Bulan masih saja
menggantung dilangit, condong di arah timur laut rumahku. Sinarnya menembus
tirai-tirai jendela ruang tamu. Membentuk labirin bayangan diantara celah-celah
tirai yang terbuka karena angin malam. Aku masih saja duduk disana, disamping jendela
besar yang seperti biasa aku duduki tiap sore, hanya untuk melihat orang lalu
lalang didepan rumahku, begitulah alasanku disaat ibu menanyakan mengapa aku
selalu duduk disana saban sore. Diatas kursi tanpa sandaran berwarna hijau itu
aku biasa menyesali apa yang terjadi. Biasanya aku akan beranjak ke surau
ketika adzan maghrib memanggil. Hanya panggilan dari Tuhanlah aku bergerak.
Selebihnya mungkin tidak sama sekali. Wajahku terpantul dikaca gelap itu,
melihat keluar dengan pandangan yang seakan tak berujung. Meski hanya melihat pekarangan milikku yang
ditumbuhi semak belukar, aku gemar melihatnya setiap sore dengan seksama.
Suara ibu
memecah keheningan malam, disentuhnya pundakku dengan lembut, aku tak
bergeming, mungkin terlalu asyik dengan pemandangan diluar sana. Ibu menanyakan
kenapa sampai larut seperti ini. Aku hanya bisa mengatakan bahwa harus ada yang
disalahkan atas semua yang terjadi. Ibu menghela nafas mungkin tanda sudah
mulai letih mendengar keluhanku. Tangan halus itu bergerak meninggalkan ku, hampir
kulirik melalui ekor mataku, tak sempat.
Harus ada yang
disalahkan atas semua ini, pikirku. Sembari membenahkan posisi dudukku aku
terus mengulang-ulang kejadian itu berurutan. Pak Lurah yang korupsi dana
pembangunan madrasah yang dikepalai oleh bapak,gunjingan yang dialamatkan
kepada bapak tentang tindakan bapak yang mencoret-coret lantai masjid, pak Lurah yang mengambil kawat penyangga
tatanan bambu dipekarangan depan rumah,
Yono edan yang minta ijin mengambil beberapa bambu untuk keperluannya, lalu
tumpukannya roboh, beberapa hari tidak dihiraukan oleh bapak, dan akhirnya aku
membantu bapak memperbaiki tumpukan bambu itu, dan sore harinya bapak masuk
rumah sakit karena terserang stroke. Aku terus berfikir. Harus ada yang
bertanggung jawab atas semua ini, ketusku.
Ku kutuki diriku
sendiri. Mengapa harus terjadi seperti ini, Tuhan mungkin marah dengan ku, dan
memberikan ujian seperti ini. Ku pandangi bulan yang masih condong kearah timur
laut itu. Andai saja bulan bisa bicara, mungkin dia akan mengatakan bahwa dia
malu di lihat secara terus menerus olehku. Bulan, malam ini aku bercerita untuk
mu, semoga kau bisa mendengar akan semua ceritaku. Semoga.
Xxx
Hari itu adalah
kepulanganku dari kota setelah dua bulan aku menginjakkan kaki dikota untuk
kuliah. Sewaktu turun dari bis ku lihat bapak seperti biasa; memakai sarung
merah hati dan setelan jas madrasah berwarna abu-abu 80% lengkap dengan peci
sulam tiga warna yang biasa bapak pakai setiap mengajar dan hanya pada acara
yang menurutnya besar. Tapi pada waktu kelulusanku di SMA bapak tak memakai
peci tiga warnanya. Mungkin analisis ku kali ini kurang tepat. Melangkah
sepulang dari madrasah bapak terlihat murung. Ku salami beliau, kucium tangannya,
aku kangen sungguh sangat kangen dengan beliau. Beliau hanya tersenyum dan
mengusap rambutku yang acak-acakan. Bapak menanyakan jam berapa berangkat dari
kota, aku hanya tersenyum. Sepulang kuliah mungkin. Aku tak yakin. Terlihat
disakunya ada sebuah amplop coklat bertuliskan Departemen Dinas Pendidikan
Madrasah. Perihal: Pemberitahuan dana
Bantuan. Ku fikir bapak seharusnya bahagia karena sekolah yang ia perjuangkan
selama berpuluh-puluh tahun mendapatkan bantuan dari pemerintah untuk yang
pertama kali. Mungkin pemerintah itu sudah membuka matanya untuk rakyat. Kutanyakan kepada bapak tentang isi surat
itu, namun aku segera menyadari pasti ada yang tak beres dengan semuanya.
Kulihat air muka bapak. Sekali lagi kulirik. Ini memang tidak beres. Aku
beriringan berjalan kerumah dengan bapak. Sore itu aku seperti tercekat untuk
menceritakan segala sesuatu yang baru aku alami dikota, bukan saatnya, dan
memang belum saatnya untuk bercerita.
Malam harinya,
seperti ritual yang biasa dilakukan oleh keluargaku. Makan malam harus diikuti
oleh semua anggota keluarga, dan sudah dua bulan ini hanya bapak, kakak
perempuan pertamaku dan ibu yang
menjalankan ritual itu. Di waktu itu kami biasa menceritakan apa yang sudah
terjadi bersangkutan dengan kami, seperti bapak dengan cerita murid-muridnya
yang sangat nakal, ibu dengan cerita kesuksesan si Anto yang sekarang bekerja
di luar jawa dan tiap Idul Fitri selalu mudik menggunakan mobil yang berbeda,
kakak perempuanku yang selalu menceritakan sosok suami idamannya yang sampai
sekarang belum juga ia dapatkan dan terkadang
aku yang bercerita tentang pemerintah, system di Indonesia, serta
perilaku para politikus di Negara ini. Untuk yang cerita ku, bapak selalu
menyimak dengan hati-hati apa yang aku ucapkan, mungkin baginya aku adalah
pembawa berita selayaknya ditelevisi. Sesampainya korupsi di ceritaku yang
kesekian kalinya, bapak tertunduk, mungkin perkataanku ada yang menyinggung
beliau. Ku hentikan ceritaku, kutanyakan pada bapak apa yang terjadi, beliau
hanya menggeleng. Ritual makan malam berakhir dengan hening. Tidak biasa dan
sungguh tidak biasa.
Sepulang dari
masjid tak sengaja aku menjatuhkan buku-buku milik bapak dirak mejaku. Setelah aku tinggal di kota, kamar sekaligus
perabot sudah menjadi barang milik umum. Siapapun boleh menggunakannya termasuk
bapak. Ku buka buku tebal sekaligus besar itu, ku usap sampul depannya yang
terlihat lusuh. “data keuangan madrasah”. Judul itu tertulis rapih diatas
sampul karton batik parang rusak
berwarna hijau agak gelap. Ku lihat data bulan ini, tidak ada catatan
pemasukan, seingatku tadi bapak mendapatkan dana bantuan senilai 10 juta
rupiah. Dimana catatan itu. Aku membalik halaman demi halaman. Tapi sampai pada
halaman yang kosong aku tak menemukannya. Aku sungguh tak menemukannya. Tampak
aneh bagiku. Sungguh aneh.
Suara benda
jatuh itu membangunkan bapak, beliau bergegas kekamar, dan mendapatiku sedang
membawa buku hijau itu, bapak tertunduk, bapak terlihat bingung. Dengan suara
parau bapak menjelaskannya padaku. Ku hanya bisa menghela nafas mendengar
bajingan pak Lurah itu yang memakan uang bantuan itu. Bapak adalah tipikal
orang yang tidak bisa menceritakan segalanya dihadapan orang lain kecuali
keluarganya sendiri. Bapak terkesan acuh bukan karena bapak juga menikmati uang
korupsi itu tapi bapak tidak tega melihat anak pak lurah yang gemuk-gemuk itu
putus sekolah. Didunia ini baru aku lihat orang yang sangat peduli dengan
pendidikan orang lain adalah bapak. Dia bapak nomer satuku. Bapak lebih suka
memendam perasaannya sendiri, mengunyahnya sendiri lalu menelan bulat-bulat
kenyataan itu. Sering kulihat bapak menangis ketika solat, mungkin karena
tekanan dari pak LUrah yang semena-mena. Bapak adalah orang yang jujur, sepeser
uangpun bila bukan haknya beliau tidak akan memungutnya meski anak istrinya
kelaparan, itu yang aku pelajari dari sikap bapak yang dingin dan kaku. Rahasia
itu akan aku simpan hingga suatu saat nanti bila Tuhan mengijinkan aku
berbicara kepada kebenaran bahwa bapak sama sekali belum pernah melihat, menyentuh
dan menyimpan uang bantuan seperti yang dibicarakan pak Lurah kepada
orang-orang. Setelah kejadian itu bapak jadi jarang mengimami masjid sebelah
rumah karena para makmumnya tidak mau diimami oleh seorang koruptor. Mereka
tidak mau menanggung dosa yang dibuat oleh bapak. Aku ingin teriak dan
membeberkan tetapi bapak selalu mengatakan bahwa biar Tuhan yang menunjukan
kebenaran.
