Aku tulis semua yang masih aku ingat, lagi pula selagi aku ingat. Hari ini adalah hari kelahiranku serta kematianku. Demi Tuhan aku hanya mewarisi kertas ini. Aku terlahir tidak membawa apa-apa maka aku berpulang pun aku tidak akan membawa apa-apa.
###
Detak jantungku semakin lemah, para dokter cemas karena darahku keluar banyak, sumsum tulangku sudah hampir berhasil diganti, tapi pendarahan semakin deras, kulihat rasa sakit menjalar dari kaki dan terus naik keatas. Menggerogoti kaki-kaki ku, inikah namanya sekarat, Tuhan? Sudah mencapai perut sakit ini, dan semakin naik. Tidak ada tanda-tanda detak jantung lagi di mesin itu, sakit itu semakin naik, sampai dibawah hidung, kulihat dia tersenyum padaku, senyum yang akan selalu ku rindukan. sakit semakin naik dan akhirnya membawa aku melayang menjauhi duniaku.
###
Diruang putih itu terlihat banyak orang memakai masker dan berbaju hijau. Mereka bersiap-siap dibawah lampu bulat besar seperti mau operasi serius. Itu memang operasi. Terlihat seorang terbaring lemah disana, berlilitan selang-selang pernafasan, jarum infus yang menancap ditangan kirinya serta bunyi mesin pencatat detak jantung yang tiap detik selalu berteriak. Keringat dengan jelas mengucur dari para dokter. Sepertinya mereka tahu kalau ini semua tidak akan berhasil.
###
Orang yang terbaring diruangan itu adalah aku, aku dibawa kerumah sakit akibat pingsan setelah lelah seharian mengurung diri dikamar. Diatas tempat tidur yang sedang didorong orang-orang berbaju putih itu aku masih melihat ibu dan bapak yang menangis sesenggukan. Kakak perempuanku juga seperti tanpa harapan. Sekilas dari raut mereka mempunyai arti siap melepasku selamanya. Aku mengulurkan tangan, aku ingin memegang tangan mereka tapi aku tak mampu. Lampu putih itu semakin cepat saja melewatiku yang terbaring lemah. Dokter segera memeriksaku dan menancapkan infus di tangan kiriku. Keadaanku semakin memburuk. Aku di diagnosis terkena leukemia atau orang awam mengatakan kanker darah. Sistem sumsum tulangku terlalu banyak memprodusi sel darah putih yang berlebihan. Sehingga kekebalan tubuhku tak seperti orang lainnya. Aku mudah pendarahan dengan buktinya ketika infus masuk ketangan kiriku secara bersamaan tanganku menangis darah. Platelet ku menjadi sel yang minoritas sehingga susah untuk membekukan darahku dengan cepat. Aku semakin takut ketika aku mendengar luekimia limfositik akut. Penyakit yang secara teratur menyerang system daur ulang ditubuhku yaitu limfa. Menurut mereka aku harus ditransplantasi sumsum tulang agar produksi sel darah putihku normal. Tapi itu tentu sangat beresiko menyangkut nyawaku. Salah penempatan saluran dalam sumsum saja nyawaku bisa melayang sepersekian detik. Kekuatanku semakin melemah. Semua terasa gelap dan aku pingsan.
###
Sore, sehari sebelumnya.
Hari ini adalah hari yang sangat berat untuk aku lewati. Baru kali ini aku merasa kecewa dan sangat kecewa terlebih orang yang mengecewakan itu adalah orang yang aku cintai. Aku sedih karena mungkin dia tidak akan menerima aku apa adanya. Aku mencintainya karena dialah orang yang selalu menyemangatiku dan memperlakukanku selayaknya manusia normal. Dengan keterbatasanku ini aku ingin menjadi orang normal sekali saja dalam hidup ini. Dan dialah orang yang berhasil menjadikanku seperti itu.aku sangat bahagia bisa bersamanya. Seakan penyakit itu hilang entah kemana jejaknya. Bagiku dia adalah dewi yang membawa kebahagiaan. Hanya seharusnya aku tak mengharapkannya berlebihan.aku salah dan aku sangat salah telah mengharapkannya terlalu. Kupandangi semua foto-foto yang tertempel didinding berwarna biru muda sebelah utara kamarku. Aku lihat fotoku bersamanya ketika kami berlibur di pulau seribu. Aku tersenyum karena waktu itu aku bisa memegang tangannya erat. Tapi sekian detik lagi aku tertunduk sedih Karena sekarang aku telah lelah menunggu dan mengharapkan. Ku raba foto yang tertempel dua tahun yang lalu, foto yang dia tempel sendiri dengan bujukan manjanya. Aku senang bila mengingat saat-saat itu. Kuputar tubuhku menghadap kasur putih bercorak kartun sponge bob, aku sangat suka sekali dengan kartun itu. Kulihat handphone yang tergeletak lemas tak bersuara dari tadi. Ku ingat sekali dia memanggilku sayang tiap pagi. Meski kita tak berpacaran, aku sudah bahagia sekali mendengar kata sayang dari dia. Tekanan darahku menurun. Sejak kecil aku memang didiagnosis mengalami Down Syndrom yang mana sangat mungkin sekali terkena leukemia. Syndrome ini adalah gejala dimana seorang merasa tertekan, kalut resah dan rasa was-was yang berlebihan terhadap sesuatu yang memicu hormon didalam tubuh bergerak cepat ke otak, lalu otak akan meresponnya dengan getaran dimana ini mengakibatkan sumsum tulang akan memproduksi sel darah putih secara berlebihan. Itulah awal dimana aku terkena leukemia. Dan aku sedang merasakannya. Aku sesak nafas, semua terasa buram, hitam.aku merintih sambil melihat tembok penuh foto-fotonya, aku coba meraih obat penenang ku diatas meja samping kasur. Aku merayap, menjulurkan tangan kiriku, aku hampir meraihnya tapi obatku terjatuh. Semua berantakan masuk kolong bawah kasur. Aku tak dapat melihat. Dalam gelap itu aku lihat kamu, tyas, widyaningtyas, perempuan yang tega berlaku seperti ini terhadapku. Kau tersenyum, dan sungguh ingin ku katakan betapa manisnya dirimu itu. Tapi mulut ini kelu. Lemas.
###
Pagi hari sebelumnya.
Aku bergegas kekampus untuk menyelesaikan urusan dengan pihak kampus yang sudah melayangkan surat peringatan untuk segera melunasi angsuran semester ini. Terdengar teriakan ibu dari bawah mengajakku untuk sarapan dahulu sebelum berangkat. Kuiyakan saja suara tadi. Aku sudah biasa mendengar ocehan yang terkadang sangat kurindukan itu. Aku turun memakai baju kesayanganku, lengan panjang warna coklat dengan celana jeans kelabu disertai sepatu kets warna krem. Aku turun. Sambil tersenyum ibu menyiapkan sarapan roti panggang selai coklat kacang kesukaanku. Aku meringis saja melihat roti itu tergelak tak berdaya siap untuk aku raih memakannya. Menghabiskan roti di jam pagi seperti ini bukanlah membutuhkan waktu yang sangat lama bagiku. Cukup lima menit saja aku sudah menhabiskannya dan tidak lupa susu kiriman yang biasa aku pesan dari saudara jauhku dikota sebelah. Aku selalu merindukan susu murni dari sapi perahan yang biasanya ibu sembari menyuguhi ku seraya mengatakan jangan lupa baca bismilah dulu sebelum meminumnya. Dan aku tak akan lupa hal itu. Motor sudah aku panaskan, dengan menstarter dan tunggu sampai lima menit saja sudah cukup untuk membawaku menuju kampus. Aku bahagia saja menghadapi hari, aku bersyukur karena Tuhan masih saja memberiku kesempatan memperbaiki hidup. Jalanan semakin panas, aku menepi untuk menenggak minuman dingin yang biasa dibawakan ibu ditas punggung biru-tua ku yang semakin usang saja. Aku melanjutkan perjalanan. Kota ku semakin padat saja. Harus membutuhkan waktu setengah jam untuk sampai dikampus. Ku parkir motorku di base K yang biasa aku tempati, berada didekat kamera pengawas merupakan jaminan yang kongkrit bila terjadi sesuatu terhadap motorku. Ku susuri pinggiran parkiran itu, ku sapa pak Joko satpam parkir yang biasa menyapaku terlebih dahulu. Entah kenapa tak biasanya aku menyapa terlebih dahulu. Kunaiki lift yang langsung terhubung dengan kantor administrasi di lantai tiga. Kulihat jam di pinggiran tembok kantor itu menunjuk pukul sepuluh. Sebelas lebih Sembilan aku menyelesaikan urusan ku, sekarang aku ingin menemui teman-teman maya ku melalui hotspot kampus. Ku buka laptop usang ini, sembari menunggu jaringan aku mengirim sms ke Tyas, menanyakan kabarnya seperti biasa. Terlihat dari smsnya dia sedang sibuk, aku kaget karena ternyata hari ini dia sedang berada dilokasi dekat kampus. Kutanyakan kalau aku ingin menemuinya. Lalu aku bertanya dimana dia berada sekarang. Lama tak dibalas smsku yang terakhir. Jaringan sudah masuk, aku login ke salah satu forum terkenal Indonesia, Selai-kulit-jeruk itulah ID ku, ku pakai nama itu karena Tyas suka dengan selai jeruk, dan kupakai kulit karena kulitlah yang melindungi isi jeruknya. Dan akan mengeluarkan cairan pedih bila terkena mata bila dipegang terlalu keras. Dia masih belum menjawab sms ku. Aku asyik dengan kegiatanku sendiri sehingga satu lebih tiga puluh dua jam itu melirikku tajam. Dia masih belum membalas. Lalu aku mengirim sms lagi, kutanyakan sibukkah dia. Dua menit kemudian dia sms kalau ternyata sudah di angkutan kota. Aku kecewa karena dia tidak menemuiku. Apa susahnya menemui orang yang biasa dipanggil sayang tiap hari dilokasi yang berdekatan. Beratkah melangkahkan kaki untuk melihat orang yang ternyata tulus mencintainya? Semua terasa hampa membaca sms tadi. Dia tidak memberi alasan karena tidak meneruskan smsku menanyakan perihal kenapa tidak bisa menemuiku. Ku kemasi semua karena rasanya siang ini aku harus pulang segera kerumah.
###
Dua hari sebelumnya.
Seperti biasa aku membereskan kamar. Aku dikabari kalau hari ini Tyas sedang dalam perjalan ke kampus. Aku diminta untuk menemaninya selama urusan dengan rencana pembelajaran semester depan dengan wali dosennya. Aku datang dikampus dan dia sudah berada dikelas bersama dosennya. Aku sms kalau aku akan menunggu diluar sampai kelar urusannya. Dia hanya mengiyakan saja permintaanku. Lebih dari dua jam sudah aku duduk dilobi depan kelas. Sebuah kursi berderet-deret membelah lorong menyatukan antara lift dan tangga diseberang. Untung saja baterai laptopku sudah penuh ketika hendak menuju kampus, jadi bisa tahan sampai dua jam. Aku kembali sms kenapa kok lama sekali. Seperempat jam baru dia membalas smsku, katanya aku langsung disuruh pulang saja dari pada menunggu. Aku berkeras untuk menunggunya. Tapi dia juga semakin memaksa. Aku tak bisa menolak, lalu aku langsung bergegas pulang. Kursi itu melihat aku berkaca-kaca. Aku merindukan mu. Sudah lebih dari satu bulan sejak libur semester ini aku tak melihatmu. Aku rindu senyum itu. Dan aku sangat rindu pegangan erat tangan halusmu. Dia membalas bagaimana kalau turunnya mau barengan. Aku jawab tidak usah, aku sudah dijalan. Dia hanya minta maaf saja. Kuiyakan. Kecewa sudah pasti tentu. Tapi sudahlah. Dia juga sedang sibuk. Ku raih obat ditas, lalu aku minum dua butir untuk menenangkan ku. Selain mas Zaki seorang OB tidak ada yang tahu obat apa yang aku minum. Dia sangat mengetahui penyakitku. Sepersekian detik aku kembali tenang, keluar dari parkiran dan meluncur kerumah.
###
Matahari ternyata tak mencintai bulan
Menghindar setiap bulan datang
Lalu muncul ketika bulan sudah berlalu
Karena sinarnya lebih terang dari bulan
Matahari ternyata tak mencintai bulan
Merasa dirinya pantas mendapatkan apa saja
Bahkan mengalahkan hujan sekalipun
Dan mungkin karena gunanya lebih dari pada bulan
Matahari ternyata tak mencintai bulan
Membuat bulan sangat kesepian
Memancarkan cahaya sendu tiap malam
Pelarian bagi orang yang bermasalah, bersama
Matahari ternyata tak mencintai bulan
Tak pernah menyisakan waktu
Tak pernah memberi kesempatan
Dan,
Memang tak pernah mencintai bulan
###
Katakanlah wahai cinta, bila memang kau menjadi bagian dariku, dekap erat hatiku bila mana kau menginginkan kita bersama, berilah wahai waktu untuk membiarkan cinta berbicara, agar senyuman dapat berjalan, agar hati ini melonjak kegirangan. Bagi bulan, matahari tetap saja dunia yang jauh, dunia yang tak akan pernah digapai.
###
Aku Egi Syahrul Darmono, 20 tahun sudah menjalani hidup ini. Mencintai adalah hal yang sangat indah, hal yang bisa mengalahkan apapun, termasuk penyakit yang ganas sekalipun. Bila Tuhan masih memberikan waktu untuk berjalan didekatmu, maka gunakanlah untuk mengatakan yang sejujurnya kepada orang yang kau sayangi bahwa kau sangat mencintainya,sebelum dia pergi dan benar-benar pergi dari mu, begitupun bila ternyata kau tak menyukainya kepada orang yang menyayangimu. Cinta memang buta, tapi tidak bodoh. Cinta bukan batu karang, melainkan pasir bila terkena air pasang maka akan semakin hilang terkikis. Cinta adalah rasa, berjalan beriringan dengan waktu, meninggalkan apa yang sudah menyakitinya. Dan akan semakin pergi ketika sudah tak lagi dibutuhkan.
Tyas, kau memang tetap menjadi dunia yang jauh bagiku.
23 februari 2011,
Kepanasan dikos, merayakan hari jadi sendirian.
Trengguli 1 no.29 semarang
Nailal Mustaghfiri