Cari

Selasa, 29 Mei 2012

Rasa itu Maya..!!


Maya, dalam potongan – potongan sajak tertentu, adalah sebuah bayangan oasis ditengah gurun bagi kerongkongan kering para pedagang Gujarat yang tengah melewati sahara. Dan di sajak – sajak yang lain, dia adalah kunang-kunang yang behamburan disaat hujan sore telah berpulang di ujung senja. Beterbangan diantara sela-sela teralis kayu depan rumah. Hinggap dari satu titik ke titik yang lain dengan pancaran sinar yang redup, tapi mengesankan.sebuah keindahan yang sekali lagi hanya bisa ditandingi oleh seorang malaikat. Because you’re an angel.

Dalam frase yang lain lagi, Maya adalah sebuah danau. Ah, bukan. Terlalu kecil. Lautan atau samudra? Samudra lebih tepat mungkin. Seorang yang menerima segalanya. Dan disini, aku berdiri. Dengan bekal cinta yang bergemuruh dalam dada, selalu ingin berenang meski – jujur; aku tak bisa berenang. Ingin aku sampai ditengah samudra itu, sampai ditengah. Sampai tidak ada ombak bergulung-gulung tinggi lagi, tidak ada sekoci ataupun kapal nelayan yang mengais ikan, atau ikan paus. Hanya ada aku, langit, dan dia – Maya. Dan pada saat itulah tidak akan lagi aku memerlukan janji – janji indah!

Lembaran lainpun terbuka. Pada halaman ini Maya berbeda lagi. Ia adalah seekor burung merpati yang lincah beterbangan kesana kemari. Tak satupun anak panah pun yang bisa menghentikan kepakan sayapnya yang begitu anggun dan menggemaskan. Dan perjuanganku menjadi perjuangan yang panjang dan sangat melelahkan – meski hanya untuk seekor merpati. Namun, bukan Maya yang aku cinta namanya kalau dengan mudah didapatkan. Disaat aku berada dititik terendah – berkali-kali aku merasakannya, seperti putus asa – dia muncul dengan tiba-tiba dan menggoda. Semangatku naik lagi. 100 %.

Kuterbangkan lagi anak panahku. Sepuluh ribu anak panah: satu menancap di ranting pohon cemara. Dan Sembilan ribu Sembilan ratus Sembilan puluh sembilannya berhamburan memanah angin. Paling tidak aku punya satu sasaran – ranting pohon. Maya lalu menjadi apapun, selain pujaan hatiku.

“ I know that you love me, I know…”. Katanya suatu saat ketika disebuah gurun. Kering, tak berair. Suara itu terucap diantara kaktus yang berisik. Pasir yang mendesir. “look at my eyes, I love you too…God damn, I love you so bad…”.“come, please come here. Swim right now into me..”. katanya disaat menjadi danau. Aih, bukan. Samudra. Hendak ku ucapkan sesuatu. Jemarinya yang lentik lebih cepat menutup bibirku. “I will teach you how to swim into me…”.

catch me, make a trap for me..”. bisikan Maya di episode yang lain. Disaat menjadi kunang-kunang atau merpati dengan kepakan sayapnya. Sanggat mengagumkan. Nyaris tanpa cedera. “sudah takdirku dikejar, dan kau mengejar. Perburuan adalah nilai cinta yang paling kekal…”.
###
Saat malam tiba, sembari menunggu ayam tetangga berkokok dipagi hari. Ku biarkan diriku dilihat oleh ratusan pasang mata Maya yang tertempel di dinding yang hampir penuh olehnya. Setiap senja turun. Aku ingin dia tahu bahwa aku sangat mencintainya penuh. Tak kurang, tanpa ada cacat sedikitpun, ku biarkan rasa minderku, agar dia tahu dan paham lalu kemudian menerima aku selayaknya adaku.

Jujur, aku tak pernah menduga sejenak pun, bahwa jatuh cinta itu ternyata tidak hanya menghabiskan kue bandung – kesukaanmu, menghabiskan obat nyamuk bakar yang tiap malam menemaniku memikirkanmu, tetapi seluruh waktu, seluruh hati, seluruh pikiran dan seluruh hidup!
Aku memang makan, minum dan melakukan kegiatan yang lain dan karena itu aku tahu dan aku masih layaknya manusia.

Tetapi Maya itu lebih penting ketimbang semua itu. Seorang perempuan bersuara merdu, manis yang mendayu membuai hati. Hati siapa saja,paling tidak aku dan monyet-monyetnya seperti dalam frase-ku yang lain.

Andai aku adalah seorang penulis lagu, pasti sudah ribuan, atau bahkan jutaan buah lagu yang aku ciptakan hanya tentang Maya. Tapi Tuhan selalu bertindak dengan segala keindahan-Nya. Dia hanya memberikan aku waktu, perasaan, pikiran dan beratus-ratus obat nyamuk bakar – yang menemaniku disaat aku memikirkanmu – yang semakin lama menyesakkan dada.

Setulusnya, aku tak mempunyai daya pikat dan rayuan untuk menarik Maya kedalam pelukanku. Semua pergerakanku selama ini lebih pas dikatakan sebagai babi hutan ketimbang pemburu yang memiliki sekian pertimbangan sebelum melesatkan anak panah. Apakah sudah saatnya aku menuntut Tuhan? Belum. Aku rasa belum saatnya sebab kemarin sebelum hujan turun, dia memberikan senyum termanis hanya untukku seorang. Kau tahu kawan? Wajahnya itu, wuih!

Jadi, aku kemasi dan merapikan lagi perbekalanku dihati, dan agar aku tak tergesa-gesa melibatkan Tuhan dalam urusan manusia paling primitif ini. Toh maya juga tampaknya tidak memperdulikan semua ini. Maya bergerak mengepakkan sayapnya karena memang harus tetap bergerak, dan tersenyum karena sudah saatnya tersenyum. Bukan berlari karena diburu.

Aku ingin bertemu Maya. Tidak di gurun sahara, atau danau Toba, ataupun dalam bentuk yang lain. Aku ingin dan sangat ingin bertemu M.A.Y.A. inginku keluarkan semua dari palung terdalam hatiku tentangnya. Senang tak senang, mau tak mau. Harus. Aku sudah terlalu lama menyimpanya dan membiarkan asa ini meremukkan semua tulang-tulang harapanku. Kini sudah saatnya untuk menemukan Maya dalam wujud aslinya.
###
Dituliskan aku berada ditengah padang rumput ilalang disore hari, dengan angin sepoi menggoyangkan ilalang disekitar. Hanya ada aku dan kau serta ilalang ini tentunya.  Mereka serentak mendayu karena tertiup angin. Dingin. Jantungku berdetak kencang. Andai saja aku bisa mengambil jarak dari diriku sekarang ini, pasti ini adalah lukisan terindah dihidupku.

“sok imut”.

Aku tergagap. Berusaha tersenyum namun gagal. Aku malah tertunduk dan cemberut. Dia tertawa.

“kau tak pernah mencintaiku. Kau hanya mencintai dirimu sendiri. Aku hanya sasaran sesaat, hanya seperti pematang menuju sawah diujung desa. Pertemuan ini, meski sungguh terjadi, namun tak pernah nyata.”

Aku sekali lagi terkesiap dan berdecak kagum. Bukan karena bahasa asing planetmu yang telah membingungkanmu. Melainkan rambut lurusmu yang terbang, wajah manis mu yang tertiup angin sehingga tampak begitu asing bagiku.

Pada detik selanjutnya, wajah itu berubah: bukan lagi Maya. Dia terlihat seperti fitri tropica. Juga seperti penyanyi yang sedang naik daun – agnes monica. Atau malah lebih mirip bu Sum – penjual nasi pecel gendongan yang setiap mulai jam 6 pagi sudah mangkal didepan rumah, di perempatan depan rumah. Tidak, tidak. Dia lebih mirip mbok jatun penjual jamu gendong. Atau paling tidak dia seperti siti yang selalu melihatku dengan tatapan yang menusuk dikala aku melewati depan rumahnya meski hanya untuk sekedar memebeli nasi penyet.

Lalu, dimana Maya? Aku cari di pasar, di bis-bis kota yang hilir mudik, di mal dan plasa – tempat biasa kita membeli Mc. Flurry berdua, di gedung kesenian kota – yang lebih berubah menjadi tempat tak terurus di kota ini dan gedung bioskop terutama studio 3 – yang kau sukai.

Ku cari di lorong-lorong kota, di kereta bawah tanah, kapel-kapel gereja yang berdiri dengan tegas. Dan aku cari di buku-buku, Koran, majalah, radio dan televisi. Semuanya nihil. Dia menghilang sekejap. Lenyap ditelan frekuensi radio yang naik turun. Meredup lalu gelap seperti gambar di layar televisi tertelan pekat. Musnah!

Aku kelimpungan. Benar-benar kelimpungan. Sungguh sangat benar ingin menyalahkan siapa saja. Atau terlebih apa saja. Bagaimana mungkin Maya yang sebegitu dekatnya denganku. Seperti gigi dan gusi itu bisa menguap tak tersisa? Atau, jangan-jangan dia memang sebenarnya tidak pernah ada? Dia ada karena aku sangat menginginkannya. Tapi siapa yang membisikkan kata “sok imut” ke telingaku lalu tertawa? Maya. Siapa lagi kalau bukan dia?

Semua diam.

Hening.

Tidak ada yang bisa kulakukan selain mencintainya. Buta tak buta sama saja karena cinta enggan menyimpan justa. Meskipun Maya, perempuan yang ditakdirkan menjadi kekasih imajinasiku itu begitu tak tersentuh. Jauh. Lalu ku biarkan saja dia menjadi bayangan yang membuntutiku kemana saja aku pergi, walau menangkapnya adalah satu kata dalam bentuk lain dari sia-sia.

Nailal Mustaghfiri 
@naelalo

18 januari 2012 Trengguli 1 no. 29
Terimakasih buat: abang Budi Maryono atas Cerpennya :)

--cinta yang dipendam itu seperti komidi putar, seakan berjalan, tetapi sebenarnya tidak kemana-mana—Raditya Dika.