Cari

Jumat, 06 Juli 2012

Bulan, ternyata kau terjebak bingkai jendelaku!!



Bulan masih saja menggantung dilangit, condong di arah timur laut rumahku. Sinarnya menembus tirai-tirai jendela ruang tamu. Membentuk labirin bayangan diantara celah-celah tirai yang terbuka karena angin malam.  Aku masih saja duduk disana, disamping jendela besar yang seperti biasa aku duduki tiap sore, hanya untuk melihat orang lalu lalang didepan rumahku, begitulah alasanku disaat ibu menanyakan mengapa aku selalu duduk disana saban sore. Diatas kursi tanpa sandaran berwarna hijau itu aku biasa menyesali apa yang terjadi. Biasanya aku akan beranjak ke surau ketika adzan maghrib memanggil. Hanya panggilan dari Tuhanlah aku bergerak. Selebihnya mungkin tidak sama sekali. Wajahku terpantul dikaca gelap itu, melihat keluar dengan pandangan yang seakan tak berujung.  Meski hanya melihat pekarangan milikku yang ditumbuhi semak belukar, aku gemar melihatnya setiap sore dengan seksama.

Suara ibu memecah keheningan malam, disentuhnya pundakku dengan lembut, aku tak bergeming, mungkin terlalu asyik dengan pemandangan diluar sana. Ibu menanyakan kenapa sampai larut seperti ini. Aku hanya bisa mengatakan bahwa harus ada yang disalahkan atas semua yang terjadi. Ibu menghela nafas mungkin tanda sudah mulai letih mendengar keluhanku. Tangan halus itu bergerak meninggalkan ku, hampir kulirik melalui ekor mataku, tak sempat.

Harus ada yang disalahkan atas semua ini, pikirku. Sembari membenahkan posisi dudukku aku terus mengulang-ulang kejadian itu berurutan. Pak Lurah yang korupsi dana pembangunan madrasah yang dikepalai oleh bapak,gunjingan yang dialamatkan kepada bapak tentang tindakan bapak yang mencoret-coret lantai masjid,  pak Lurah yang mengambil kawat penyangga tatanan bambu  dipekarangan depan rumah, Yono edan yang minta ijin mengambil beberapa bambu untuk keperluannya, lalu tumpukannya roboh, beberapa hari tidak dihiraukan oleh bapak, dan akhirnya aku membantu bapak memperbaiki tumpukan bambu itu, dan sore harinya bapak masuk rumah sakit karena terserang stroke. Aku terus berfikir. Harus ada yang bertanggung jawab atas semua ini, ketusku.

Ku kutuki diriku sendiri. Mengapa harus terjadi seperti ini, Tuhan mungkin marah dengan ku, dan memberikan ujian seperti ini. Ku pandangi bulan yang masih condong kearah timur laut itu. Andai saja bulan bisa bicara, mungkin dia akan mengatakan bahwa dia malu di lihat secara terus menerus olehku. Bulan, malam ini aku bercerita untuk mu, semoga kau bisa mendengar akan semua ceritaku. Semoga.


Xxx

Hari itu adalah kepulanganku dari kota setelah dua bulan aku menginjakkan kaki dikota untuk kuliah. Sewaktu turun dari bis ku lihat bapak seperti biasa; memakai sarung merah hati dan setelan jas madrasah berwarna abu-abu 80% lengkap dengan peci sulam tiga warna yang biasa bapak pakai setiap mengajar dan hanya pada acara yang menurutnya besar. Tapi pada waktu kelulusanku di SMA bapak tak memakai peci tiga warnanya. Mungkin analisis ku kali ini kurang tepat. Melangkah sepulang dari madrasah bapak terlihat murung. Ku salami beliau, kucium tangannya, aku kangen sungguh sangat kangen dengan beliau. Beliau hanya tersenyum dan mengusap rambutku yang acak-acakan. Bapak menanyakan jam berapa berangkat dari kota, aku hanya tersenyum. Sepulang kuliah mungkin. Aku tak yakin. Terlihat disakunya ada sebuah amplop coklat bertuliskan Departemen Dinas Pendidikan Madrasah.  Perihal: Pemberitahuan dana Bantuan. Ku fikir bapak seharusnya bahagia karena sekolah yang ia perjuangkan selama berpuluh-puluh tahun mendapatkan bantuan dari pemerintah untuk yang pertama kali. Mungkin pemerintah itu sudah membuka matanya untuk rakyat.   Kutanyakan kepada bapak tentang isi surat itu, namun aku segera menyadari pasti ada yang tak beres dengan semuanya. Kulihat air muka bapak. Sekali lagi kulirik. Ini memang tidak beres. Aku beriringan berjalan kerumah dengan bapak. Sore itu aku seperti tercekat untuk menceritakan segala sesuatu yang baru aku alami dikota, bukan saatnya, dan memang belum saatnya untuk bercerita.

Malam harinya, seperti ritual yang biasa dilakukan oleh keluargaku. Makan malam harus diikuti oleh semua anggota keluarga, dan sudah dua bulan ini hanya bapak, kakak perempuan pertamaku  dan ibu yang menjalankan ritual itu. Di waktu itu kami biasa menceritakan apa yang sudah terjadi bersangkutan dengan kami, seperti bapak dengan cerita murid-muridnya yang sangat nakal, ibu dengan cerita kesuksesan si Anto yang sekarang bekerja di luar jawa dan tiap Idul Fitri selalu mudik menggunakan mobil yang berbeda, kakak perempuanku yang selalu menceritakan sosok suami idamannya yang sampai sekarang belum juga ia dapatkan dan terkadang  aku yang bercerita tentang pemerintah, system di Indonesia, serta perilaku para politikus di Negara ini. Untuk yang cerita ku, bapak selalu menyimak dengan hati-hati apa yang aku ucapkan, mungkin baginya aku adalah pembawa berita selayaknya ditelevisi. Sesampainya korupsi di ceritaku yang kesekian kalinya, bapak tertunduk, mungkin perkataanku ada yang menyinggung beliau. Ku hentikan ceritaku, kutanyakan pada bapak apa yang terjadi, beliau hanya menggeleng. Ritual makan malam berakhir dengan hening. Tidak biasa dan sungguh tidak biasa.

Sepulang dari masjid tak sengaja aku menjatuhkan buku-buku milik bapak dirak mejaku.  Setelah aku tinggal di kota, kamar sekaligus perabot sudah menjadi barang milik umum. Siapapun boleh menggunakannya termasuk bapak. Ku buka buku tebal sekaligus besar itu, ku usap sampul depannya yang terlihat lusuh. “data keuangan madrasah”. Judul itu tertulis rapih diatas sampul karton batik parang rusak  berwarna hijau agak gelap. Ku lihat data bulan ini, tidak ada catatan pemasukan, seingatku tadi bapak mendapatkan dana bantuan senilai 10 juta rupiah. Dimana catatan itu. Aku membalik halaman demi halaman. Tapi sampai pada halaman yang kosong aku tak menemukannya. Aku sungguh tak menemukannya. Tampak aneh bagiku. Sungguh aneh.

Suara benda jatuh itu membangunkan bapak, beliau bergegas kekamar, dan mendapatiku sedang membawa buku hijau itu, bapak tertunduk, bapak terlihat bingung. Dengan suara parau bapak menjelaskannya padaku. Ku hanya bisa menghela nafas mendengar bajingan pak Lurah itu yang memakan uang bantuan itu. Bapak adalah tipikal orang yang tidak bisa menceritakan segalanya dihadapan orang lain kecuali keluarganya sendiri. Bapak terkesan acuh bukan karena bapak juga menikmati uang korupsi itu tapi bapak tidak tega melihat anak pak lurah yang gemuk-gemuk itu putus sekolah. Didunia ini baru aku lihat orang yang sangat peduli dengan pendidikan orang lain adalah bapak. Dia bapak nomer satuku. Bapak lebih suka memendam perasaannya sendiri, mengunyahnya sendiri lalu menelan bulat-bulat kenyataan itu. Sering kulihat bapak menangis ketika solat, mungkin karena tekanan dari pak LUrah yang semena-mena. Bapak adalah orang yang jujur, sepeser uangpun bila bukan haknya beliau tidak akan memungutnya meski anak istrinya kelaparan, itu yang aku pelajari dari sikap bapak yang dingin dan kaku. Rahasia itu akan aku simpan hingga suatu saat nanti bila Tuhan mengijinkan aku berbicara kepada kebenaran bahwa bapak sama sekali belum pernah melihat, menyentuh dan menyimpan uang bantuan seperti yang dibicarakan pak Lurah kepada orang-orang. Setelah kejadian itu bapak jadi jarang mengimami masjid sebelah rumah karena para makmumnya tidak mau diimami oleh seorang koruptor. Mereka tidak mau menanggung dosa yang dibuat oleh bapak. Aku ingin teriak dan membeberkan tetapi bapak selalu mengatakan bahwa biar Tuhan yang menunjukan kebenaran.

