Cari

Selasa, 18 November 2014

Sepucuk Surat untuk Masa Depan

Teruntuk masa depanku,

Entah aku harus mulai dari mana kalimat-kalimat ini agar bisa diterima dengan baik olehmu-masa depanku. yang jelas aku ingin sekali bicara empat mata denganmu. semua gemuruh keraguan, kegelisahan ini agar kau juga merasakannya. tentangmu, dan tentang masa depan kita.

masa depanku, bertemu denganmu adalah anugerah yang Indah dari Tuhan. andaikan bisa dibayangkan, kamu itu adalah usapan tangan renta ibu saat aku meringkuk sendu dipangkuan dikala hujan mempermainkan aku sampai kuyu. Damai, tenang meski masih menyisakan kegelisahan. gelisah karena akan bertahan sampai kapan usapan ibu itu.

teruslah menjadi sesuatu yang selalu aku ragui. karena ragu itu penting. tanpa keraguan kita akan menjadi ambigu antara percaya dan tidak sama sekali. ragu membuat suatu kepercayaan makin terus hidup. maafkan aku jika aku terus selalu ragu padamu. aku selalu mencoba untuk tidak ragu, tapi aku khawatir jika ke-tidak-ragu-an-ku menjadi tak lagi peduli. tentunya kamu tidak mau hal itu terjadi. tetapi, jangan kemudian ragu menjadi pemicu badai-badai kita.

jujur aku tidak pernah peduli tentang masa lalumu. karena dengan itu semua, kamu menjadi seperti ini. dan aku menerimamu komplit sepaket-paketannya. aku menerimamu bukan karena kamu cantik. ah, terlalu klasik dan naif rasanya jika hanya karena cantik aku mau bertahan. bukan juga karena kamu kaya, lalu aku mau bertahan denganmu sekaligus aku mau menyelamatkan diriku sendiri dari garis kemiskinan. aku menerimamu karena aku rasa kamu yang bisa meredam gemuruhku, sedihku dan mau berjuang denganku.

Sebelumnya aku ingin jujur. Bagiku, wanita itu tidak untuk diperjuangkan. rasanya tidak adil jika hanya wanita saja yang diperjuangkan. Lebih tepatnya adalah sama-sama diperjuangkan. Masih ingat cerita Adam dan Hawa yang turun ke bumi setelah diusir dari surga? mereka berdua sama-sama berjuang untuk saling mencari satu sama lain. pernah dengar cerita Hawa malah duduk dan menunggu Adam menjemput? tentu tidak, bukan? itulah esensi Nabi-Nabi kita menceritakan bagaimana mencintai.

Karena, aku pribadi, dibanding dengan yang lain, aku tidak ada apa-apanya. aku sepenuhnya sadar jika aku tidak kaya. yang bisa melindungi kamu dari sengat matahari, atau deru badai hujan di bulan november. Aku mohon maaf jika hanya seperti ini saja saat ini aku padamu. mohon maaf aku tidak mirip dengan masa lalu -  masa lalumu.

aku juga sadar jika aku tak setampan pria impianmu, atau pemain sinetron yang tiap kali kau tonton saat berkunjung kerumah. aku sadar. terimakasih telah mau bertahan. jika suatu saat nanti kamu pergi, aku tetap bangga, karena kamu, pernah bilang cinta padaku.
lalu, aku juga sadar akan semua keterbatasanku. maaf. masa depanku, aku harap kamu terima aku apa adanya meski seadanya seperti aku padamu.

yang tercinta masa depanku, semua orang berhak berbangga akan segala pilihannya dan boleh bersombong. karena semua orang melakukannya. tetapi, jarang ada orang yang mau bertahan akan pilihannya, meski yang lain bisa jadi lebih baik. kamu adalah perempuan yang aku yakini menjadi pendamping hidupku. aku bangga dan sangat bahagia akan pilihanku.cinta bukan berati mendapatkan yang lebih baik saja. tetapi mempertahankan serta memperjuangkan juga. Dari sekian rintangan yang aku hadapi, aku masih mampu bertahan, dan akan terus tetap bertahan untuk memperjuangkanmu. suatu saat nanti, jika memang aku bukan lagi menjadi pilihanmu, aku ikhlas kau panggil apa saja.

aku akui, aku tak punya apa-apa. apa - pun aku tak punya. tapi aku punya hal yang sering kali kamu tak pernah mampu untuk melihatnya. aku punya doa dan waktu. iya, doa dan waktu. bisa saja mereka berjanji untuk membelikanmu mobil atau rumah seperti pesan-pesan singkat yang dikirim ke handphone mu kemarin sore.  jujur aku bergemuruh. dan aku yakin aku bisa memiliki apapun yang lebih dari bangsat-bangsat yang cuma bisa janji. tetapi, aku harap kamu bersabar denganku. saat ini aku hanya punya doa dan waktu. doa yang aku selipkan disetiap sujudku, agar kamu terhindar dari amarah Tuhan. dan waktu yang selalu aku usahakan disela-selaku mengejar harta.

maafkan aku yang hanya bisa jadi pria yang merasa bisa dan benar atas egala hal dan tidak mau mendengarkan perkataanmu. maafkan aku.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar