Cari

Jumat, 31 Juli 2015

Masihkah ada cinta diantara kita?


Aku terbaring, memandang langit-langit kamar yang berwarna putih lusuh. Nanar dan kosong. Kulirik jam dinding yang sudah menemaniku setiap malam-malam larutku. Lalu aku sadar akan sesuatu. Jadi, selama ini malam-malam panjangku hanya untuk memikirkan dirimu ya? Ah, sungguh kejam dirimu memperlakukan aku seperti ini.

gusar.

resah.

###

Ku ikuti tiap detik jarum jam yang berputar, satu ke dua. Dua ke tiga. Tiga ke empat. Lalu begitupun terus selanjutnya. Dulu, sewaktu jarum jam berada pada angka Sembilan yang ke sekian ribu kali yang lalu, aku merasakan bahwa aku sedang terjebak didalam waktu yang sama denganmu. dalam labirin paralel dimensi yang tidak pernah kita pelajari di SMA. Aku bahagia. Sangat.

Menggenggam tanganmu yang mungil, erat sekali. Pernahkah kau merasakan betapa eratnya genggaman tanganku waktu itu? atau malah kamu merasakan kesakitan yang sangat? Jujur aku takut kehilangan dirimu dan cintamu. Memandang tanganmu lalu kita bandingkan bersama warna kulit kita. Jujur kau sungguh hitam dibanding dengan ku. Lalu kau berpura-pura marah. Dan akupun luluh dihadapanmu seperti kucing meminta makan. Aku sama sekali tak bermaksud membuatmu marah. Sumpah. Satu hal yang selalu aku rindukan. sinar dari matamu yang sejak awal kita, ah, bukan aku melihatmu disana. Diruangan yang terkadang kau benci itu. Aku melihat. Dan kau tau, aku langsung jatuh cinta denganmu.

Kita berdua bahagia, aku bahagia. Sungguh. Entah denganmu dalam keadaan seperti itu. Suatu saore hujan turun di kota kita, aku dan kau, sedang diatas motor bututku. Menerjang hujan yang semakin rapat. Kau tak memelukku sama sekali. Aku fikir kau tak kedinginan. Mungkin.

Lalu ada sebuah pertanyaan terlintas di hati.
masihkah ada cinta diantara kita?.

Ku Tanyakan padamu dalam hati. Rintik hujan yang terus menabrak kaca helmku. Sesaat aku tersenyum. Sesaat lain lagi aku murung.

masihkah ada cinta diantara kita?.

Kau diam. Kau tak mendengar. Ataupun merasakan. Hujan semakin deras. Paling tidak aku bahagia bisa membawamu utuh malam itu. Meski kau tak menjawab pertanyaanku.

masihkah ada cinta diantara kita?.


###

Suatu hari, aku membawamu kesuatu tempat. Aku kira kau akan terkesan dengan semua itu.  Ku coba yakinkan diriku sendiri bahwa kau terkesan. Semoga terkesan. Meski hanya untuk menenangkan aku. Kunyalakan lilin. Aku buka tabir yang menghalangi matamu. Aku hanya ingin mengatakan “selamat ulang tahun” dengan caraku. Dengan segala keterbatasanku; lilin, roti sobek, dan cappuccino hangat pesananmu. Malam itu, kau sama sekali tak terkesan, persis dengan dugaanku.

Waktu masih mendikte aku untuk selalu mengikuti tiap detik. Aku antar kau pulang. Lalu pertanyaan itu kembali muncul: 

masihkah ada cinta diantara kita?.

Jawabannya masih sama. Kau tak merespon dan tak juga memelukku.

Malam itu gerimis.

Pada hari-hari selanjutnya kau tampak sangat angkuh. Entah setan mana yang merasuki tubuhmu. Mulai saat itu juga pertanyaan itu kembali muncul: “masihkah ada cinta diantara kita?”. Tiap pesan yang aku kirim ke handphone mu hanya dibalas pertanyaanku saja. Kau tak menanyakan keadaanku. Kau tak menanyakan kabarku. Kau tak menanyakan sedang apa padaku. Sikapmu yang membuatku tak mau menjadi wartawan untukmu. Ah, wartawan. Dalam hati ini ada gemuruh saat melihat kau seperti ini. Kau mungkin tak akan pernah mendengarnya. Kau terlalu tuli untuk semua yang aku rasakan! 

Apa kamu tuli?

Ah, kenapa aku harus marah kepadamu?

Sudah lama aku tak mendengar kabarmu, semenjak malam itu kau tak mengatakan sepatah katapun. Dalam bayanganku, ku tanyakan pertanyaan yang selalu menghantuiku sampai saat ini: 

masihkah ada cinta diantara kita?. 

Lalu dengan mata melotot kau menjawabnya.

apa? Kau sudah tak percaya lagi sama aku?!. 

Aku diam. Aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Mungkin lebih tepatnya aku tak punya persiapan jawaban untuk itu. 

Lagi – kau yang menang.

Suatu ketika, saat aku berkendara sendiri menerjang gerimis, gerimis yang sama saat kita berdua menghabiskan malam. Lalu aku membayangkan kita sedang bercakap-cakap. Aku melontarkan pertanyaan yang sama: 

masihkah ada cinta diantara kita?. Lalu kau gusar.

Marah.

jawabanmu itu butuh jawaban jujur, bukan hanya “iya” atau “tidak”. katamu sambil melarikan diri dariku. Kau tak lagi melanjutkan jawab. Hilang entah kemana.


###

Dengan kuatnya waktu mengikatku bersamamu. Lima belas rotasi sudah aku terikat. Meski kau sudah tak tahu entah dimana. Tapi aku masih saja didikte waktu untuk mengikutimu. Kepada udara kutanyakan lagi pertanyaan yang sama; “masihkah ada cinta diantara kita?”. Kau, dimanakah dirimu sekarang? Disini aku sangat merindukanmu. Lalu ingatanku menelusuri segala tentang dirimu. kapel - kapel gereja, lobi mall yang biasa "kita bergandeng tangan". Zona merah kita. Tiket bioskop kota sebelah yang masih tertempel didinding kamar, aroma parfum bibit mu yang melayang -layang disudut kamar, struk makan di kafe waktu itu, meja 23, masihkah kau ingat? Struk pesanan cappuccino yang kau pesan pada malam sebelum kau menghilang. 



lalu,

masihkah ada cinta diantara kita?.






###

Nailal Mustaghfiri
01/08/2015

Aku akan selalu menanyakan kepada Tuhanmu, bolehkah aku, yang bukan dari kaum -Nya mencintai salah satu hamba - Nya?

Rabu, 15 Juli 2015

Ter - istimewa - kan

Bukankah disetiap pagi datang akan ada harapan baru untuk berubah. aku sadar jika aku mungkin pernah gagal dengan yang lalu. dan kamu pernah tersesat didalam labirin hati masa lampau. lalu bukankah selalu ada harapan baru untuk masa depan?

***

setiap manusia berhak merasa dirinya seperti martabak istimewa. yang selalu berada dalam list teratas di daftar menu yang diberikan abang - abang disaat aku hendak membeli sekotak cinta martabak telur istimewa. harganya cukup lumayan mahal untuk sekotak kasih sayang martabak istimewa. tetapi aku urungkan karena ya kembali lagi keselera. aku memilih martabak telor dengan kategori kedua alias dengan menggunakan telurnya dua. 

lalu, kenapa tidak memilih yang istimewa saja? alasannya sederhana. aku tidak punya cukup uang untuk membeli martabak yang istimewa. lagipula, aku juga gak bakal habis memakan martabak istimewa yang seukuran dada-nya jupe TV 14". 

ya itulah logika dan alasan kenapa kok sepertinya datar-datar saja, dan seakan akan aku tidak pernah memperlakukan wanita menjadi istimewa. aku kasih tahu sejujurnya. satu, aku bukan pria sewaan romantis. aku tidak bisa memuji wanita, memanjakan dengan tatapan nanar. just like you saw me, somehow God created me with pointless starry eyes (sometimes). bukan berati aku itu emotionless lho ya. aku cuma gak bisa ngungkapin betapa bahagianya aku punya uang 14 miliar kamu. aku sadar dan dari awal aku mulai tumbuh dewasa, aku memulai untuk menerima dan tidak mau ambil pusing terhadap omongan - omongan manusia bajingan sok tahu yang bahkan tidak sepeserpun memberikan aku kesempatan untuk bercerita kepadanya. 

untuk perempuan diluaran sana, kamu. yang sudah membuat hidupku semakin lengkap. mohon maaf jika aku menyakiti dengan memperlakukan kamu tidak istimewa. untuk perempuan putih dengan tinggi 163 cm dan rambut terurai seperti model iklan l'oreal. YOU MAY THINK THAT YOU'RE NOT SPECIAL. BUT YOY'RE WORTHY TO FIGHT. now, it's your turn, for you; AM I WORTHY ENOUGH TO FIGHT?


Salam pempek,
Nailal