Xxx
Kulihat bapak
sedang memegang kitab mungkin ditangan sebelah kanan, sembari melepaskan
kacamata tua yang biasa bapak kenakan ketika sedang membaca bapak memanggilku
untuk datang dikamar. Mungkin untuk menonton pertandingan tinju yang bapak
sangat digemari bapak, atau mungkin melihat presenter muda cantik yang sedang
jalan-jalan keliling dunia. Bapak selalu bercerita tentang pengalamannya
mengembara sewaktu masih bujang. Ujung kulon, pelabuhan ratu, bayan, medan,
samosir, sampai sabang bapak pernah menginjakkan kakinya disana, sekaligus
mungkin membuang kotoran. Bukan untuk bersenang-senang kata bapak, untuk
mencari jati diri dengan bepergian tanpa uang saku apapun. Pernah bapak cerita
ketika beliau di Nusa tenggara Timur sewaktu masih baru saja merdeka dengan ibu
kota Dili, bapak harus membayar dengan baju yang ia kenakan. Lalu bagaimana
bapak menutupi auratnya? Hal yang pertama aku lontarkan kepada bapak, bapak
hanya tersenyum. Kata beliau dulu terpaksa memakai pelepah pisang selama dua
hari hidup di Dili, lalu bertemu dengan petani tua yang merasa iba dengan
bapak, lalu diberikan baju olehnya dua pasang. Dan tak disangka baju yang ia
kenakan menarik perhatian wisatawan asing yang tengah berkunjung, lalu
ditawarlah baju pemberian dengan harga mahal. Itulah alasannya kenapa bapak
bisa sampai pulang ke jawa lagi dengan selamat. Dan karena itulah bapak
berhenti mengembara karena sudah menemukan jawaban kegundahan hatinya. Semua
yang terjadi adalah kehendak Tuhan. Ternyata bukan untuk bercerita bapak kali
ini memanggilku. Beliau beranjak dari kursi, mengajakku kegudang untuk
mengambil kaleng cat dan spons serta cetakan garis lurus terbuat dari kertas
manila putih kotor karena usang. Bapak menyuruhku untuk membawanya ke masjid
samping rumah, yang hanya berjarak 10 meter. Lima menit kemudian bapak masuk
didalam masjid dan mulai mengukur bayangan matahari. Diambilnya sudut 90 derajat
untuk setiap satu baris atau shaf dalam ukuran orang biasa shalat. Begitu
seterusnya sampai kebelakang. Bapak menyuruhku untuk membuka kaleng cat yang
bewarna hijau. Entah apa alasan bapak mengambil
warna itu. Mungkin menurut bapak Tuhan menyukai warna hijau seperti
Rasul Muhammad, yang kata para ulama ketika tiap barjanzi selalu hadir dan
duduk diatas pintu rumah dengan berpakaian warna hijau. Entahlah. Mungkin hanya
terlihat lebih cocok untuk urusan masjid, agama dan kepercayaan agamaku. Waktu
itu pukul 15.45 sore. Bapak sudah setahun menunggu kesempatan ini. Kata beliau
hanya pada dua waktu pada tahun ini yang
tepat untuk mencocokan arah kiblat. Ternyata masjid yang sudah berpuluh-puluh
tahun, mungkin sudah satu abad, yang biasa tempat aku bersujud berharap
mendapat ridho dari Tuhan salah arah, melenceng sekitar 4 derajat ke arah utara.
Kalau ini dihitung sampai kota suci mekah sana sudah berbelok arah sampai
ribuan kilometer. Bukan menuju mekah tapi mungkin sampai di kalkuta india. Aku
baru sadar setelah bapak menunaikan solat asyar sendirian karena seperti biasa
orang-orang didesa ku kalau sore jarang yang berkegiatan diluar, meski untuk
menunaikan solat asyar. Aku solat dirumah saja karena bajuku dan tanganku tak
layak mendapatkan karunia Tuhan. Aku malu bila berpakaian kotor seperti itu,
batinku.
Kumandan adzan
maghrib itu mengantarkan aku beranjak dari kursi hijau dekat jendela ruang
tamu, aku bergegas mengambil air suci, berbenah lalu kemudian menuju masjid
yang tadi sore baru saja aku cat dengan warna kesayangan Rasul Muhammad. Kulihat kamar bapak sudah kosong, mungkin
bapak sudah berangkat dahulu. Dan memang ternyata sudah, terlihat dari posisi
buku yang tadi sore bapak baca tertata rapi dan televisi yang dalam keadaan
mati, serta dari sandal yang biasa bapak kenakan sudah hilang lenyap ditelan
suara adzan itu. Sungguh begitu kagetnya aku ketika mendapati bapak tengah
dikerumuni orang-orang yang hendak solat. Bapak seakan hilang diantara
orang-orang itu. Suasana ricuh dan terlihat dibalik tirai shaf putri, ibu
mengusap matanya dengan mukena lusuhnya. Ada apa gerangan? Kuraih badan-badan
yang menutupi bapak, menyela maju kedepan lalu mendapati bapak tengah dengan
suara lantang menjawab serat menerangkan apa yang beliau lalukan terhadap
masjid yang sudah berumur ratusan tahun itu. Aku bisa paham mengapa orang marah
terhadap apa yang bapak lakukan di masjid tadi sore. Karena itu adalah masjid
yang nenek moyang mereka bangun dengan keringat mereka. Bukan nenek moyangku.
Keluargaku adalah pendatang, maka apabila melakukan hal yang sudah dianggap
kelewatan maka tiada ampun lagi dan maaf untuk keluargaku. Bapak dituduh
melakukan pencemaran lingkungan masjid yaitu berupa lantai yang digarisi warna
hijau dengan posisi miring ke barat laut. Tidak lurus simetris dengan kubah
pengimaman. Kata ta’mir murip ini melanggar kode etik masjid dan melukai
perasaan masjid. Waktu itu aku menangis. Takut Tuhan marah atas kelakuan bapak
dan aku sendiri mencoret rumah-Nya seperti yang bapak alami terhadap
orang-orang kampung. Solat maghrib kali
itu berjalan tanpa mengindahkan garis kiblat yang baru dibuat bapak sore
harinya. Dengan bapak yang berada didepan shaf ku, bisa kurasakan bapak
menangis sesenggukan. Kulirik tubuhnya yang bergetar, menunduk lalu terdengar
suara isak tangis. Aku menangis dan aku yakin satu masjid itu tidak ada yang
khusyuk mengerjakan solat. Termasuk aku dan bapak.
xxx
Suatu pagi
terlihat pak Lurah merangkak-rangkak dipohon jambu batu yang sengaja aku dan
bapak letakkan dibawahnya tumpukan bambu-bambu bekas dari pembangunan masjid
kebanggaan desaku. Disana lebih dari seratus bambu yang hampir tak bergerak
setiap harinya karena tidak ada yang mau memungutnya untuk dijadikan kayu
bakar. Mungkin itu adalah pantangan bagi mereka mengambil barang yang berasal
dari masjid. Sungguh terlarang dan “ora ilok”. Pak lurah masih saja
merangkak diatasnya, membawa tang untuk mengambil kawat yang mengendalikan
bambu agar tidak menjatuhi orang yang biasa lalu-lalang disekitarnya seperti
tetangga sebelah timur pekarangan yang biasa membuat cobek dari batu; pak mus
namanya. Beranak dua dan sepertinya hidup bahagia meski tidak berkecukupan.
Atau mia bocah kecil berumur 2 tahun yang biasa merengek untuk diambilkan buah
jambu yang masih mentah untuk dimainkannya dirumah yang berdinding kayu. Kulihat
dari jendela besar ruang tamu, orang itu sepertinya tidak merasa bersalah
ketika aku amati dari dalam. Dia memutus kawat-kawat itu dengan serampangan,
mungkin tidak ada yang melihat atau mungkin agar tidak ada yang melihat lebih
tepatnya. Pak lurah bergegas turun lalu menghilang dibelokan gang samping masjid, iseng hatiku
untuk mengikuti orang itu, gerak-geriknya seperti pencuri ayam kelas teri. Memang pencuri kelas teri batinku. Ku
sekilas melihat kandang ayam yang baru dibuat olehnya teronggok didepan rumah,
dan terlihat dia sangat sibuk dengan pekerjaan barunya disamping sebagai kepala
desa kampung kami. Ternyata kawat yang baru saja dicuri atau diambil itu untuk
memperbaiki kandang ayam karena dia kehabisan paku. Masih saja ada orang
seperti dia yang mampu hidup sampai sekarang, setahuku Tuhan telah membinasakan
dijaman es bersama dinosaurus berjuta-juta tahun yang lalu.
Tumpukan
bambu-bambu itu masih tetap pada posisi
setelah mereka kehilangan kawat-kawat penyangganya beberapa hari yang
lalu. Aku masih bersyukur tidak memakan korban. Hingga suara lolongan Yono edan
mengganggu ibu dan bapak yang sedang melakukan ritual makan siangnya. Bapak
bergegas bangkit dan menanyakan apa maksud yono datang kerumah. Yono terlihat
berseri setelah di beri arahan oleh bapak dan mengucapkan terima kasih dan mengangguk-angguk.
Yono berlari menuju pekarangan, lalu menarik sebuah bambu, suara retakan bambu
itu mulai terdengar, dan secepat kilat roboh dan hampir menimbun yono. Bapak
langsung berlari dan tidak menghabiskan makan siangnya. Melihat apa yang telah
terjadi bapak tampak berubah wajahnya. Kecut dan pucat. Umur bapak sekitar 62
tahun pada waktu itu. Tersirat kekecewaan dari wajahnya yang tidak bisa ia
sembunyikan. Ibu menyusul keluar dan menyebut nama Allah beberapa kali, lalu
berkata bahwa tempo hari pak lurah mengambil kawat-kawat yang melilit tumpukan
bambu-bambu itu. Tak disangka bapak hanya menunduk dan kembali meneruskan makan
siangnya tanpa memerdulikan robohnya tatanan bambu-bambu yang dahulu seminggu
ia tata dengan tangannya sendiri. Yono lalu menghilang dengan memikul batangan
bambu seperti yang ia harapkan. Menghilang disatu tikungan jalan desa.
Sudah seminggu
berlalu kala tumpukan itu berserakan dipekaranganku. Sudah tidak ada yang
lalu-lalang melewati pekarangan karena terhalang bambu yang malang melintang
tak karuan. Orang yang hendak pergi kepasar harus memutar untuk menuju jalan
raya yang berada tepat dibawah pekaranganku. Anak-anak sekolah itu juga
terlihat bingung harus lewat mana agar mereka tidak terlambat kesekolah.
Pekaranganku adalah jalan tembus yang strategis melewati rimbunnya pohon
cengkeh dan jeruk bali yang tiap tahun pasti berbuah. Aku biasa memetiknya
setelah waktu buka puasa dibulan ramadhan, sekedar untuk penyegar aku campurkan
dengan air limau, irisan mentimun dan es, minuman yang aku ciptakan sendiri dan ternyata
hanya aku yang menikmatinya, tidak ada satupun anggota dari keluargaku yang mau
meminum ramuanku itu.
Pagi itu bapak
tidak biasanya berpakaian compang-camping, memakai topi merah bertuliskan merek
semen ternama di Negara ini serta memakai kaus timnas jerman kala beckenbeur
masih Berjaya dilapangan hijau. Beliau mengajakku untuk menata kembali
bambu-bambu itu. Aku gusar, sungguh sangat gusar karena kenapa baru sekarang
dilakukan. Bapak menolak untuk berkomentar dan meninggalkan aku yang masih asik
menonton kartun dihari kamis pagi. Tak lama berselang kususul bapak yang sudah
mulai membuat lubang-lubang ditanah untuk menancapkan batangan bambu untuk
tiang penahan disetiap sisinya yang berjumlah enam. Empat dipojokan dan dua di
samping kiri dan kanan. Ku tancapkan lagi sekuat tenaga bamboo itu dengan
harapan suatu saat nanti tidak akan berubah berantakan seperti ini. Seperti
halnya manusia yang biasannya hanya belajar dikelas, disaat disuruh untuk
mengerjakan hal yang tidak terlalu sesuai dengan apa yang biasa ia kerjakan
maka keringat mengucur deras membasahi baju katun ku, bukan anak manja atau
bagaimana, aku hanya tak mampu untuk bekerja kasar seperti ini, semenjak kecil
aku tak bisa melakukan hal berat selayaknya teman yang lain, selain itu juga
aku adalah seorang kidal. Lebih suka menggunakan tangan dan kaki sebelah kiri
untuk melakukan segala sesuatunya. Aku mensyukuri semuanya. Ku ambil bambu yang
paling besar untuk dijadikan alas, ku letakan melintang hanya dengan tujuan
agar bambu yang nantinya akan ditata ulang tidak cepat busuk karena tidak
menyentuh tanah yang lembab. Agar suatu saat bila bambu itu dibutuhkan lagi
maka tidak akan keropos. Kuangkati semua bambu itu, agar cepat selesai. Adzan
dhuhur pun menggema, menandakan matahari tepat berdiri diatas ubun-ubun, dan
segera memerintah manusia berTuhan untuk menuju rumah-Nya, ibu menyerukan untuk
istrahat, makan siang setelah solat. Tapi bapak langsung mengambil topi semen
itu dan kembali mengenakan kostum timnas jerman. Mungkin bapak tak mau
dikatakan malas dalam bekerja, batinku bekerja menganalisis semua. Hanya
sekitar sepuluh menit hujan mulai menangis seperti ada yang hendak mereka
sampaikan lewat tetesannya, aku terlalu bodoh untuk mengetahuinya dahulu, tetesan
itu sebenarnya mengatakan untuk beristirahat dahulu, dan bisa dilanjutkan besok
menata bambu-bambu itu. Tapi bapak terus melanjutkan hingga hujan semakin
deras. Sampai kita tak sanggup meneruskan semua. Bapak harus mengalah kali ini.
Kata yang diucapkan bapak sebelum masuk rumah adalah capek. Dan aku baru
menyadarinya enam jam kemudian.
Aku merapikan
rambut basahku setelah mengguyur badan kurus ini dengan air pegunungan, segar
ternyata. Kulihat lagi wajah jelekku, ku pegangi pipi penuh jerawat ini, “Tuhan
perbaguslah sifatku, seperti Kau perbaguskan wajahku” doa yang selalu aku
ucapkan ketika aku berkaca dimanapun. Mungkin sudah menjadi sebuah nafas dalam
kehidupanku ketika melihat kaca akan seperti itu. Rapikan lagi bajuku, melihat
jam sedang menunjuk pukul setengah dua siang, tetapi langit sudah hampir sama
dengan pukul tujuh malam. Gelap dan hujan. Aku terkadang membenci hujan dengan
beberapa alasan. Alasan yang pertama adalah karena hujan datang bersama-sama.
Semua orang akan takut menerobos hujan yang kemudian menjadikan semuannya
membatalkan kegiatannya. Alasan yang kedua adalah hujan datang bersama petir,
dia sengaja mengajak petir untuk turun kebumi bersamaan karena hujan takut
apabila sesampainya dibumi ia dimaki-maki penjual es keliling yang menjadikan
tidak laku. Aku sangat ridak suka petir karena suaranya. Alasan ketiga adalah
hujan mendatangkan teriakan ibu menggelegar seantero rumah. Pasalnya setiap
hujan rumahku pasti akan timbul kebocoran disana-sini. Dan kau pasti tahu
kepada siapa teriakan itu dialamatkan? Dengan keadaan tergopoh-gopoh aku
melenggang membawa baskom-baskom kecil menapaki tetesan air kesana-kemari. Dan
alasan yang terakhir adalah bila hujan datang aku tidak akan sempat melihat
bidadari itu melewati rumahku. Pasti ia akan dijemput oleh adiknya dengan
mengenakan mantel. Dan kau tahu wajahnya
pasti akan tertutupi. Aku sering gusar mendapati hal itu.
Tampaknya hujan
kali ini membuatku mengantuk, ku putuskan untuk istirahat siang, melepas lelah
setelah semenjak pagi aku menata bambu itu. Siang itu aku bermimpi aneh. Entah
kenapa aku melihat wajah orang-orang dimasjid sewaktu maghrib tempo hari, masih
mengelilingi bapak dengan sorban belang kotak-kotaknya. Tapi disana banyak
sekali orang yang yang tak kukenal, mengapa mereka ada disana? Dimasjid ku?
Siapa mereka? Ku coba dekati mereka itu, ketika hendak menyentuh mereka pun
hilang seperti debu. Ku hampiri satu per satu tapi tidak ada yang nyata.
Sentuhan ibu membangunkanku dari tidur. Dengan memakai baju daster ibu
membangunkanku dengan nada bingung. Bapak dalam keadaan mengigau dilantai
tengah setelah menulis ijazah para muridnya.
Tuhan..!!
apalagi yang aku alami, bapak bergumam tak jelas dilantai ruang tengah sembari
memegangi bahu sebelah kanan. Aku panic, sangat panik. Begitupun ibu. Bapak
lalu tak sadarkan diri. Ku papah badan bapak yang ternyata berat. Baru aku
rasakan mengangkat badan orang yang mengalami serangan stroke ini. Ku baringkan
disofa tempat bapak duduk mengerjakan penulisan ijazah madrasah untuk anak
didiknya. Ku tanya ibu, apa bapak tidak istirahat semenjak dzuhur? Ibu hanya
menggeleng. Baru kali ini bapak momor satu seduniaku jatuh roboh di lantai. Dan
aku yang membantu untuk berdiri. Aku istighfar. Kembali istighfar melihat
keadaan bapak yang semakin buruk. Orang-orang mulai berdatangan. Melihat apa
yang terjadi. Di desa wajar apabila kabar akan menyeruak secara cepat. Dengan
kecepatan evdo kabar bapak jatuh dilantai segera sampai ditelinga masyarakat.
Sebagai tambahan bapak adalah salah satu tokoh agama didesa. Banyak yang datang
kerumah untuk menanyakan soal tentang agama. Apabila aku dirumah bapak selalu
menanyakan pendapatku tentang masalah keagamaan menurut pandanganku. Ideologiku
dan bapak mungkin agak berbeda sedikit. Hampir sama tapi tetap saja beda. Bapak
berpandangan bahwa agama tetap saja sama
semenjak nenek moyang, tetapi menurutku agama adalah keyakinan yang bedasarkan
zaman. Seperti contoh dizaman nabi makan harus menggunakan tiga jari, bila
untuk mengejar sunah rasul, tetapi sekarang bila menggunakan tiga jadi dan ini
diterapkan di Indonesia maka semuanya akan hancur. Nasi yang dibuat akan mudah
jatuh karena hanya ditopang oleh tiga jari. Aku lebih melihat agama hanya
sebuah perhiasan yang boleh dikenakan manusia, tetapi bapak melihatnya sebagai baju
yang wajib agar auratnya tidak terlihat.
Oleh karena itu bila terjadi perbedaan pendapat diantara aliran maka
menurutku itu adalah hal yang wajar dan lumrah, karena slera orang pasti
berbeda. Lagipula Rasul telah bersabda bahwa didalam umatnya akan muncul 72
kelompok. Hal itu sudah diucapkan ribuan tahun yang lalu. Tetapi menurut bapak
orang islam yang benar adalah orang yang mengikuti apa yang dikatakan oleh
bapak. Itu yang sering mengganggu ritual makan siang atau terkadang makan
malamku dengan bapak.
Ku pijati kepala
bapak. Hari sudah semakin sore, keadaan bapak semakin memburuk. Bapak sudah tak
sadarkan diri setengah jam yang lalu. Ku putuskan untuk memanggil mantri yang
kebetulan tetanggaku. Setengah jam berlalu tanpa ada tanda batang hidung si mantri
itu. Ku coba telpon berkali-kali, dia bilang masih dalam perjalanan, pada saat
itu dia baru saja pulang memeriksa orang yang habis melahirkan. Langit semakin
mendung dan gelap. Ku putuskan untuk memanggil dokter lain dikecamatan. Lima
menit kemudian dokter itu datang dirumah dan segera merujuknya kerumah sakit
umum daerah. Maghrib itu pula bapak dilarikan ke rumah sakit dengan jangka
waktu terabaikan sekitar 2 jam hanya untuk menunggu mantri sialan itu. Isya
bapak sudah masuk ICU. Seperempat jam kemudian aku sampai dengan keadaan basah
kuyup menerjang hujan dijalanan pantai utara pulau jawa. Mengigil, dan sangat
dingin. Begitu pula dengan hati ini. Sangat dingin menghadapi semua. Dingin
bukan berarti tegar seperti yang dikatakan penyiar radio suara kemenangan yang
biasa mengalun berisik setiap jam 11 malam. Sungguh heran akan kebiasaan bapak
mendengarkan siaran radio tersebut, dan sampai sekarang pun aku masih belum
bisa menemukan jawabannya. Sesekali ketika aku dirumah, aku akan melintas
sekejap didepan bapak yang sedang bersantai dikursi goyang ruangan tengah,
sembari terkantuk-kantuk bapak menyimak apa yang dikatakan penyiar tersebut.
Dan sebagai catatan bahwa mengapa aku sangat terobsesi dengan penyiar adalah
aku ingin suaraku didengar oleh bapak pada jam 10 malam menggantikan acara
kidung malam milik radio suara kemenangan.
Aku bergegas
menuju lorong-lorong panjang sebuah rumah sakit daerah di kota kabupaten.
Lumayan untuk fasilitas. Tidak terlalu buruk bagiku. Terburu aku berjalan
menuju ruang ICU tempat bapak sementara ini dirawat. Aroma obat-obatan dan
infuse tersebar kemana-mana. Sedikit mual mungkin tapi akan aku tahan. Karena
menurutku aku akan tinggal disini agak lama. Nampak disudut-sudut lorong
keluarga-keluarga yang sedang berkumpul dan bercakap sembari menunggui anggota
keluarga yang sedang sakit. Mereka terlihat biasa saja dan terima apa adanya.
Bisa kah aku seperti itu? Melihat bapak yang tadi sore tak bergerak saja
rasanya dunia ini runtuh seketika, apalagi melihat bapak diselang dan ditusuki
jarum infuse? Sesungguhnya aku benci pergi ke rumah sakit. Karena aku sangat
membenci jarum suntik. Dahulu sewaktu SD aku akan menangis di urutan paling
awal ketika ada program kesehatan yang memberikan vaksin anti cacar melalui
suntikan. Dan asal kau tahu Bulan, aku selalu paling awal berlari bersembunyi
di rumah ketika pak mantri datang untuk memberikan vaksin. Entah kenapa aku
juga masih tidak tahu.
XXX
Bulan, masihkah
kau mendengar cerita-ceritaku? Maaf telah menjebakmu untuk malam ini. Aku hanya
bingung kepada siapa harus menceritakan semua. Tentang pak lurah yang entah
kapan akan tobat, tentang arah kiblat masjid kebanggaan desa yang sekarang
berubah. Bulan, tahukah kalau semua yang bapak lakukan adalah benar? Paling
tidak untukku. Bagiku beliau benar dan sungguh benar? Tapi mengapa Tuhan mu
mengujinya dengan seperti itu?
Biarkan
orang-orang diluaran sana bertanya-tanya kenapa bulan masih saja diam di timur
laut jendela besarku. Biarkan saja orang-orang desa itu mencemoohku dengan
kata-kata kasar, karena aku layak mendapatkannya. Aku tidak menyalahkan mu bila
engkau tidak akan beranjak dari jendela besarku ini. Selalu menungguiku
disetiap aku termenung dijendela besarku, selalu mendiamkan semua ucapan
orang-orang desa terhadapku dan kamu. Aku senang ternyata sejak saat aku
bercerita kau tampak selalu hadir dijendelaku, menungguku untuk bercerita. Dan
sungguh ajaib saat kau menurunkan hujan pertanda kau sedih mendengar
cerita-ceritaku.
Aku hanya minta
maaf bila kau terjebak dibingkai jendelaku selamanya!!
Semarang, 25th april 2011
kamar kos.
Nailal Mustaghfiri
Hadiah untuk bulan..
Selamat ulang tahun ya.. ^^