemu, teruslah untuk berpura-pura
tidak mengenalku. Karena, aku akan melakukan hal yang sama untukmu.
***
Dear Anissa,
Aku rasa, menjauhku
adalah hal terbaik untuk kita. Aku dan
kamu – aku tak kan lagi berpura-pura melupakanmu, dan kamu tak lagi susah
mencari alasan untuk menghindar. Entah dimanapun kamu berada sekarang. Aku
harap kamu bahagia dengan segala pilihanmu.
Sudah saatnya aku
berhenti menatap gambarmu di layar ponselku. Sudah saatnya aku berhenti
mengetikan nama akun twitter-mu dalam kolom pencarian lalu kemudian membaca
tweets-mu yang berujung isakan. Sudah saatnya aku mulai menyembunyikan semua
pembaharuanmu di kontak BBM-ku. Aku lelah menunggu. Itu saja. Sudah saatnya aku
bergerak menjauh kemudian hilang diantara pohon-pohon jati – yang dulu kau
ceritakan jika kamu bermimpi mempunyai rumah dengan latar pohonan jati.
Seperti layar televisi
yang kemudian sekejap lenyap. Hitam
pekat memeluk senyap.
Semoga kamu selalu
tahu, bahwa akan ada selalu ada kamu di bagian hatiku
Terima kasih untuk
segalanya. Cukup satu rotasi saja aku
mengharapkanmu. Aku mohon pamit.
Tanpa harap,
N
_hidup adalah sebuah pilihan. termasuk memilih untuk move on dan berbahagia_
Salatiga, 13 Juni 2014
diiringi lagu Arcade Fire _ Divorce Papper (OST. Her).
Nailal Mustaghfiri
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusdalemmm bingitt naiiii
Hapushaha.. lebih dalem hatiku bun.. hati-hati ya dikota sebelah.. i'll gonna miss you.. :(
Hapuscurcol neh kayanya.. blogwalking ke tempatku, mr. Nailal :)
BalasHapushaha.. bukan curcol.. tapi emang susah nulis galau.. :( mau bicara politik kok banyak yang kesinggung.. haha.. siap miss.. :D
Hapus