“isn’t lovely, wake up in the morning and then fall in love with the
same person again and again for the rest of your life?” – Rahne Putri.
###
Pagi itu tidak ada yang spesial. Aku
dengan dandanan yang acak kadut, dan kamu bak putri. Cantik sekali. Hari itu
aku masih saja bersikukuh membenci dirimu. Entah apa alasannya. Terlalu cantik
mungkin. Kau pindah posisi tempat duduk disebelahku. Tepat disebelah kanan
kursiku. Tiga baris dari depan dan tujuh kursi dari pintu. Aku dan kamu. Mencoba
untuk memecahkan kesunyian. Aku sibuk dengan gusarku, dan kau sibuk dengan
rambut mu. Ah.
Itu tiga tahun yang lalu, saat
masih kuliah. Dan sekarang aku sedang berbaris menuju pelaminanmu. Antre untuk
memberikan ucapan selamat atau sekedarnya. Aku masih berjarak empat orang dari
suamimu. Masih lama untuk berjabat tangan, batinku. Dan semua frase-frase kita;
aku dan kamu saat masih kuliah beterbangan diantara kuah bakso, minuman segar
yang tersaji di meja, diantara kelopak melati di sanggul rambutmu, dan hatiku. Cinta itu hadir tanpa perlu
direncanakan. Mereka hadir dengan sendirinya. Hanya saja terkadang datang tidak
pada saat yang tepat. Itulah kita. Maksudku, itulah aku. Kata orang-orang
cintaku kepadamu itu tak tepat. Seperti biasa tanpa alasan. Argumen macam apa
itu!
Aku sudah berjarak satu orang dan
bersiap untuk meraih tangan suamimu. Kuberikan ucapan dengan jantan. Aku usahakan
sejantan mungkin. Lalu, setelahnya kamu. Ku gamit tangan lembutmu, ada
penyesalan, kesedihan bercampur dengan bahagia tiada banding. Kau menatapku
dalam. Seakan mengatakan bahwa kau menyesal, memohon maaf dan ikut bersedih
atas apa yang sedang aku rasakan. Sebagai laki-laki aku tak mau terlihat
cengeng didepan wanita pujaanku. Kucoba sembunyikan perasaan itu setegar
mungkin. Mata kita berkaitan. Sebelum melepasmu, aku hendak mengatakan sesuatu.
Tak perlu lewat kata, karena tidak ada kata manapun yang bisa menjelaskannya. Binar
mata ini saja. Bahwa aku...
###
Ku cintai dirimu sepenuh hati,
dan ternyata aku salah. Kau masih ingat saat aku menyatakan cinta dulu? Iya, 15
maret 2009. Saat itu kita masih lugu. Dan perlu kau tahu, hari itu adalah hari
yang paling membahagiakan bagiku, sekaligus kebalikannya. Saat itu kau
menanyakan kenapa aku mencintaimu. Lalu aku jawab bahwa cinta itu tanpa tanda
tanya. Karena cinta sudah membulatkan semua jawaban baik yang telah ditanyakan
ataupun yang belum sekalipun. Tapi kau menolakku. Kau sudah punya penjaga hati.
Bagiku anjing. Bagimu pacar. Sial.
Semenjak pagi itu, iya sesaat kau
menolakku, aku masih bertahan dengan cinta ini. Bagiku cinta itu adalah energi
tersendiri. Yang bisa mengubah diri yang merasakannya menjadi seratus kali
lebih kuat. Dan ternyata aku makin kuat untuk terus mencintaimu. Beberapa teman
menanyakan darimanakah asal muasal energi itu? Aku jawab : “dari surga”.
Cinta itu juga harus murni, tanpa
praduga, tanpa tanya, suci. Maka aku tak lagi rewel bertanya pada hati kenapa
aku masih bertahan denganmu. Dan kau masih saja terheran denganku. Dan kau
mulai berfikir bahwa aku adalah lelaki tangguh. Aku memang lelaki tangguh. Dan aku
masih tangguh betul untuk mencintaimu.
Sudah lebih dari dua puluh empat
purnama aku lewati, dan coba tebak aku masih saja bersikukuh dengan cintamu. Lalu
aku simpulkan bahwa cinta itu bisu. Karena dalam keheninganpun bisa meluapkan
rasa yang ada dan memahami bagi yang memiliki rasa. Lalu aku tanyakan kepada
langit tentangmu; kau baik-baik saja disana?. Aku harap kau sedang memandang
langit pada saat yang sama dengan ku, meski tak serupa tapi langit itu
sejatinya milik kita, langitku dan langitmu. Diantara konstelasi
bintang-bintang ada serpihan rinduku, lihatkah dikau? Aku rindu dirimu. Sungguh.
Aku diam. Mencoba melepaskan diri dari cekikan rindu yang semakin erat.
Ku yakini kalau kau akan datang
suatu saat, keyakinan yang sama kuatnya saat aku menyatakan rasa itu. Aku menyebutnya
cinta. Entah denganmu. Aku anggap diriku sebagai rumah, yang akan menerima
dirimu dalam keadaan apapun; basah kuyup karena hujan, berkeringat karena
matahari, atau pucat karena kehidupan. Aku disini bersedia untu selalu
membukakan pintu, hanya untukmu. Aku berjanji tidak akan menanyakan apapun
tentang dirimu saat kau masuk. Dan tidak
akan aku tanyakan berapa hujan yang harus kau tempuh untuk sampai dipintu ini,
berapa keringat dan berapa kepucatan untuk mencapainya. Aku berjanji tak akan
menanyakan satupun. Dan saat kau datang aku mohon jangan pergi lagi. Aku lelah
menjaga pintu ini. Aku mohon.
Ini tahun ke empat, yang berarti
kau telah lama dan jauh pergi. Tapi aku masih disini menunggu mu untuk sesekali
mampir, harapku. Awan sedang berunding dengan langit. Lalu gerimis. Bagiku gerimis
itu adalah hujan yang hati-hati. Pelan-pelan untuk turun dari langit agar tak
merasakan sakit. Aku sedang gerimis. Jangan menghindar. Aku tak akan menyakiti.
Kau ingat? Akulah gerimis. Seperti gerimis yang turun dari awan membelai bumi. Seperti
Tuhan menurunkan salam dan rindu sebagai jawaban ku atas segala doa. Seperti gerimis,
aku yang jatuh perlahan padamu.
###
Aku harap kau bisa membacanya. Harapan
yang sama saat aku menyatakan cinta itu, dan kembalinya dirimu. Aku rasa waktu
yang telah disiapkan Tuhan untukku telah datang, maka katamu; cintailah
seseorang layaknya tak pernah disakiti, buat hatimu kembali baru. Aku mengangguk.
Ada bulir air diujung mata, dan bila Tuhan memberikan aku Remidi, maka akan aku
gunakan untuk kembali berusaha mencintaimu (lagi).
17 oktober 2012
Kado untuk yang segera menikah. Aku akan selalu bahagia. J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar