Cari

Rabu, 17 Oktober 2012

Tentang Patah Hati


“isn’t lovely, wake up in the morning and then fall in love with the same person again and again for the rest of your life?” – Rahne Putri.
###
Pagi itu tidak ada yang spesial. Aku dengan dandanan yang acak kadut, dan kamu bak putri. Cantik sekali. Hari itu aku masih saja bersikukuh membenci dirimu. Entah apa alasannya. Terlalu cantik mungkin. Kau pindah posisi tempat duduk disebelahku. Tepat disebelah kanan kursiku. Tiga baris dari depan dan tujuh kursi dari pintu. Aku dan kamu. Mencoba untuk memecahkan kesunyian. Aku sibuk dengan gusarku, dan kau sibuk dengan rambut mu. Ah.

Itu tiga tahun yang lalu, saat masih kuliah. Dan sekarang aku sedang berbaris menuju pelaminanmu. Antre untuk memberikan ucapan selamat atau sekedarnya. Aku masih berjarak empat orang dari suamimu. Masih lama untuk berjabat tangan, batinku. Dan semua frase-frase kita; aku dan kamu saat masih kuliah beterbangan diantara kuah bakso, minuman segar yang tersaji di meja, diantara kelopak melati di sanggul rambutmu, dan hatiku. Cinta itu hadir tanpa perlu direncanakan. Mereka hadir dengan sendirinya. Hanya saja terkadang datang tidak pada saat yang tepat. Itulah kita. Maksudku, itulah aku. Kata orang-orang cintaku kepadamu itu tak tepat. Seperti biasa tanpa alasan. Argumen macam apa itu!

Aku sudah berjarak satu orang dan bersiap untuk meraih tangan suamimu. Kuberikan ucapan dengan jantan. Aku usahakan sejantan mungkin. Lalu, setelahnya kamu. Ku gamit tangan lembutmu, ada penyesalan, kesedihan bercampur dengan bahagia tiada banding. Kau menatapku dalam. Seakan mengatakan bahwa kau menyesal, memohon maaf dan ikut bersedih atas apa yang sedang aku rasakan. Sebagai laki-laki aku tak mau terlihat cengeng didepan wanita pujaanku. Kucoba sembunyikan perasaan itu setegar mungkin. Mata kita berkaitan. Sebelum melepasmu, aku hendak mengatakan sesuatu. Tak perlu lewat kata, karena tidak ada kata manapun yang bisa menjelaskannya. Binar mata ini saja. Bahwa aku...

###
Ku cintai dirimu sepenuh hati, dan ternyata aku salah. Kau masih ingat saat aku menyatakan cinta dulu? Iya, 15 maret 2009. Saat itu kita masih lugu. Dan perlu kau tahu, hari itu adalah hari yang paling membahagiakan bagiku, sekaligus kebalikannya. Saat itu kau menanyakan kenapa aku mencintaimu. Lalu aku jawab bahwa cinta itu tanpa tanda tanya. Karena cinta sudah membulatkan semua jawaban baik yang telah ditanyakan ataupun yang belum sekalipun. Tapi kau menolakku. Kau sudah punya penjaga hati. Bagiku anjing. Bagimu pacar. Sial.

Semenjak pagi itu, iya sesaat kau menolakku, aku masih bertahan dengan cinta ini. Bagiku cinta itu adalah energi tersendiri. Yang bisa mengubah diri yang merasakannya menjadi seratus kali lebih kuat. Dan ternyata aku makin kuat untuk terus mencintaimu. Beberapa teman menanyakan darimanakah asal muasal energi itu? Aku jawab : “dari surga”.

Cinta itu juga harus murni, tanpa praduga, tanpa tanya, suci. Maka aku tak lagi rewel bertanya pada hati kenapa aku masih bertahan denganmu. Dan kau masih saja terheran denganku. Dan kau mulai berfikir bahwa aku adalah lelaki tangguh. Aku memang lelaki tangguh. Dan aku masih tangguh betul untuk mencintaimu.

Sudah lebih dari dua puluh empat purnama aku lewati, dan coba tebak aku masih saja bersikukuh dengan cintamu. Lalu aku simpulkan bahwa cinta itu bisu. Karena dalam keheninganpun bisa meluapkan rasa yang ada dan memahami bagi yang memiliki rasa. Lalu aku tanyakan kepada langit tentangmu; kau baik-baik saja disana?. Aku harap kau sedang memandang langit pada saat yang sama dengan ku, meski tak serupa tapi langit itu sejatinya milik kita, langitku dan langitmu. Diantara konstelasi bintang-bintang ada serpihan rinduku, lihatkah dikau? Aku rindu dirimu. Sungguh. Aku diam. Mencoba melepaskan diri dari cekikan rindu yang semakin erat.

Ku yakini kalau kau akan datang suatu saat, keyakinan yang sama kuatnya saat aku menyatakan rasa itu. Aku menyebutnya cinta. Entah denganmu. Aku anggap diriku sebagai rumah, yang akan menerima dirimu dalam keadaan apapun; basah kuyup karena hujan, berkeringat karena matahari, atau pucat karena kehidupan. Aku disini bersedia untu selalu membukakan pintu, hanya untukmu. Aku berjanji tidak akan menanyakan apapun tentang dirimu saat kau masuk.  Dan tidak akan aku tanyakan berapa hujan yang harus kau tempuh untuk sampai dipintu ini, berapa keringat dan berapa kepucatan untuk mencapainya. Aku berjanji tak akan menanyakan satupun. Dan saat kau datang aku mohon jangan pergi lagi. Aku lelah menjaga pintu ini. Aku mohon.

Ini tahun ke empat, yang berarti kau telah lama dan jauh pergi. Tapi aku masih disini menunggu mu untuk sesekali mampir, harapku. Awan sedang berunding dengan langit. Lalu gerimis. Bagiku gerimis itu adalah hujan yang hati-hati. Pelan-pelan untuk turun dari langit agar tak merasakan sakit. Aku sedang gerimis. Jangan menghindar. Aku tak akan menyakiti. Kau ingat? Akulah gerimis. Seperti gerimis yang turun dari awan membelai bumi. Seperti Tuhan menurunkan salam dan rindu sebagai jawaban ku atas segala doa. Seperti gerimis, aku yang  jatuh perlahan padamu.

###
Aku harap kau bisa membacanya. Harapan yang sama saat aku menyatakan cinta itu, dan kembalinya dirimu. Aku rasa waktu yang telah disiapkan Tuhan untukku telah datang, maka katamu; cintailah seseorang layaknya tak pernah disakiti, buat hatimu kembali baru. Aku mengangguk. Ada bulir air diujung mata, dan bila Tuhan memberikan aku Remidi, maka akan aku gunakan untuk kembali berusaha mencintaimu (lagi).

17 oktober 2012
Kado untuk yang segera menikah. Aku akan selalu bahagia. J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar