Cari

Senin, 29 April 2013

Ning!

[Part I]

“cinta memang buta, tapi seharusnya tidak bodoh..cinta adalah sesuatu yang membuat kita menyiapkan pisau belati dibalik punggung ketika kita menyodorkan bunga mawar dengan tangan kanan..selalu ada kegelapan disetiap sudut terang..”

###
Satu jam yang lalu aku baru saja menerima uang pensiunanku. Satu tas penuh dengan uang seratus ribuan. Bila ditaksir mungkin sekitar enam puluh juta lebih, aku sengaja minta kontan dengan harapan setelah menjadi pensiunan aku bisa membuka toko kelontong kecil-kecilan untuk mencukupi anak dan istriku. Umurku sudah semakin tua tapi aku belum bisa untuk menjadi selayaknya seumuranku, aku masih ingin bekerja. Tapi apalah daya Tuhan sudah mengistirahatkan aku dengan pensiunan.

Dulu aku adalah seorang penjaga sekolah yang diangkat sebagai pegawai negeri setelah 25 tahun menjadi tenaga bantu di SD Negeri di kampung. Sewaktu itu penjaga kampung adalah jabatan setingkat takmir masjid, karena tugasnya adalah sama-sama menjaga tempat yang bermanfaat, sehingga aku sering dipanggil pak bon dari pada nama asli ku, yaitu badruzzaman. Sewaktu itu aku masih berusia 16 tahun, setelah menamatkan sekolah menengah pertama aku melamar menjadi pesuruh di toko orang tionghoa, tapi tak sampai sebulan dipecatnyalah diriku karena selalu memcahkan gelas sewaktu menghidangkan makanan pagi, padahal yang memecahkan anak bungsu yang masih balita. Sungguh tak mujur nasibku waktu itu.lalu aku melamar menjadi tukang pemetik teh dibelakang desa, tak sampai dua minggu aku pun mundur karena aku tak cukup gesit untuk menyamai tangan para wanita yang sudah turun temurun menjadi pemetik teh. Lalu pada akhirnya aku melamar menjadi tukang penjaga sekolahan untuk kali pertamanya di kampung. Hanya menyediakan teh manis setiap pagi dan membersihkan dedaunan kering di halaman bukanlah merupakan pekerjaan berat bagi ku.

Sewaktu dulu sekolahan itu masih milik Belanda, dimana para menir selalu memesan kopi pahit dan gula batu setiap paginya. Dengan kudapan kue onde-onde yang biasa dipesan dari kampung sebelah. Sepuluh tahun sudah aku meladeni para kompeni sampai akhirnya tahun 1948 indonesia mengusir para penjajah dengan pengakuan kemerdekaan Negara indonesia. Dari sinilah ceritaku dimulai, kawan akan aku ceritakan semua selagi aku masih mengingatnya.

###
Hari setelah pengakuan itu ternyata masih sama saja dengan hari sebelumnya, aku masih saja menyediakan kopi pahit dan gula batu untuk para menir, ternyata mereka tidak ikut pulang ketanah kelahiran mereka karena mereka adalah seorang pengajar, bukan militer, dalam perjanjian yang dibuat oleh Bung Hatta bukan semua warga Belanda yang ditarik kembali melainkan hanya militernya saja, sungguh gusar hatiku mendengar hal itu, aku masih saja melayani orang asing dinegeri sendiri, aku bukan lulusan SR (sekolah Rakjtat) setingkat SD kalau jaman sekarang. Aku hanya mampu sampai tingkat 3 di SR, lalu aku putus sekolah dan lebih memilih sapi dan kambing untuk menjadi teman keseharianku. Lalu oleh pak bayan aku disuruh untuk meneruskan sekolah dengan jenjang keseteraan yang diadakan oleh pemerintah Soekarno. Ku ikuti sembari masih menjadi teman dari kambing dan sapi, setelah lulus aku mendaftar menjadi penjaga sekolah, dan diterimalah aku, ternyata ucapan pak bayan ada benarnya, dengan ilmu kita bisa menjadi apa saja yang kita inginkan, bukan hanya menjadi teman dari sapi dan kambing.

Seingatku hari itu adalah hari Senin di minggu kedua dalam bulan ketiga. Aku masih ingat waktu itu adalah tanggal 15, seperti biasa hari senin  adalah hari yang sangat membuat pusing bagi penjaga sekolah dimanapun, karena tiap awal minggu pasti ada upacara bendera, dan pak bon-lah yang harus mempersiapkan segala macam upeti yang hendak dipersiapkan. Sekilas dan sangat tak jelas aku melihatnya, untuk pertama kali aku merasakan sesuatu bergemuruh dihati, bukan karena omelan pak tarjo sang kepala sekolah, ataupun triakan anak-anak sekolah yang seakan selalu mengejek diriku. Bukan karena itu tapi mungkin lebih mirip dengan cinta. Entahlah akupun tak tahu menahu tentang hal itu, hanya saja seperti bunga yang beterbangan disekelilingku, sungguh aneh tetapi aku sangat menikmatinya. Aku senyum sendiri setelah kejadian itu. Ya Tuhan mungkin jodohku sudah dekat. Saat itu baru berumur 35 tahun. Ukuran yang sangat mepet untuk seorang perjaka, aku belum siap menikah karena hidupku saja tak bisa aku atur, apalagi harus mengatur kehidupan orang lain yang menjadi istri dan anaknya kelak?? Selalu pertanyaan itu yang muncul dalam benak, dan itulah yang selalu saja berhasil mengganjal aku untuk menikah, lalu aku undurkan saja niatku, setahun, dua tahun lalu bertahun-tahun.

Dia sangat manis bila ku lihat, anak dari seorang saudagar yang kaya di kampung, sempat ada rasa minder dan takut untuk mendekatinya, bukan takut karena akan digigit atau semacamnya melainkan strata sosial yang susah ditandingi olehku. Aku seorang pak bon sedang dia adalah putri seorang saudagar kain di kecamatan. Tapi inilah indahnya cinta, cinta tak kan memandang apa-apa. Meski jelek, meski kaya, meski miskin cinta selalu hidup diantaranya. Maka tak heran bila akhirnya cinta itu buta. Buta tak bisa membedakan apapun. Setelah hari itu aku jadi sering lama menyapu halaman depan ketika jam masuk sekolah, sembari menunggu anak-anak menyebrang jalan aku lihat sekeliling siapa tahu dia lewat dengan orang tuanya. Ku lihat dia sekilas, lalu dia membalasnya dengan senyuman. Kau tahu kawan bagaimana rasanya?? Seperti makan kue bandung bikinan orang kecamatan yang hanya jualan pada malam minggu. Atau seperti mendapatkan uang banyak sekali dan tak terhitung. Kurang lebih begitulah makna dari senyumannya kepada ku. Meski mungkin menurutnya bukan seperti yang aku gambarkan. Begitulah cinta…

###
Hari sudah sore ketika aku hendak menutup pintu terakhir ruang para guru, setelah membersihkan halaman dan kelas-kelas. Suasana sekolahan tampak menyeramkan sekali, bulu kudukku sampai berdiri dibuatnya. Sungguh aneh suasana hari itu. Ketika selesai mengunci pintu terakhir ruang guru yang berada di pojokan sebelah barat kuputar tubuhku dan astaga betapa kagetnya aku melihat sosok perempuan tertunduk lesu di lantai halaman depan. Siapakah gerangan wanita itu? Hatiku bergetar dan takut, Ingin rasanya berlari saja melompati pagar setinggi 2 meter atau pura-pura pingsan saja agar wanita itu hilang dalam kedipan mata. Ku gosok-gosok mata berulang kali, ku kedipkan mataku berulang kali juga. Tapi entah mengapa hantu wanita itu tak jua hilang dalam pandangan. Makin takut saja aku. Pikiran tentang hantu wanita yang suka memakan organ tubuh manusia dari cerita orang tua jaman dulu merasuki otak ku, berdesak-desakan sampai membuatku berkeringat deras. Sempat terucap sebuah doa dari hati ku; 

“ya Tuhan jangan ambil nyawaku sekarang, aku belum menikah Tuhan..!!”. bisikku dalam hati.

Sepuluh menit berlalu dengan otakku yang masih dijejali cerita mistik, lalu aku beranikan diri untuk mendekati wanita itu, sekitar jarak 5 meter terdengar isak tangis kecil darinya. Makin bergidik saja tubuhku. Aku berhenti dan sempat mundur beberapa langkah. Ku ambil kayu ranting di sebelahku, menyodorkan kearah tubuhnya, dengan alasan agar ketika dia benar-benar siluman benda yang pertama dia terkam adalah ranting naas ini, bukan diriku. Kupukul-pukul ranting itu ditanah dekat dengan wanita itu. Namun tidak ada respon. Lalu ku panggil mbak, dia tak menoleh, ku panggil non, dia juga tak menoleh. Ku panggil lagi dengan bu dia juga tak menoleh. Heran bercampur dengan ketakutan diriku ini. Lalu ku panggil dia Ning, karena aku sepertinya kenal dengan gelang yang dikenakan di tangan kirinya. Semoga itu benar Ning, ku lontarkan pertanyaan penasaranku sekali lagi;

“Ning?”

Mulai ada gerakan, tepatnya kepalanya bergerak keatas. Lalu dia berhambur memelukku yang masih membawa ranting yang juga sama-sama heran oleh kelakuan Ning, ingin kutanyakan kenapa dia sampai seperti ini, tapi sepertinya bukan waktu yang tepat.

“bawa aku kemana saja, mas!”. Bisiknya ditelingaku.

Petir seakan menyambar tubuhku sepersekian detik. Mengapa tidak, perempuan yang biasa aku kagumi setiap aku menyapu halaman sekarang sedang memelukku dan membisikan untuk dibawa kemana saja. Bukan main hebohnya dan panik batinku. Pikiranku kosong sekian detik sampai Ning melepaskan pelukannya dengan tatapan terpana dan heran.

“Mas?”. Bisik Ning ditelingaku.

Lalu seketika kesadaranku kembali pulih. Dan Ning masih saja berdiri dengan wajah keheranan.

“bawa aku kemana saja, mas!”.

“sekarang juga! Aku sudah tak tahan melihat gelagat papa yang mau menjodohkanku”.

Petir kembali menyambar. Bukan main kagetnya. Ada rasa kecewa, kaget, sedih dan lemas menari riang ditubuhku.




(kita potong dulu ceritanya, mohon ditunggu untuk potongan cerita selanjutnya yaa.. ^^)
  29 april 2013
Nailal Mustaghfiri.


Rabu, 13 Maret 2013

Hujan di Ujung Februari


Kali ini hujan mengguyur kota. Deras sekali. Masih sama dengan hari-hari biasanya di bulan desember. Lalu lalang kendaraan yang menerjang hujan. Anak-anak kecil yang berjingkrak menyambut hujan, rintik. Dan aku yang masih saja mengenang, bergumam sendirian. Bau tanah yang basah dan air hujan ini telah seratus persen membiusku menuju seseorang. Apabila kau baca ini, seseorang itu adalah kamu. Lalu diorama wajahmu tertampak di bulir hujan yang berlompatan menjauhi langit. Aku nikmati itu sendirian. Selalu sendirian.

“kau tak mencoba untuk menghubunginya lagi?”. Andri menyergapku dengan celotehannya. Aku hanya menggeleng dengan lemah. Aku harap Andri bisa mengartikan gelenganku. Gelengan yang penuh dengan rasa lelah, pasrah dan menyerah. “alamak boi, kurang apa sih kamu itu? Lebih tampan, lebih pintar dan yang jelas kau lebih perhatian dari pada si anjing itu.” Aku hanya tersenyum. Kalimat itu sedikit mengobati hatiku.

Sudah lebih dari satu bulan aku berusaha untuk mengurungkan niatku untuk menghubungimu, memenjarakan kehendak itu didalam bui yang pengap, basah dan sembab, yang ternyata setiap malam mengirimkan sinyal kepada mata untuk ikut berduka. Iya, aku tiap malam memikirkan mu. Dan di penghujung malam, aku selalu berdoa agar kau tak pernah memikirkan hatiku. Selalu.

Hujan semakin menggelegar menyesap sore. Mencintai seseorang yang telah memiliki orang lain itu adalah sebuah tolok ukur kepada diri kita sendiri, mengukur seberapa setianya kita kepada pacar. Dan terbukti, aku dan kamu, meski dahulu sekali pernah memutuskan untuk tak setia kepada pasangan.

Aku masih ingat saat pertama kali kita menikmati hujan ini berdua, kau sedang gusar dengan pacarmu, dan aku sedang tak mau memikirkannya. Ia terlalu sibuk memikirkan diri sendiri. Kita punya kesamaan. Sama-sama kesepian dan kurang kasih sayang. Disana kau menyemai cinta. Hanya aku dan kamu. Berjuang bersama menghindari semuanya. Cinta ini terasa seperti suara gesekan kapur di papan tulis. Sangat nyeri ketika didengarkan. Kita saling ketakutan, lalu bersama-sama berlindung dan mencari kenyamanan di bilik-bilik hati. Itulah cinta.

Ada seorang teman yang masih menanyakan apa yang telah aku perbuat, aku hanya bisa menjawab bahwa aku hanya seorang pemulung, memunguti setiap dingin yang berserakan, dan mendekap dengan penuh kasih sayang, disaat segalanya sudah tak dingin, dan tak lagi kekurangan cinta, aku sudah bersiap melepaskannya. Meski nyatanya aku tak pernah merelakannya, karena aku takut ia akan kembali kedinginan. Lagi.

Saat itu kau tergelak kedinginan dibawah hujan. Aku menghampiri, dan aku ulurkan tanganku dibawah payung hitam. Aku tersenyum seakan berkata “genggamlah jemariku, dan kau tak akan lagi kedinginan”. Kau mengangguk. Lalu ku peluk kau dengan erat. Seperti itulah cinta kita.

Lalu langit bertanya, salahkah aku memulung cinta yang kedinginan? Bukankah setiap manusia berhak mendapatkan kasih dan belas sayang?. Aku gusar sendiri. Bukankah hujan yang membuat cinta itu kedinginan? Atau kebosanan yang membuatnya tersingkir lalu menggigil? Yang jelas aku hanya ingin membantu. Dan akhirnya setiap penolakan itu adalah persetujuan yang tertunda.

Beberapa hujan sore ini telah aku lewati sendirian. Entah kamu ada dimana sekarang. Mungkin saja kau sedang menikmati hujan sore ini dengan orang yang kau sayang. Jelas bukan aku.

###

Kau pergi.

Itulah satu kalimat yang bergema sepanjang malam-malam. Betapa mengenaskannya aku hanya memikirkanmu. Setelah beribu bulir kesedihan mengalir, aku putuskan untuk tetap tinggal. Meskipun dengan resiko yang begitu menyayat.

Lalu hewan-hewan malam kembali menanyakan padaku; “kenapa kau masih saja memikirkan dia?”

“aku takut ia akan kembali kedinginan. Disaat dia pergi mungkin aku masih menunggu dia kembali, tapi aku tak suka menunggu. Lalu siapa yang akan memeluknya saat ia kembali kedinginan?”

Mereka terdiam.

Kau tak akan tahu bagaimana rasanya cinta manusia. Malam itu aku habiskan dengan kesedihan.

###

Mencintai karena kesempurnaan bukan arti dari mencintai sesungguhnya. Dari dua purnama yang aku lewati sendiri, akhirnya aku menyadari bahwa aku hanyalah pengalih dari cintamu sebenarnya. Kau selalu bilang jika cinta itu membutuhkan pengorbanan. Mungkin inilah saatnya aku melakukannya. Memelukmu melalui doa-doaku.

Jika berada didekatmu aku tersakiti, lalu menjauh darimu aku tak bisa. Tuhan, cinta ini salah.

23 februari - 13 maret 2013
semua cinta itu benar, hanya saja terkadang pada waktu yang salah.
Nailal Mustaghfiri

Rabu, 13 Februari 2013

Seharusnya Kau Tak Setia


Aku harap kau membaca ini..

13 februari 2013

Seharusnya aku merayakan malam valentine bersamamu. Tapi sekarang hanya udara yang menguap melalui celah teralis kayu mahoni yang berdiri kaku diatas pintu kamar. Pandanganku mengudara kesegala penjuru. Menyesap segala kenangan yang berserakan disini. Gelak tawa mungil itu mengumandang disudut kamar. Lalu rengkuhanku semakin erat. Guling mencoba berjuang untuk tetap bernafas dalam dekapan eratku. lalu kenangan semakin mencekik yang akhirnya membuatku kembali tersadar. Kau ternyata telah lama pergi.

###
Hari itu, adalah hari yang aku sediakan laci tersendiri dalam hatiku. Yang terkadang disengaja atau tidak terbuka dan lembaran-lembaran kertasnya berhamburan ke udara. Di sisi kanan pojok atas kertas-kertas itu bertuliskan desember 2012. Ada beberapa yang bertuliskan november, tapi hanya beberapa. Lalu sisanya januari dan februari.

Entah siapa yang memulainya, aku ataukah kamu. Yang jelas kita sudah saling terikat meski tak pernah menyebutkan. Diantara baris aksara yang berpelukan ada rasa cinta. Aku mencintaimu meski hanya melalui barisan aksara yang kau kumpulkan. Satu alasan yang bisa aku sebutkan mengapa aku mencintaimu; ” yakni dengan benda yang sederhana saja kau bisa buat hatiku melayang, bagaimana dengan benda yang lebih berharga lainnya?”.kau hanya tersenyum, dan seperti biasa menganggapku hanyalah bualan semata. Aih!

Kita saling mencintai, tak perlu membutuhkan sebuah hubungan yang rumit. Hanya saling berbagi cinta saja bagiku itu sudah cukup. Begitulah katamu disela dekapanku. Berbisik lembut. Lalu aku hanya tersenyum. Lalu diakhir kalimat kau berkata : “aku rasa cinta ini terlalu cepat, pastilah akan cepat pula akhirnya”. Kudekap kau dengan sekuat tenaga. Aku tak ingin kehilanganmu meski hanya sekali.

###
Beberapa hari sebelum purnama. Harusnya bulan tak lagi tertelungkup sabit. Entah mengapa hari itu bulan terlihat sendu. Dengan cepat kau pergi begitu saja. Tanpa ada peringatan apapun. Kemudian malam-malam selanjutnya menjadi murung. Bulan tak pernah berhasil purnama.

###
Dengan segenap tenaga kupejamkan mata. Jam wekerku berkata sudah pukul 2 pagi. Dan aku belum bisa terlelap. Ada ribuan pisau menyayat hati. Lalu aku sibuk membuka laci dihati. Mencari penyebabnya. Dan aku temukan kau disana dengan kebahagiaan yang kau inginkan dengan orang lain.

Lalu entah bagaimana aku sudah berhadapan dengan ombak yang berderu menuju pantai. Mereka berkejaran seakan menghampiri, begitulah katamu. Setelahnya aku menoleh kepadamu, kau tersenyum manis, dan aku membalasnya. Seperti yang aku lakukan semenjak pertama kita bertemu, ada rasa menyenangkan dan menenangkan karena kita selalu begitu.

Aku mencoba bertahan dengan tatapan kecil ketika angin laut menerpa wajahku. Mataku menyipit. Lalu kau datang dengan wajah yang seakan melihat bintang jatuh. Berbinar. Katamu, kau suka melihatku dengan mata yang sipit. Dengan mata ini kau berkata selalu mengingatkanmu pada laut. Pernah kau bilang, rambut ikal saat panjang akan mengingatkan pada ombak yang bergulung-gulung menghampiri. Hatiku bagai koral yang harusnya kau jaga dengan sepenuh hati. Entah meski aku masih belum bisa menemukan alasan yang tepat untuk kedua relasi tersebut tapi aku masih mengingatnya. Karena aku sediakan laci sendiri dihatiku untuk menyimpan suaramu.

Kau sudah jauh pergi. Itulah kenyataannya. Saat hujan mengetuk pintu rumah, tapi entah bagaimana mengapa malah pintu kenanganku yang terbuka. Lalu seketika seluruh penjuru ruangan menjadi begitu sesak. aku mengulurkan tangan untuk minta bantuanmu buatku berdiri, susah sekali. Separuh tubuhku rasanya terkubur.ingin rasanya segera berdiri dan menghampirimu yang semakin jauh ke cakrawala. Lalu kita menyambut fajar dan menghabiskannya sampai renta. Tapi kau tak bisa.

Kau hanya menoleh kebelakang sebentar lalu tersenyum. Seakan memintaku untuk bisa berdiri sendiri. Aku coba mengumpulkan sendi-sendiku yang berserakan. Aku goyah. Aku tak mampu, dan kemudian ku putuskan untuk duduk saja. Sebentar lagi, pelan-pelan aku akan mencoba untuk berdiri lagi.

Malam mulai terlipat, beberapa bintang mulai meredup dan pamit. Itulah aku melihatmu berjarak beberapa jengkal. Aku susuri dan mengingat-ingat. Kenapa bisa cinta bisa terjatuh disetiap sentinya.

Entah mengapa, ketidak berdayaanku kali ini membuatku berjarak ribuan teluk darimu. Ada keterpaksaan yang harus aku peluk sendiri. Ditinggal merupakan hal yang menyedihkan, tapi ketika dipaksa untuk meninggalkan adalah hal yang paling menyedihkan.

Aku setengah berbisik padamu, takut mengganggu bulan yang beringsut pamitan. “kemarilah, temani aku disini. Duduklah disampingku subuh ini”.

Kau hanya mengeleng kemudian tersenyum.

Aku mengulurkan tangan kembali. “kalau begitu pegang tanganku, tak perlulah kau buatku berdiri. Cukup pegang tanganku saja”.

Kau hanya terdiam dan seperti biasa dengan wajah datarmu.

“aku tak sanggup untuk berdiri menghampirimu, cepat kemari, temani aku”.

Aku tak sanggup berdiri, aku terus mengulurkan tanganku meminta bantuanmu. Mengharapkan belas kasihan. Aku benci melihatku seperti ini.

Kamu masih ada didepan mata, bahkan masih terjaga dihati. Tapi entah kenapa kau begitu sangat keji. Ku genggam pasir dan melempar kearahmu.

“mengapa kau tak membantuku berdiri?!”.

Aku berusaha bangun kembali. Tapi rasa itu membuatku jatuh terkalahkan gravitasi. Aku terjatuh.

Saat aku mengangkat kepala, aku melihatmu yang sudah berjalan menjauh.

“jangan tinggalkan aku!”. Aku berteriak dengan segenap tenaga. Tapi yang kupunya isakan tangis yang teredam.

“bawa aku!”. Teriakku keras-keras.

Matahari mulai menyeruak diantara kita. Suasana semakin terang dan dari kejauhan kau berpaling dan sembari berkata,
“kamu pasti bisa berdiri, kamu pasti sanggup berjalan. Tanpaku. Kenali luka mu, maka kau akan bisa menyembuhkannya. Jangan pura-pura lupa, nanti semuanya mati rasa.”

Kau perlahan menghilang dan diikuti bayanganmu.

Batinku berontak. Kau tak boleh begitu, kau tak boleh mencoba untuk setia. Kau harus bawa aku kemanapun kau pergi, meski entah dengan siapapun.

Kau tak boleh pergi.

Saat itu, seharusnya aku menahanmu untuk dirumah lebih lama. Mencegahmu untuk mencoba setia. Dan akhirnya kau pergi, meninggalkan aku sendiri, kehilanganmu, dan belajar berjalan lagi.

13 februari 2013
Adaptasi dari Rahne Putri
Terima kasih telah memberiku pelajaran berharga; aku hulu dan kau hilir. Sayang, rindu ini adalah salah muara. @naelalo

Senin, 11 Februari 2013

Tipe Perselingkuhan menurut penyebabnya


Good evening !!! udah lama banget ya nggak ngeblog dengan style bahasa yang ga-ol ginih.. #LompatLompat. Jadi begini, maksud kedatangan gue disore ini mau ngebahas tentang “SELINGKUH” (penonton tepuk tangan riuh rendah) . bukan dilihat dari sisi yang biasa tapi dengan proses pendekatan yang lain. #ApaSih . oh ya ini 100% berdasarkan pengalaman yang diadaptasikan, jadi mohon maaf jika memang ada yang tersungging, maaf kita tidak menerima bacokan. #Teges
Pasti banyak yang berfikiran kalo selingkuh itu adalah “NODA” dalam sebuah hubungan. Ya memang beberapa kejadian “perselingkuhan” itu berdasarkan kekejian pelaku, tapi ada juga kok yang dipaksa selingkuh, ada juga yang terpaksa selingkuh. Jadi, mula-mula akan saya jelaskan beberapa jenis perselingkuhan. Yang pertama berdasarkan penyebabnya.

1.       Structural Affairs

Oke, yang pertama ada perselingkuhan struktural. Judulnya gue bikin berbahasa inggris karena memang terlihat keren aja sih #Maksa. Perselingkuhan ini terjadi disaat kondisi kualitas pasangan (penawaran) terhadap kemauan lawan jenisnya (permintaan) sangat tidak seimbang. Jadi, ketidakseimbangan tersebutlah yang membuat proses perselingkuhan itu terjadi.
Mari lihat study kasus berikut:
1)      Ada seorang cowok yang nembak seorang cewek, mungkin karena terpesona pada pandangan pertama maka jadianlah mereka. Tapi, perhatian yang diberikan si cowok hanya manis sewaktu PDKT, tapi setelah pacaran terlihat biasa saja. Contoh:
*SMS* PDKT : cewek: “cakep, aku laper..makan yukk..”
                            Cowok: “iyaa.. ayo.. dimana? Aku jemput yaa..”

Akan terasa sangat berbeda ketika sudah berpacaran. Contoh:
*SMS* Pacaran: cewek: “sayang, aku laper, makan yuk!”
                                Cowok: “ makan aja sono sendiri. Gua sibuk. “

See? Begitulah akhirnya ketika salah satu pasangan merasa kekurangan terhadap pasangannya maka ia akan secara disengaja ataupun tidak akan mencari pelengkapnya di orang lain. Salahkah? Menurut gue enggak.

2.       Cyclical Affairs

Nah, di tipe yang kedua ini adalah perselingkuhan yang mempunyai siklus. Maksudnya? Maksdnya adalah perselingkuhan yang terjadi diwaktu tertentu saja, dan bila waktu yang disebut tertentu itu sudah lewat maka perselingkuhkan itupun akan berakhir. Biasanya ini terjadi ketika seseorang yang sedang membutuhkan pendamping untuk valentine, liburan ataupun penyemangat buat ujian semesteran tapi pacar tidak bisa karena kesibukannya sendiri. Waktu-waktu yang sering dijadikan cyclical affairs itu biasanya long weekend, valentine, new year’s eve, dan masih banyak lagi. Tapi tenang saja, affairs seperti ini biasanya akan segera berakhir ketika sudah memasuki rutinitas kembali bersama pacar. Jika diibaratkan ekonomi, affairs ini bisa dikatakan akan terjadi ketika penawaran itu berbanding lurus atau melebihi permintaan pasar. Dengan catatan waktu mempengaruhi kadar cinta seseorang. Nah disini akan gue beberin beberapa tanda-tanda pelaku cyclical affairs,
1)      Suka bilang “aku lagi pingin sendiri dahulu” dengan alasan yang jelas. (nb. Kalo baru sekali atau dua kali ya nggak papa kali yaa..)
2)      Sering hangout bareng orang-orang yang tidak dijelaskan identitas aslinya. Seperti namanya, siapanya siapa dan mungkin jenis kelaminnya saja tidak dibicarakan.
Oke, itu dulu aja. Kalo ada yang kurang bisa ditanyakan lagi nanti yaa..mari kita lanjut ke poin berikutnya.. #GasPol

3.       Frictional Affairs

Di poin terakhir ini ada perselingkuhan friksional. Maksdnya adalah sebuah kondisi perselingkuhan dimana penawaran dari salah satu pasangan terhadap permintaan pasangan telah dianggap kadaluarsa, dengan kata lain salah satu pasangan merasa bosan. Pasti kalian juga merasakan bosan dalam menjalin sebuah hubungan, kan?nah pada saat itulah perselingkuhan friksional itu terjadi. Biasanya hal ini terjadi ketika seorang pasangan merasa sakit hati dijahilin, dicuekin, ataupun di kasari oleh pasangannya, yang kemudian mencari seseorang lain yang bisa menyembuhkan lukanya. Tapi nanti setelah sembuh para pelaku perselingkuhan itu akan ditinggal balikan dengan pacarnya. #Guebanget #Mewek . seperti yang gue bilang di official account twitter gue: terkadang, para pemeluk dingin dan kesepian orang lain itu malah sering merasakan kesepian dan kedinginan sendiri dari orang yang dipeluk. #OkeSip.

Oke, itu dulu, semoga anda sudah tahu mana-mana tipe perselingkuhan anda semua.. bab selanjutnya akan segera terbit. Tunggulah dakuu!! #ManjatPohonKelapa. jangan lupa follow twitter gue @naelalo yaaa... :* ekso-ekso
Byee...