Aku terbaring,
memandang langit-langit kamar yang berwarna putih lusuh. Nanar dan kosong. Kulirik jam dinding yang sudah menemaniku
setiap malam-malam larutku. Lalu aku sadar akan sesuatu. Jadi, selama ini
malam-malam panjangku hanya untuk memikirkan dirimu ya? Ah, sungguh kejam
dirimu memperlakukan aku seperti ini.
gusar.
resah.
gusar.
resah.
###
Ku ikuti tiap
detik jarum jam yang berputar, satu ke dua. Dua ke tiga. Tiga ke empat. Lalu
begitupun terus selanjutnya. Dulu, sewaktu jarum jam berada pada angka Sembilan
yang ke sekian ribu kali yang lalu, aku merasakan bahwa aku sedang terjebak
didalam waktu yang sama denganmu. dalam labirin paralel dimensi yang tidak pernah kita pelajari di SMA. Aku bahagia. Sangat.
Menggenggam
tanganmu yang mungil, erat sekali. Pernahkah kau merasakan betapa eratnya
genggaman tanganku waktu itu? atau malah kamu merasakan kesakitan yang sangat? Jujur aku takut kehilangan dirimu dan cintamu.
Memandang tanganmu lalu kita bandingkan bersama warna kulit kita. Jujur kau
sungguh hitam dibanding dengan ku. Lalu kau berpura-pura marah. Dan akupun
luluh dihadapanmu seperti kucing meminta makan. Aku sama sekali tak bermaksud
membuatmu marah. Sumpah. Satu hal yang selalu aku rindukan. sinar dari matamu
yang sejak awal kita, ah, bukan aku melihatmu disana. Diruangan yang terkadang
kau benci itu. Aku melihat. Dan kau tau, aku langsung jatuh cinta denganmu.
Kita berdua
bahagia, aku bahagia. Sungguh. Entah denganmu dalam keadaan seperti itu. Suatu
saore hujan turun di kota kita, aku dan kau, sedang diatas motor bututku. Menerjang hujan
yang semakin rapat. Kau tak memelukku sama sekali. Aku fikir kau tak
kedinginan. Mungkin.
Lalu ada sebuah
pertanyaan terlintas di hati.
masihkah ada cinta diantara kita?.
Ku Tanyakan padamu dalam hati. Rintik hujan yang terus menabrak kaca helmku. Sesaat aku tersenyum. Sesaat lain lagi aku murung.
masihkah ada cinta diantara kita?.
Kau diam. Kau tak mendengar. Ataupun merasakan. Hujan semakin deras. Paling tidak aku bahagia bisa membawamu utuh malam itu. Meski kau tak menjawab pertanyaanku.
masihkah ada cinta diantara kita?.
masihkah ada cinta diantara kita?.
Ku Tanyakan padamu dalam hati. Rintik hujan yang terus menabrak kaca helmku. Sesaat aku tersenyum. Sesaat lain lagi aku murung.
masihkah ada cinta diantara kita?.
Kau diam. Kau tak mendengar. Ataupun merasakan. Hujan semakin deras. Paling tidak aku bahagia bisa membawamu utuh malam itu. Meski kau tak menjawab pertanyaanku.
masihkah ada cinta diantara kita?.
###
Suatu hari, aku
membawamu kesuatu tempat. Aku kira kau akan terkesan dengan semua itu. Ku coba yakinkan diriku sendiri bahwa kau
terkesan. Semoga terkesan. Meski hanya untuk menenangkan aku. Kunyalakan lilin. Aku buka tabir yang menghalangi matamu. Aku hanya ingin mengatakan “selamat
ulang tahun” dengan caraku. Dengan segala keterbatasanku; lilin, roti sobek,
dan cappuccino hangat pesananmu. Malam itu, kau sama sekali tak terkesan,
persis dengan dugaanku.
Waktu masih
mendikte aku untuk selalu mengikuti tiap detik. Aku antar kau pulang. Lalu
pertanyaan itu kembali muncul:
masihkah ada cinta diantara kita?.
Jawabannya masih sama. Kau tak merespon dan tak juga memelukku.
Malam itu gerimis.
masihkah ada cinta diantara kita?.
Jawabannya masih sama. Kau tak merespon dan tak juga memelukku.
Malam itu gerimis.
Pada hari-hari
selanjutnya kau tampak sangat angkuh. Entah setan mana yang merasuki tubuhmu.
Mulai saat itu juga pertanyaan itu kembali muncul: “masihkah ada cinta diantara
kita?”. Tiap pesan yang aku kirim ke handphone mu hanya dibalas pertanyaanku
saja. Kau tak menanyakan keadaanku. Kau tak menanyakan kabarku. Kau tak
menanyakan sedang apa padaku. Sikapmu yang membuatku tak mau menjadi wartawan untukmu. Ah, wartawan. Dalam hati ini ada gemuruh saat melihat kau seperti
ini. Kau mungkin tak akan pernah mendengarnya. Kau terlalu tuli untuk semua
yang aku rasakan!
Apa kamu tuli?
Ah, kenapa aku harus marah kepadamu?
Apa kamu tuli?
Ah, kenapa aku harus marah kepadamu?
Sudah lama aku
tak mendengar kabarmu, semenjak malam itu kau tak mengatakan sepatah katapun.
Dalam bayanganku, ku tanyakan pertanyaan yang selalu menghantuiku sampai saat ini:
masihkah ada cinta diantara kita?.
Lalu dengan mata melotot kau menjawabnya.
apa? Kau sudah tak percaya lagi sama aku?!.
Aku diam. Aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Mungkin lebih tepatnya aku tak punya persiapan jawaban untuk itu.
Lagi – kau yang menang.
masihkah ada cinta diantara kita?.
Lalu dengan mata melotot kau menjawabnya.
apa? Kau sudah tak percaya lagi sama aku?!.
Aku diam. Aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Mungkin lebih tepatnya aku tak punya persiapan jawaban untuk itu.
Lagi – kau yang menang.
Suatu ketika,
saat aku berkendara sendiri menerjang gerimis, gerimis yang sama saat kita
berdua menghabiskan malam. Lalu aku membayangkan kita sedang bercakap-cakap.
Aku melontarkan pertanyaan yang sama:
masihkah ada cinta diantara kita?. Lalu kau gusar.
Marah.
jawabanmu itu butuh jawaban jujur, bukan hanya “iya” atau “tidak”. katamu sambil melarikan diri dariku. Kau tak lagi melanjutkan jawab. Hilang entah kemana.
masihkah ada cinta diantara kita?. Lalu kau gusar.
Marah.
jawabanmu itu butuh jawaban jujur, bukan hanya “iya” atau “tidak”. katamu sambil melarikan diri dariku. Kau tak lagi melanjutkan jawab. Hilang entah kemana.
###
Dengan kuatnya
waktu mengikatku bersamamu. Lima belas rotasi sudah aku terikat. Meski kau
sudah tak tahu entah dimana. Tapi aku masih saja didikte waktu untuk
mengikutimu. Kepada udara kutanyakan lagi pertanyaan yang sama; “masihkah ada
cinta diantara kita?”. Kau, dimanakah dirimu sekarang? Disini aku sangat
merindukanmu. Lalu ingatanku menelusuri segala tentang dirimu. kapel - kapel gereja, lobi mall yang biasa "kita bergandeng tangan". Zona merah kita. Tiket bioskop kota sebelah yang masih tertempel didinding kamar, aroma parfum bibit mu yang melayang -layang disudut kamar, struk makan di kafe waktu itu, meja
23, masihkah kau ingat? Struk pesanan cappuccino yang kau pesan pada malam
sebelum kau menghilang.
lalu,
masihkah ada cinta diantara kita?.
lalu,
masihkah ada cinta diantara kita?.
###
01/08/2015
Aku akan selalu menanyakan kepada Tuhanmu, bolehkah aku, yang bukan dari kaum -Nya mencintai salah satu hamba - Nya?
Aku akan selalu menanyakan kepada Tuhanmu, bolehkah aku, yang bukan dari kaum -Nya mencintai salah satu hamba - Nya?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar