Cari

Rabu, 13 Maret 2013

Hujan di Ujung Februari


Kali ini hujan mengguyur kota. Deras sekali. Masih sama dengan hari-hari biasanya di bulan desember. Lalu lalang kendaraan yang menerjang hujan. Anak-anak kecil yang berjingkrak menyambut hujan, rintik. Dan aku yang masih saja mengenang, bergumam sendirian. Bau tanah yang basah dan air hujan ini telah seratus persen membiusku menuju seseorang. Apabila kau baca ini, seseorang itu adalah kamu. Lalu diorama wajahmu tertampak di bulir hujan yang berlompatan menjauhi langit. Aku nikmati itu sendirian. Selalu sendirian.

“kau tak mencoba untuk menghubunginya lagi?”. Andri menyergapku dengan celotehannya. Aku hanya menggeleng dengan lemah. Aku harap Andri bisa mengartikan gelenganku. Gelengan yang penuh dengan rasa lelah, pasrah dan menyerah. “alamak boi, kurang apa sih kamu itu? Lebih tampan, lebih pintar dan yang jelas kau lebih perhatian dari pada si anjing itu.” Aku hanya tersenyum. Kalimat itu sedikit mengobati hatiku.

Sudah lebih dari satu bulan aku berusaha untuk mengurungkan niatku untuk menghubungimu, memenjarakan kehendak itu didalam bui yang pengap, basah dan sembab, yang ternyata setiap malam mengirimkan sinyal kepada mata untuk ikut berduka. Iya, aku tiap malam memikirkan mu. Dan di penghujung malam, aku selalu berdoa agar kau tak pernah memikirkan hatiku. Selalu.

Hujan semakin menggelegar menyesap sore. Mencintai seseorang yang telah memiliki orang lain itu adalah sebuah tolok ukur kepada diri kita sendiri, mengukur seberapa setianya kita kepada pacar. Dan terbukti, aku dan kamu, meski dahulu sekali pernah memutuskan untuk tak setia kepada pasangan.

Aku masih ingat saat pertama kali kita menikmati hujan ini berdua, kau sedang gusar dengan pacarmu, dan aku sedang tak mau memikirkannya. Ia terlalu sibuk memikirkan diri sendiri. Kita punya kesamaan. Sama-sama kesepian dan kurang kasih sayang. Disana kau menyemai cinta. Hanya aku dan kamu. Berjuang bersama menghindari semuanya. Cinta ini terasa seperti suara gesekan kapur di papan tulis. Sangat nyeri ketika didengarkan. Kita saling ketakutan, lalu bersama-sama berlindung dan mencari kenyamanan di bilik-bilik hati. Itulah cinta.

Ada seorang teman yang masih menanyakan apa yang telah aku perbuat, aku hanya bisa menjawab bahwa aku hanya seorang pemulung, memunguti setiap dingin yang berserakan, dan mendekap dengan penuh kasih sayang, disaat segalanya sudah tak dingin, dan tak lagi kekurangan cinta, aku sudah bersiap melepaskannya. Meski nyatanya aku tak pernah merelakannya, karena aku takut ia akan kembali kedinginan. Lagi.

Saat itu kau tergelak kedinginan dibawah hujan. Aku menghampiri, dan aku ulurkan tanganku dibawah payung hitam. Aku tersenyum seakan berkata “genggamlah jemariku, dan kau tak akan lagi kedinginan”. Kau mengangguk. Lalu ku peluk kau dengan erat. Seperti itulah cinta kita.

Lalu langit bertanya, salahkah aku memulung cinta yang kedinginan? Bukankah setiap manusia berhak mendapatkan kasih dan belas sayang?. Aku gusar sendiri. Bukankah hujan yang membuat cinta itu kedinginan? Atau kebosanan yang membuatnya tersingkir lalu menggigil? Yang jelas aku hanya ingin membantu. Dan akhirnya setiap penolakan itu adalah persetujuan yang tertunda.

Beberapa hujan sore ini telah aku lewati sendirian. Entah kamu ada dimana sekarang. Mungkin saja kau sedang menikmati hujan sore ini dengan orang yang kau sayang. Jelas bukan aku.

###

Kau pergi.

Itulah satu kalimat yang bergema sepanjang malam-malam. Betapa mengenaskannya aku hanya memikirkanmu. Setelah beribu bulir kesedihan mengalir, aku putuskan untuk tetap tinggal. Meskipun dengan resiko yang begitu menyayat.

Lalu hewan-hewan malam kembali menanyakan padaku; “kenapa kau masih saja memikirkan dia?”

“aku takut ia akan kembali kedinginan. Disaat dia pergi mungkin aku masih menunggu dia kembali, tapi aku tak suka menunggu. Lalu siapa yang akan memeluknya saat ia kembali kedinginan?”

Mereka terdiam.

Kau tak akan tahu bagaimana rasanya cinta manusia. Malam itu aku habiskan dengan kesedihan.

###

Mencintai karena kesempurnaan bukan arti dari mencintai sesungguhnya. Dari dua purnama yang aku lewati sendiri, akhirnya aku menyadari bahwa aku hanyalah pengalih dari cintamu sebenarnya. Kau selalu bilang jika cinta itu membutuhkan pengorbanan. Mungkin inilah saatnya aku melakukannya. Memelukmu melalui doa-doaku.

Jika berada didekatmu aku tersakiti, lalu menjauh darimu aku tak bisa. Tuhan, cinta ini salah.

23 februari - 13 maret 2013
semua cinta itu benar, hanya saja terkadang pada waktu yang salah.
Nailal Mustaghfiri