Xxx

Kulihat bapak sedang memegang kitab mungkin ditangan sebelah kanan, sembari melepaskan kacamata tua yang biasa bapak kenakan ketika sedang membaca bapak memanggilku untuk datang dikamar. Mungkin untuk menonton pertandingan tinju yang bapak sangat digemari bapak, atau mungkin melihat presenter muda cantik yang sedang jalan-jalan keliling dunia. Bapak selalu bercerita tentang pengalamannya mengembara sewaktu masih bujang. Ujung kulon, pelabuhan ratu, bayan, medan, samosir, sampai sabang bapak pernah menginjakkan kakinya disana, sekaligus mungkin membuang kotoran. Bukan untuk bersenang-senang kata bapak, untuk mencari jati diri dengan bepergian tanpa uang saku apapun. Pernah bapak cerita ketika beliau di Nusa tenggara Timur sewaktu masih baru saja merdeka dengan ibu kota Dili, bapak harus membayar dengan baju yang ia kenakan. Lalu bagaimana bapak menutupi auratnya? Hal yang pertama aku lontarkan kepada bapak, bapak hanya tersenyum. Kata beliau dulu terpaksa memakai pelepah pisang selama dua hari hidup di Dili, lalu bertemu dengan petani tua yang merasa iba dengan bapak, lalu diberikan baju olehnya dua pasang. Dan tak disangka baju yang ia kenakan menarik perhatian wisatawan asing yang tengah berkunjung, lalu ditawarlah baju pemberian dengan harga mahal. Itulah alasannya kenapa bapak bisa sampai pulang ke jawa lagi dengan selamat. Dan karena itulah bapak berhenti mengembara karena sudah menemukan jawaban kegundahan hatinya. Semua yang terjadi adalah kehendak Tuhan. Ternyata bukan untuk bercerita bapak kali ini memanggilku. Beliau beranjak dari kursi, mengajakku kegudang untuk mengambil kaleng cat dan spons serta cetakan garis lurus terbuat dari kertas manila putih kotor karena usang. Bapak menyuruhku untuk membawanya ke masjid samping rumah, yang hanya berjarak 10 meter. Lima menit kemudian bapak masuk didalam masjid dan mulai mengukur bayangan matahari. Diambilnya sudut 90 derajat untuk setiap satu baris atau shaf dalam ukuran orang biasa shalat. Begitu seterusnya sampai kebelakang. Bapak menyuruhku untuk membuka kaleng cat yang bewarna hijau. Entah apa alasan bapak mengambil  warna itu. Mungkin menurut bapak Tuhan menyukai warna hijau seperti Rasul Muhammad, yang kata para ulama ketika tiap barjanzi selalu hadir dan duduk diatas pintu rumah dengan berpakaian warna hijau. Entahlah. Mungkin hanya terlihat lebih cocok untuk urusan masjid, agama dan kepercayaan agamaku. Waktu itu pukul 15.45 sore. Bapak sudah setahun menunggu kesempatan ini. Kata beliau hanya pada dua  waktu pada tahun ini yang tepat untuk mencocokan arah kiblat. Ternyata masjid yang sudah berpuluh-puluh tahun, mungkin sudah satu abad, yang biasa tempat aku bersujud berharap mendapat ridho dari Tuhan salah arah, melenceng sekitar 4 derajat ke arah utara. Kalau ini dihitung sampai kota suci mekah sana sudah berbelok arah sampai ribuan kilometer. Bukan menuju mekah tapi mungkin sampai di kalkuta india. Aku baru sadar setelah bapak menunaikan solat asyar sendirian karena seperti biasa orang-orang didesa ku kalau sore jarang yang berkegiatan diluar, meski untuk menunaikan solat asyar. Aku solat dirumah saja karena bajuku dan tanganku tak layak mendapatkan karunia Tuhan. Aku malu bila berpakaian kotor seperti itu, batinku.
 
Kumandan adzan maghrib itu mengantarkan aku beranjak dari kursi hijau dekat jendela ruang tamu, aku bergegas mengambil air suci, berbenah lalu kemudian menuju masjid yang tadi sore baru saja aku cat dengan warna kesayangan Rasul Muhammad.  Kulihat kamar bapak sudah kosong, mungkin bapak sudah berangkat dahulu. Dan memang ternyata sudah, terlihat dari posisi buku yang tadi sore bapak baca tertata rapi dan televisi yang dalam keadaan mati, serta dari sandal yang biasa bapak kenakan sudah hilang lenyap ditelan suara adzan itu. Sungguh begitu kagetnya aku ketika mendapati bapak tengah dikerumuni orang-orang yang hendak solat. Bapak seakan hilang diantara orang-orang itu. Suasana ricuh dan terlihat dibalik tirai shaf putri, ibu mengusap matanya dengan mukena lusuhnya. Ada apa gerangan? Kuraih badan-badan yang menutupi bapak, menyela maju kedepan lalu mendapati bapak tengah dengan suara lantang menjawab serat menerangkan apa yang beliau lalukan terhadap masjid yang sudah berumur ratusan tahun itu. Aku bisa paham mengapa orang marah terhadap apa yang bapak lakukan di masjid tadi sore. Karena itu adalah masjid yang nenek moyang mereka bangun dengan keringat mereka. Bukan nenek moyangku. Keluargaku adalah pendatang, maka apabila melakukan hal yang sudah dianggap kelewatan maka tiada ampun lagi dan maaf untuk keluargaku. Bapak dituduh melakukan pencemaran lingkungan masjid yaitu berupa lantai yang digarisi warna hijau dengan posisi miring ke barat laut. Tidak lurus simetris dengan kubah pengimaman. Kata ta’mir murip ini melanggar kode etik masjid dan melukai perasaan masjid. Waktu itu aku menangis. Takut Tuhan marah atas kelakuan bapak dan aku sendiri mencoret rumah-Nya seperti yang bapak alami terhadap orang-orang kampung.  Solat maghrib kali itu berjalan tanpa mengindahkan garis kiblat yang baru dibuat bapak sore harinya. Dengan bapak yang berada didepan shaf ku, bisa kurasakan bapak menangis sesenggukan. Kulirik tubuhnya yang bergetar, menunduk lalu terdengar suara isak tangis. Aku menangis dan aku yakin satu masjid itu tidak ada yang khusyuk mengerjakan solat. Termasuk aku dan bapak.

xxx

Suatu pagi terlihat pak Lurah merangkak-rangkak dipohon jambu batu yang sengaja aku dan bapak letakkan dibawahnya tumpukan bambu-bambu bekas dari pembangunan masjid kebanggaan desaku. Disana lebih dari seratus bambu yang hampir tak bergerak setiap harinya karena tidak ada yang mau memungutnya untuk dijadikan kayu bakar. Mungkin itu adalah pantangan bagi mereka mengambil barang yang berasal dari masjid. Sungguh terlarang dan  “ora ilok”. Pak lurah masih saja merangkak diatasnya, membawa tang untuk mengambil kawat yang mengendalikan bambu agar tidak menjatuhi orang yang biasa lalu-lalang disekitarnya seperti tetangga sebelah timur pekarangan yang biasa membuat cobek dari batu; pak mus namanya. Beranak dua dan sepertinya hidup bahagia meski tidak berkecukupan. Atau mia bocah kecil berumur 2 tahun yang biasa merengek untuk diambilkan buah jambu yang masih mentah untuk dimainkannya dirumah yang berdinding kayu. Kulihat dari jendela besar ruang tamu, orang itu sepertinya tidak merasa bersalah ketika aku amati dari dalam. Dia memutus kawat-kawat itu dengan serampangan, mungkin tidak ada yang melihat atau mungkin agar tidak ada yang melihat lebih tepatnya. Pak lurah bergegas turun lalu menghilang  dibelokan gang samping masjid, iseng hatiku untuk mengikuti orang itu, gerak-geriknya seperti pencuri ayam kelas  teri. Memang pencuri kelas teri batinku. Ku sekilas melihat kandang ayam yang baru dibuat olehnya teronggok didepan rumah, dan terlihat dia sangat sibuk dengan pekerjaan barunya disamping sebagai kepala desa kampung kami. Ternyata kawat yang baru saja dicuri atau diambil itu untuk memperbaiki kandang ayam karena dia kehabisan paku. Masih saja ada orang seperti dia yang mampu hidup sampai sekarang, setahuku Tuhan telah membinasakan dijaman es bersama dinosaurus berjuta-juta tahun yang lalu.

Tumpukan bambu-bambu itu masih tetap pada posisi  setelah mereka kehilangan kawat-kawat penyangganya beberapa hari yang lalu. Aku masih bersyukur tidak memakan korban. Hingga suara lolongan Yono edan mengganggu ibu dan bapak yang sedang melakukan ritual makan siangnya. Bapak bergegas bangkit dan menanyakan apa maksud yono datang kerumah. Yono terlihat berseri setelah di beri arahan oleh bapak dan mengucapkan terima kasih dan mengangguk-angguk. Yono berlari menuju pekarangan, lalu menarik sebuah bambu, suara retakan bambu itu mulai terdengar, dan secepat kilat roboh dan hampir menimbun yono. Bapak langsung berlari dan tidak menghabiskan makan siangnya. Melihat apa yang telah terjadi bapak tampak berubah wajahnya. Kecut dan pucat. Umur bapak sekitar 62 tahun pada waktu itu. Tersirat kekecewaan dari wajahnya yang tidak bisa ia sembunyikan. Ibu menyusul keluar dan menyebut nama Allah beberapa kali, lalu berkata bahwa tempo hari pak lurah mengambil kawat-kawat yang melilit tumpukan bambu-bambu itu. Tak disangka bapak hanya menunduk dan kembali meneruskan makan siangnya tanpa memerdulikan robohnya tatanan bambu-bambu yang dahulu seminggu ia tata dengan tangannya sendiri. Yono lalu menghilang dengan memikul batangan bambu seperti yang ia harapkan. Menghilang disatu tikungan jalan desa.

Sudah seminggu berlalu kala tumpukan itu berserakan dipekaranganku. Sudah tidak ada yang lalu-lalang melewati pekarangan karena terhalang bambu yang malang melintang tak karuan. Orang yang hendak pergi kepasar harus memutar untuk menuju jalan raya yang berada tepat dibawah pekaranganku. Anak-anak sekolah itu juga terlihat bingung harus lewat mana agar mereka tidak terlambat kesekolah. Pekaranganku adalah jalan tembus yang strategis melewati rimbunnya pohon cengkeh dan jeruk bali yang tiap tahun pasti berbuah. Aku biasa memetiknya setelah waktu buka puasa dibulan ramadhan, sekedar untuk penyegar aku campurkan dengan air limau, irisan mentimun dan es,  minuman yang aku ciptakan sendiri dan ternyata hanya aku yang menikmatinya, tidak ada satupun anggota dari keluargaku yang mau meminum ramuanku itu.

Pagi itu bapak tidak biasanya berpakaian compang-camping, memakai topi merah bertuliskan merek semen ternama di Negara ini serta memakai kaus timnas jerman kala beckenbeur masih Berjaya dilapangan hijau. Beliau mengajakku untuk menata kembali bambu-bambu itu. Aku gusar, sungguh sangat gusar karena kenapa baru sekarang dilakukan. Bapak menolak untuk berkomentar dan meninggalkan aku yang masih asik menonton kartun dihari kamis pagi. Tak lama berselang kususul bapak yang sudah mulai membuat lubang-lubang ditanah untuk menancapkan batangan bambu untuk tiang penahan disetiap sisinya yang berjumlah enam. Empat dipojokan dan dua di samping kiri dan kanan. Ku tancapkan lagi sekuat tenaga bamboo itu dengan harapan suatu saat nanti tidak akan berubah berantakan seperti ini. Seperti halnya manusia yang biasannya hanya belajar dikelas, disaat disuruh untuk mengerjakan hal yang tidak terlalu sesuai dengan apa yang biasa ia kerjakan maka keringat mengucur deras membasahi baju katun ku, bukan anak manja atau bagaimana, aku hanya tak mampu untuk bekerja kasar seperti ini, semenjak kecil aku tak bisa melakukan hal berat selayaknya teman yang lain, selain itu juga aku adalah seorang kidal. Lebih suka menggunakan tangan dan kaki sebelah kiri untuk melakukan segala sesuatunya. Aku mensyukuri semuanya. Ku ambil bambu yang paling besar untuk dijadikan alas, ku letakan melintang hanya dengan tujuan agar bambu yang nantinya akan ditata ulang tidak cepat busuk karena tidak menyentuh tanah yang lembab. Agar suatu saat bila bambu itu dibutuhkan lagi maka tidak akan keropos. Kuangkati semua bambu itu, agar cepat selesai. Adzan dhuhur pun menggema, menandakan matahari tepat berdiri diatas ubun-ubun, dan segera memerintah manusia berTuhan untuk menuju rumah-Nya, ibu menyerukan untuk istrahat, makan siang setelah solat. Tapi bapak langsung mengambil topi semen itu dan kembali mengenakan kostum timnas jerman. Mungkin bapak tak mau dikatakan malas dalam bekerja, batinku bekerja menganalisis semua. Hanya sekitar sepuluh menit hujan mulai menangis seperti ada yang hendak mereka sampaikan lewat tetesannya, aku terlalu bodoh untuk mengetahuinya dahulu, tetesan itu sebenarnya mengatakan untuk beristirahat dahulu, dan bisa dilanjutkan besok menata bambu-bambu itu. Tapi bapak terus melanjutkan hingga hujan semakin deras. Sampai kita tak sanggup meneruskan semua. Bapak harus mengalah kali ini. Kata yang diucapkan bapak sebelum masuk rumah adalah capek. Dan aku baru menyadarinya enam jam kemudian.

Aku merapikan rambut basahku setelah mengguyur badan kurus ini dengan air pegunungan, segar ternyata. Kulihat lagi wajah jelekku, ku pegangi pipi penuh jerawat ini, “Tuhan perbaguslah sifatku, seperti Kau perbaguskan wajahku” doa yang selalu aku ucapkan ketika aku berkaca dimanapun. Mungkin sudah menjadi sebuah nafas dalam kehidupanku ketika melihat kaca akan seperti itu. Rapikan lagi bajuku, melihat jam sedang menunjuk pukul setengah dua siang, tetapi langit sudah hampir sama dengan pukul tujuh malam. Gelap dan hujan. Aku terkadang membenci hujan dengan beberapa alasan. Alasan yang pertama adalah karena hujan datang bersama-sama. Semua orang akan takut menerobos hujan yang kemudian menjadikan semuannya membatalkan kegiatannya. Alasan yang kedua adalah hujan datang bersama petir, dia sengaja mengajak petir untuk turun kebumi bersamaan karena hujan takut apabila sesampainya dibumi ia dimaki-maki penjual es keliling yang menjadikan tidak laku. Aku sangat ridak suka petir karena suaranya. Alasan ketiga adalah hujan mendatangkan teriakan ibu menggelegar seantero rumah. Pasalnya setiap hujan rumahku pasti akan timbul kebocoran disana-sini. Dan kau pasti tahu kepada siapa teriakan itu dialamatkan? Dengan keadaan tergopoh-gopoh aku melenggang membawa baskom-baskom kecil menapaki tetesan air kesana-kemari. Dan alasan yang terakhir adalah bila hujan datang aku tidak akan sempat melihat bidadari itu melewati rumahku. Pasti ia akan dijemput oleh adiknya dengan mengenakan mantel. Dan kau tahu  wajahnya pasti akan tertutupi. Aku sering gusar mendapati hal itu.

Tampaknya hujan kali ini membuatku mengantuk, ku putuskan untuk istirahat siang, melepas lelah setelah semenjak pagi aku menata bambu itu. Siang itu aku bermimpi aneh. Entah kenapa aku melihat wajah orang-orang dimasjid sewaktu maghrib tempo hari, masih mengelilingi bapak dengan sorban belang kotak-kotaknya. Tapi disana banyak sekali orang yang yang tak kukenal, mengapa mereka ada disana? Dimasjid ku? Siapa mereka? Ku coba dekati mereka itu, ketika hendak menyentuh mereka pun hilang seperti debu. Ku hampiri satu per satu tapi tidak ada yang nyata. Sentuhan ibu membangunkanku dari tidur. Dengan memakai baju daster ibu membangunkanku dengan nada bingung. Bapak dalam keadaan mengigau dilantai tengah setelah menulis ijazah para muridnya.  

Tuhan..!! apalagi yang aku alami, bapak bergumam tak jelas dilantai ruang tengah sembari memegangi bahu sebelah kanan. Aku panic, sangat panik. Begitupun ibu. Bapak lalu tak sadarkan diri. Ku papah badan bapak yang ternyata berat. Baru aku rasakan mengangkat badan orang yang mengalami serangan stroke ini. Ku baringkan disofa tempat bapak duduk mengerjakan penulisan ijazah madrasah untuk anak didiknya. Ku tanya ibu, apa bapak tidak istirahat semenjak dzuhur? Ibu hanya menggeleng. Baru kali ini bapak momor satu seduniaku jatuh roboh di lantai. Dan aku yang membantu untuk berdiri. Aku istighfar. Kembali istighfar melihat keadaan bapak yang semakin buruk. Orang-orang mulai berdatangan. Melihat apa yang terjadi. Di desa wajar apabila kabar akan menyeruak secara cepat. Dengan kecepatan evdo kabar bapak jatuh dilantai segera sampai ditelinga masyarakat. Sebagai tambahan bapak adalah salah satu tokoh agama didesa. Banyak yang datang kerumah untuk menanyakan soal tentang agama. Apabila aku dirumah bapak selalu menanyakan pendapatku tentang masalah keagamaan menurut pandanganku. Ideologiku dan bapak mungkin agak berbeda sedikit. Hampir sama tapi tetap saja beda. Bapak berpandangan  bahwa agama tetap saja sama semenjak nenek moyang, tetapi menurutku agama adalah keyakinan yang bedasarkan zaman. Seperti contoh dizaman nabi makan harus menggunakan tiga jari, bila untuk mengejar sunah rasul, tetapi sekarang bila menggunakan tiga jadi dan ini diterapkan di Indonesia maka semuanya akan hancur. Nasi yang dibuat akan mudah jatuh karena hanya ditopang oleh tiga jari. Aku lebih melihat agama hanya sebuah perhiasan yang boleh dikenakan manusia, tetapi bapak melihatnya sebagai baju yang wajib agar auratnya tidak terlihat.  Oleh karena itu bila terjadi perbedaan pendapat diantara aliran maka menurutku itu adalah hal yang wajar dan lumrah, karena slera orang pasti berbeda. Lagipula Rasul telah bersabda bahwa didalam umatnya akan muncul 72 kelompok. Hal itu sudah diucapkan ribuan tahun yang lalu. Tetapi menurut bapak orang islam yang benar adalah orang yang mengikuti apa yang dikatakan oleh bapak. Itu yang sering mengganggu ritual makan siang atau terkadang makan malamku dengan bapak.

Ku pijati kepala bapak. Hari sudah semakin sore, keadaan bapak semakin memburuk. Bapak sudah tak sadarkan diri setengah jam yang lalu. Ku putuskan untuk memanggil mantri yang kebetulan tetanggaku. Setengah jam berlalu tanpa ada tanda batang hidung si mantri itu. Ku coba telpon berkali-kali, dia bilang masih dalam perjalanan, pada saat itu dia baru saja pulang memeriksa orang yang habis melahirkan. Langit semakin mendung dan gelap. Ku putuskan untuk memanggil dokter lain dikecamatan. Lima menit kemudian dokter itu datang dirumah dan segera merujuknya kerumah sakit umum daerah. Maghrib itu pula bapak dilarikan ke rumah sakit dengan jangka waktu terabaikan sekitar 2 jam hanya untuk menunggu mantri sialan itu. Isya bapak sudah masuk ICU. Seperempat jam kemudian aku sampai dengan keadaan basah kuyup menerjang hujan dijalanan pantai utara pulau jawa. Mengigil, dan sangat dingin. Begitu pula dengan hati ini. Sangat dingin menghadapi semua. Dingin bukan berarti tegar seperti yang dikatakan penyiar radio suara kemenangan yang biasa mengalun berisik setiap jam 11 malam. Sungguh heran akan kebiasaan bapak mendengarkan siaran radio tersebut, dan sampai sekarang pun aku masih belum bisa menemukan jawabannya. Sesekali ketika aku dirumah, aku akan melintas sekejap didepan bapak yang sedang bersantai dikursi goyang ruangan tengah, sembari terkantuk-kantuk bapak menyimak apa yang dikatakan penyiar tersebut. Dan sebagai catatan bahwa mengapa aku sangat terobsesi dengan penyiar adalah aku ingin suaraku didengar oleh bapak pada jam 10 malam menggantikan acara kidung malam milik radio suara kemenangan.

Aku bergegas menuju lorong-lorong panjang sebuah rumah sakit daerah di kota kabupaten. Lumayan untuk fasilitas. Tidak terlalu buruk bagiku. Terburu aku berjalan menuju ruang ICU tempat bapak sementara ini dirawat. Aroma obat-obatan dan infuse tersebar kemana-mana. Sedikit mual mungkin tapi akan aku tahan. Karena menurutku aku akan tinggal disini agak lama. Nampak disudut-sudut lorong keluarga-keluarga yang sedang berkumpul dan bercakap sembari menunggui anggota keluarga yang sedang sakit. Mereka terlihat biasa saja dan terima apa adanya. Bisa kah aku seperti itu? Melihat bapak yang tadi sore tak bergerak saja rasanya dunia ini runtuh seketika, apalagi melihat bapak diselang dan ditusuki jarum infuse? Sesungguhnya aku benci pergi ke rumah sakit. Karena aku sangat membenci jarum suntik. Dahulu sewaktu SD aku akan menangis di urutan paling awal ketika ada program kesehatan yang memberikan vaksin anti cacar melalui suntikan. Dan asal kau tahu Bulan, aku selalu paling awal berlari bersembunyi di rumah ketika pak mantri datang untuk memberikan vaksin. Entah kenapa aku juga masih tidak tahu.

XXX

Bulan, masihkah kau mendengar cerita-ceritaku? Maaf telah menjebakmu untuk malam ini. Aku hanya bingung kepada siapa harus menceritakan semua. Tentang pak lurah yang entah kapan akan tobat, tentang arah kiblat masjid kebanggaan desa yang sekarang berubah. Bulan, tahukah kalau semua yang bapak lakukan adalah benar? Paling tidak untukku. Bagiku beliau benar dan sungguh benar? Tapi mengapa Tuhan mu mengujinya dengan seperti itu?
Biarkan orang-orang diluaran sana bertanya-tanya kenapa bulan masih saja diam di timur laut jendela besarku. Biarkan saja orang-orang desa itu mencemoohku dengan kata-kata kasar, karena aku layak mendapatkannya. Aku tidak menyalahkan mu bila engkau tidak akan beranjak dari jendela besarku ini. Selalu menungguiku disetiap aku termenung dijendela besarku, selalu mendiamkan semua ucapan orang-orang desa terhadapku dan kamu. Aku senang ternyata sejak saat aku bercerita kau tampak selalu hadir dijendelaku, menungguku untuk bercerita. Dan sungguh ajaib saat kau menurunkan hujan pertanda kau sedih mendengar cerita-ceritaku.
Aku hanya minta maaf bila kau terjebak dibingkai jendelaku selamanya!!

Semarang, 25th april 2011
 kamar kos.
Nailal Mustaghfiri
Hadiah untuk bulan..
Selamat ulang tahun ya.. ^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar