Cari

Kamis, 04 Oktober 2012

TENTANG KISAH

Tidak ada yang berubah di lobi ini, koloni kursi besi yang berderet-deret juga masih utuh ditengah, lampu neon diatasnya juga masih setia menyinari setiap petang datang. seperti saringan air perasan kelapa lubang kecil-kecil di punggung kursi besi itu, mengizinkan mata untuk menelisik dunia dibawah kolong. Matahari siang menembus kaca nako yang sambung menyambung dari lantai bawah sampai atas yang tepat di dekat tangga menuju ruang atas. Aku masih bisa merasakan panasnya matahari meski jarakku dari tangga cukup jauh. Angin berbisik, mengaburkan debu-debu di udara, masih terasa, masih tercium bau diantara mahasiswa yang berlalu lalang didepanku, tidak ada musik, hanya bau parfum para mahasiswi yang semerbak. Bukan wangi, tapi aneh. Aku mengatakannya aneh karena hanya bau parfummu saja yang ada difikiranku. Dirimu saja. Aku duduk di sudut, didepan kelas paling ujung, dekat dengan lift dan tangga darurat, 511 itulah nama ruangannya. Aku masih menunggu disana. Iya tepat disana. Membelakangi toilet pria yang seringkali tidak ada air. 
Ada beberapa yang duduk sepertiku dijam kuliah seperti ini. Wajahnya mengekspresikan sama sepertiku, seperti menunggu seseorang. Digamitnya handphone berulang-kali, tapi tak juga berbunyi. Berulang kali pula dilihat jam sophie martin-nya. Tak jua ada yang datang. Apakah dia menunggu seseorang, sepertiku? Seseorang yang sudah lama tak jumpa?
 Dirimu menguasaiku detik demi detik tak ada habisnya. Mengisi digit terkecil jengkal jam tangan ku, heran. Kuciumi bayanganmu. Terus ku ciumi bayanganmu jengkal demi jengkal tubuhmu. Saat mataku terpejam lalu terbuka, lalu terpejam lagi.aku ciumi dirimu lekat. “Pakai baju apa hari ini? Selalu aku membayangkanmu, ingin aku membayangkanmu.” 
Hari ini aku berdandan untuknya. Jadi hari ini dia harus datang. Dia pasti datang. Tak mungkin dia melewatkan mata kuliah statistik pak wahyu yang terkenal galak. Tak mungkin hatiku mengatakannya. Tapi hati selalu bilang seperti itu. Entah sudah berapa kali dia absen dikelas ini. Selalu pada saat terakhir, pada saat kangen ku sudah berubah menjadi duri. Alasannya klasik: malas, malas bangun pagi. Jadi dia selalu bolos kuliah. Tapi aku tahu alasan tepatnya. Bukan malas. Jam yang sama dilain hari dia bisa kok berangkat pagi. Padahal aku hanya ingin berjumpa. Hanya untuk sekedar bercerita. Betapa banyak yang ingin kuceritakan padanya. Lewat telepon tentu tidak bisa, dia tidak akan membalas sms dan angkat telponku. Lagi pula aku juga ingin menatap wajahnya lekat. Sangat lekat. Memandang matanya. Aku suka matanya, menikmati tawanya yang renyah, mencium bau parfum yang khas, sangat khas. Jika suatu saat nanti mungkin, mencium bibirnya yang selalu saja manis. Itu bisa dilakukan nanti. Entah dimana saja. Membayangkan itu semua, membayangkannya membuatku bahagia. 
Tapi pagi ini dia harus datang dahulu. Tidak boleh tidak. Kelas masih kosong, hanya satu dua saja yang datang, aku masuk. Tidak ada yang merespon. Karena memang aku tidak suka disapa. Aku selalu sendiri. Seorang lelaki masuk. Duduk dibaris paling depan, dekat meja dosen, berjarak 3-4 deret kursi dariku. Tiba-tiba pintu terbuka, wajahku terangkat dan harap-harap cemas kalau saja yang masuk adalah dia, pintu kembali tertutup dan sungguh betapa kecewanya aku. Sekian menit, terdengar suara berisik dari luar, seperti ada keributan. Pintu kembali terbuka. Aku langsung mengadahkan kepala, melihat kearah pintu. Hati ini langsung melompat, memacu adrenalin naik kekepala.menahan harap. Lewat sudut mataku lelaki yang duduk didepanku juga terangkat perlahan, sama-sama cemas. Kini seseorang telah tiba,entah untuk siapa. Nafasku tertahan, lalu seperti di film action dia muncul secara slow motion.
 Matanya menangkapku sepersekian detik. Tapi segera berpaling. Bergegas menuju lelaki yang duduk paling depan tadi. Wajahnya berseri. Sekejap itu membuatku bahagia, tapi selanjutnya menusuk ulu hatiku. Bibirnya mengucap,”pagi sayang..”. Mereka berpelukan, saling mencium pipi lalu duduk berdampingan. Dosen masuk setelahnya. Pelajaran pun dimulai. Dan aku teronggok disudut. Sepuluh menit, lima belas, satu jam. Satu setengah jam. 8.40 pagi. Jam tanganku berbisik, ada 35 mahasiswa yang duduk terkantuk-kantuk dikelas, mendengarkan ceramah dosen statistik pagi ini. Banyak yang sudah menghabiskan kertas untuk mengabadikan ceramahnya. Aku cuma bisa menuntaskan air mineral gelasan. Lalu kubuang disudut kelas. Hambar dan sedikit pahit. Air telah sepenuhnya turun deras ke rongga dadaku. Menenggelamkan semuanya yang ada didalam. Aku merasa berat. Tapi aku punya pilihan. Di atas meja, tulisan tentang statistic milik teman terlanjur ditangkap oleh pena. Ia terpaksa menunggu. 
 ###
Ingatan adalah ruang yang memisahkan antara saat ini dan cintaku. Tapi juga satu-satunya yang mengkaitkan. Selebihnya tidak ada lagi. Terakhir dia didekatku, dia meminta untuk tak lagi mengatakan semua ini. “maaf aku tidak bisa, dan anggap saja ini tidak pernah terjadi diantara kita.”- seperti menyuruhku untuk melupakan pena yang tertinggal di kos. Lalu ia hilang ditelan tangga kebawah. Setelah itu, dia tak pernah berbicara lagi denganku. Tak pernah aku telpon lagi kenomernya. Sisi kiri tubuhnya, punggungnya yang dilihatnya pertama kali, juga kepala yang tertutup kerudung mungil. Dan rancak kakinya menjauh. Seolah peristiwa itu baru saja terjadi, dekat. Berulang. 
 Aku sering bertanya, berapa jauh dari kos ini menuju senyum yang siang itu kutelan bulat-bulat hanya untukku?berapa ratus kilometer yang harus aku tempuh untuk mengulang tawa yang menyegarkan itu? Berapa kali tikungan untuk sampai ditempat dimana aku bisa mencium wangi tubuhmu dari dekat? “berapakah jarak yang harus aku tempuh ke waktu itu?” kutanyakan kepada siapa saja, termasuk pada langit. Tidak ada yang bisa menjawab. Atau mungkin mereka tahu hanya saja mereka tidak berani mengutarakannya. “perjalanan itu,” kata seseorang akhirnya, “akan memakan waktu satu hati saja.” 
 ### 
Dua belas purnama di musim penghujan. Coretan dikalender menunjukan-ia telah sangat jauh. Tanggal-tanggal yang bewarna hitam spidol boardmarker permanen. Sengaja kucoret untuk menunjukan kepadanya bahwa aku tak akan pernah lupa pada hari itu-15 maret 2011. Sebenarnya tanpa coretan itupun hatiku sudah tahu. Tiga hari lagi tahun akan pergi, lalu hadirlah tahun yang baru, akan kuganti kalender itu dengan yang baru, juga. Terpaksa. Mungkin juga baju kemeja hijau lumut yang tergantung di dinding, yang sudah lusuh, yang sudah tak lagi aku pakai sejak tanggal itu. Terkadang aku mual melihat baju itu, rasanya hendak membakar baju itu, karena dia, tapi hanya itu sesuatu yang mengingatkanku padanya. Tanpa bisa ku tahan, sabetan pisau menggeret masa lalu ke depan mata. Selalu aku dan dia. Dia dan aku. Ada saja kesempatan yang aku gunakan untuk dekat dengannya. Mengabadikannya dengan waktu. 
