Aku harap kau membaca ini..
13 februari 2013
Seharusnya aku merayakan malam valentine bersamamu. Tapi sekarang hanya udara yang menguap melalui celah teralis kayu mahoni yang berdiri kaku diatas pintu kamar. Pandanganku mengudara kesegala penjuru. Menyesap segala kenangan yang berserakan disini. Gelak tawa mungil itu mengumandang disudut kamar. Lalu rengkuhanku semakin erat. Guling mencoba berjuang untuk tetap bernafas dalam dekapan eratku. lalu kenangan semakin mencekik yang akhirnya membuatku kembali tersadar. Kau ternyata telah lama pergi.
###
Hari itu, adalah hari yang aku sediakan laci tersendiri dalam hatiku. Yang terkadang disengaja atau tidak terbuka dan lembaran-lembaran kertasnya berhamburan ke udara. Di sisi kanan pojok atas kertas-kertas itu bertuliskan desember 2012. Ada beberapa yang bertuliskan november, tapi hanya beberapa. Lalu sisanya januari dan februari.
Entah siapa yang memulainya, aku ataukah kamu. Yang jelas kita sudah saling terikat meski tak pernah menyebutkan. Diantara baris aksara yang berpelukan ada rasa cinta. Aku mencintaimu meski hanya melalui barisan aksara yang kau kumpulkan. Satu alasan yang bisa aku sebutkan mengapa aku mencintaimu; ” yakni dengan benda yang sederhana saja kau bisa buat hatiku melayang, bagaimana dengan benda yang lebih berharga lainnya?”.kau hanya tersenyum, dan seperti biasa menganggapku hanyalah bualan semata. Aih!
Kita saling mencintai, tak perlu membutuhkan sebuah hubungan yang rumit. Hanya saling berbagi cinta saja bagiku itu sudah cukup. Begitulah katamu disela dekapanku. Berbisik lembut. Lalu aku hanya tersenyum. Lalu diakhir kalimat kau berkata : “aku rasa cinta ini terlalu cepat, pastilah akan cepat pula akhirnya”. Kudekap kau dengan sekuat tenaga. Aku tak ingin kehilanganmu meski hanya sekali.
###
Beberapa hari sebelum purnama. Harusnya bulan tak lagi tertelungkup sabit. Entah mengapa hari itu bulan terlihat sendu. Dengan cepat kau pergi begitu saja. Tanpa ada peringatan apapun. Kemudian malam-malam selanjutnya menjadi murung. Bulan tak pernah berhasil purnama.
###
Dengan segenap tenaga kupejamkan mata. Jam wekerku berkata sudah pukul 2 pagi. Dan aku belum bisa terlelap. Ada ribuan pisau menyayat hati. Lalu aku sibuk membuka laci dihati. Mencari penyebabnya. Dan aku temukan kau disana dengan kebahagiaan yang kau inginkan dengan orang lain.
Lalu entah bagaimana aku sudah berhadapan dengan ombak yang berderu menuju pantai. Mereka berkejaran seakan menghampiri, begitulah katamu. Setelahnya aku menoleh kepadamu, kau tersenyum manis, dan aku membalasnya. Seperti yang aku lakukan semenjak pertama kita bertemu, ada rasa menyenangkan dan menenangkan karena kita selalu begitu.
Aku mencoba bertahan dengan tatapan kecil ketika angin laut menerpa wajahku. Mataku menyipit. Lalu kau datang dengan wajah yang seakan melihat bintang jatuh. Berbinar. Katamu, kau suka melihatku dengan mata yang sipit. Dengan mata ini kau berkata selalu mengingatkanmu pada laut. Pernah kau bilang, rambut ikal saat panjang akan mengingatkan pada ombak yang bergulung-gulung menghampiri. Hatiku bagai koral yang harusnya kau jaga dengan sepenuh hati. Entah meski aku masih belum bisa menemukan alasan yang tepat untuk kedua relasi tersebut tapi aku masih mengingatnya. Karena aku sediakan laci sendiri dihatiku untuk menyimpan suaramu.
Kau sudah jauh pergi. Itulah kenyataannya. Saat hujan mengetuk pintu rumah, tapi entah bagaimana mengapa malah pintu kenanganku yang terbuka. Lalu seketika seluruh penjuru ruangan menjadi begitu sesak. aku mengulurkan tangan untuk minta bantuanmu buatku berdiri, susah sekali. Separuh tubuhku rasanya terkubur.ingin rasanya segera berdiri dan menghampirimu yang semakin jauh ke cakrawala. Lalu kita menyambut fajar dan menghabiskannya sampai renta. Tapi kau tak bisa.
Kau hanya menoleh kebelakang sebentar lalu tersenyum. Seakan memintaku untuk bisa berdiri sendiri. Aku coba mengumpulkan sendi-sendiku yang berserakan. Aku goyah. Aku tak mampu, dan kemudian ku putuskan untuk duduk saja. Sebentar lagi, pelan-pelan aku akan mencoba untuk berdiri lagi.
Malam mulai terlipat, beberapa bintang mulai meredup dan pamit. Itulah aku melihatmu berjarak beberapa jengkal. Aku susuri dan mengingat-ingat. Kenapa bisa cinta bisa terjatuh disetiap sentinya.
Entah mengapa, ketidak berdayaanku kali ini membuatku berjarak ribuan teluk darimu. Ada keterpaksaan yang harus aku peluk sendiri. Ditinggal merupakan hal yang menyedihkan, tapi ketika dipaksa untuk meninggalkan adalah hal yang paling menyedihkan.
Aku setengah berbisik padamu, takut mengganggu bulan yang beringsut pamitan. “kemarilah, temani aku disini. Duduklah disampingku subuh ini”.
Kau hanya mengeleng kemudian tersenyum.
Aku mengulurkan tangan kembali. “kalau begitu pegang tanganku, tak perlulah kau buatku berdiri. Cukup pegang tanganku saja”.
Kau hanya terdiam dan seperti biasa dengan wajah datarmu.
“aku tak sanggup untuk berdiri menghampirimu, cepat kemari, temani aku”.
Aku tak sanggup berdiri, aku terus mengulurkan tanganku meminta bantuanmu. Mengharapkan belas kasihan. Aku benci melihatku seperti ini.
Kamu masih ada didepan mata, bahkan masih terjaga dihati. Tapi entah kenapa kau begitu sangat keji. Ku genggam pasir dan melempar kearahmu.
“mengapa kau tak membantuku berdiri?!”.
Aku berusaha bangun kembali. Tapi rasa itu membuatku jatuh terkalahkan gravitasi. Aku terjatuh.
Saat aku mengangkat kepala, aku melihatmu yang sudah berjalan menjauh.
“jangan tinggalkan aku!”. Aku berteriak dengan segenap tenaga. Tapi yang kupunya isakan tangis yang teredam.
“bawa aku!”. Teriakku keras-keras.
Matahari mulai menyeruak diantara kita. Suasana semakin terang dan dari kejauhan kau berpaling dan sembari berkata,
“kamu pasti bisa berdiri, kamu pasti sanggup berjalan. Tanpaku. Kenali luka mu, maka kau akan bisa menyembuhkannya. Jangan pura-pura lupa, nanti semuanya mati rasa.”
Kau perlahan menghilang dan diikuti bayanganmu.
Batinku berontak. Kau tak boleh begitu, kau tak boleh mencoba untuk setia. Kau harus bawa aku kemanapun kau pergi, meski entah dengan siapapun.
Kau tak boleh pergi.
Saat itu, seharusnya aku menahanmu untuk dirumah lebih lama. Mencegahmu untuk mencoba setia. Dan akhirnya kau pergi, meninggalkan aku sendiri, kehilanganmu, dan belajar berjalan lagi.
13 februari 2013
Adaptasi dari Rahne Putri
Terima kasih telah memberiku pelajaran berharga; aku hulu dan kau hilir. Sayang, rindu ini adalah salah muara. @naelalo