Sangat aku ingat ketika dia risih terhadapku mungkin karena aku yang sok tahu tentang semua yang ia lakukan. Acara kumpul-di depan kelas berubah menjadi perang dingin, hanya aku dan dia, saling diam. Bukan saling, dia yang diam. Sementara aku mencoba mencari celahuntuk mencairkan diamnya yang sekeras beton. Masih banyak hari-hari yang ku selesaikan dengan luka. Selalu dengan sesuatu yang aku lakukan. Mendekati teman-temannya, bercanda dengan teman dekatnya, meminjam buku miliknya, atau masuk sama-sama terlambat. Sepertinya ia punya seribu alasan untuk menjauhiku. Dan aku? Tidak satupun. Terlalu cinta? Ia akan segera bilang, “gombal”. Tapi dihari dia pergi, ia tak marah. Tak ada rasa risih, dan juga sepatah katapun. Ia hanya membawa kabur cintaku dan segalanya. Di hari ia pergi aku tak menangis, tak akan bisa. Mungkin karena sesungguhnya tanpa pernah mau aku kuakui, aku sadar-ia telah lama pergi. 
 ###
Cakrawala itu tidak rata, hanya saja tertutup gedung-gedung tinggi ditimur. Cerah tapi samar, dengan angin kencang menerpa lantai lima, di jendela diujung utara gedung yang lain. Garis lurus yang samar-samar terhalang sesuatu. Menggantung dilangit bagian bawah, tempat dimana matahari muncul, tempat dimana keceriaan baru akan muncul-begitu katamu setiap saat. Kesanakah kau akan pergi? Kau mengangkat bahu sekali, sembari tersenyum manis dan menoleh kearahku. Aku tak yakin. Lalu kau selalu meyakinkanku dengan tepukan tanganmu dipundakku. Yang ku tahu hanya: kau ingin pergi, segera pergi, bukan karena mencintaiku, tapi karena cintaku membebani tubuhmu. Begitu berat hingga kau kelelahan. Penuh seperti orang kekenyangan. Satu-satunya cara yang selalu kau fikirkan adalah berhenti mengkonsumsi cintaku. Mengkonsumsi tatapan mataku yang penuh harap. Memakan bualan-bualan omong kosongku. Satu-satunya cara yang terbesit diotakmu adalah: pergi. Aku hela nafas sekali lagi, kutatap dekat matamu. Sesuatu yang tajam menyayat hati. Menusuk sampai tembus. Membuatnya terasa ngilu bukan buatan, membuat mataku diguyur hujan. Memintamu untuk tetap tinggal adalah hal yang tidak mungkin-aku terlalu mencintaimu-meski tetap tak mengerti mengapa hal itu bisa jadi beban. Dan kau telah berkata jujur. Maka, bisikku:pergilah. Kau terkejut, mungkin kau sangka aku akan menahanmu. Bibirmu bergetar. Susah payah kau menahannya untukku. “sungguh?” kau masih kaget. Aku mengangguk. “kenapa?” pegangan handphonemu tiba-tiba lemas. Berpindah dari jari satu ke yang lain dibawahnya. Menggantung tak jelas. Hampir lepas. 
Kebebasan ini seketika menjadi sangat menakutkan. Hidupmu tiba-tiba menjadi seperti balon yang tertip udara kearah timur-karena disanalah kau hendak pergi-tanpa jangkar yang akan menghentikanmu. Hidupku tiba-tiba menjadi balon yang kemps dan tidak ada udara yang bisa melambungkannya naik kembali. Tapi aku tak penting. Kau lah yang penting dalam hidupku. Aku diam. Kau juga diam. Aku tahu kau ingin pergi. Maka aku mengangguk lagi. Meski tak yakin. Karena, jawabku, jika kau tak pergi, bagaimana kau akan tahu jalan pulang? 

 Semarang, 11 september 2011 Makasih ya mbak avianti armand. Favorit deh..  Kado special buat mas yono; selamat menempuh hidup baru. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar