Kali ini hujan mengguyur kota.
Deras sekali. Masih sama dengan hari-hari biasanya di bulan desember. Lalu
lalang kendaraan yang menerjang hujan. Anak-anak kecil yang berjingkrak
menyambut hujan, rintik. Dan aku yang masih saja mengenang, bergumam sendirian.
Bau tanah yang basah dan air hujan ini telah seratus persen membiusku menuju
seseorang. Apabila kau baca ini, seseorang itu adalah kamu. Lalu diorama
wajahmu tertampak di bulir hujan yang berlompatan menjauhi langit. Aku nikmati
itu sendirian. Selalu sendirian.
“kau tak mencoba untuk menghubunginya lagi?”. Andri menyergapku
dengan celotehannya. Aku hanya menggeleng dengan lemah. Aku harap Andri bisa
mengartikan gelenganku. Gelengan yang penuh dengan rasa lelah, pasrah dan
menyerah. “alamak boi, kurang apa sih
kamu itu? Lebih tampan, lebih pintar dan yang jelas kau lebih perhatian dari
pada si anjing itu.” Aku hanya tersenyum. Kalimat itu sedikit mengobati
hatiku.
Sudah lebih dari satu bulan aku
berusaha untuk mengurungkan niatku untuk menghubungimu, memenjarakan kehendak
itu didalam bui yang pengap, basah dan sembab, yang ternyata setiap malam
mengirimkan sinyal kepada mata untuk ikut berduka. Iya, aku tiap malam
memikirkan mu. Dan di penghujung malam, aku selalu berdoa agar kau tak pernah
memikirkan hatiku. Selalu.
Hujan semakin menggelegar
menyesap sore. Mencintai seseorang yang telah memiliki orang lain itu adalah
sebuah tolok ukur kepada diri kita sendiri, mengukur seberapa setianya kita
kepada pacar. Dan terbukti, aku dan kamu, meski dahulu sekali pernah memutuskan
untuk tak setia kepada pasangan.
Aku masih ingat saat pertama kali
kita menikmati hujan ini berdua, kau sedang gusar dengan pacarmu, dan aku
sedang tak mau memikirkannya. Ia terlalu sibuk memikirkan diri sendiri. Kita
punya kesamaan. Sama-sama kesepian dan kurang kasih sayang. Disana kau menyemai
cinta. Hanya aku dan kamu. Berjuang bersama menghindari semuanya. Cinta ini
terasa seperti suara gesekan kapur di papan tulis. Sangat nyeri ketika
didengarkan. Kita saling ketakutan, lalu bersama-sama berlindung dan mencari
kenyamanan di bilik-bilik hati. Itulah cinta.
Ada seorang teman yang masih
menanyakan apa yang telah aku perbuat, aku hanya bisa menjawab bahwa aku hanya
seorang pemulung, memunguti setiap dingin yang berserakan, dan mendekap dengan
penuh kasih sayang, disaat segalanya sudah tak dingin, dan tak lagi kekurangan
cinta, aku sudah bersiap melepaskannya. Meski nyatanya aku tak pernah
merelakannya, karena aku takut ia akan kembali kedinginan. Lagi.
Saat itu kau tergelak kedinginan
dibawah hujan. Aku menghampiri, dan aku ulurkan tanganku dibawah payung hitam.
Aku tersenyum seakan berkata “genggamlah
jemariku, dan kau tak akan lagi kedinginan”. Kau mengangguk. Lalu ku peluk
kau dengan erat. Seperti itulah cinta kita.
Lalu langit bertanya, salahkah
aku memulung cinta yang kedinginan? Bukankah setiap manusia berhak mendapatkan
kasih dan belas sayang?. Aku gusar sendiri. Bukankah hujan yang membuat cinta
itu kedinginan? Atau kebosanan yang membuatnya tersingkir lalu menggigil? Yang jelas
aku hanya ingin membantu. Dan akhirnya setiap penolakan itu adalah persetujuan
yang tertunda.
Beberapa hujan sore ini telah aku
lewati sendirian. Entah kamu ada dimana sekarang. Mungkin saja kau sedang
menikmati hujan sore ini dengan orang yang kau sayang. Jelas bukan aku.
###
Kau pergi.
Itulah satu kalimat yang bergema
sepanjang malam-malam. Betapa mengenaskannya aku hanya memikirkanmu. Setelah beribu
bulir kesedihan mengalir, aku putuskan untuk tetap tinggal. Meskipun dengan
resiko yang begitu menyayat.
Lalu hewan-hewan malam kembali
menanyakan padaku; “kenapa kau masih saja memikirkan dia?”
“aku takut ia akan kembali
kedinginan. Disaat dia pergi mungkin aku masih menunggu dia kembali, tapi aku
tak suka menunggu. Lalu siapa yang akan memeluknya saat ia kembali kedinginan?”
Mereka terdiam.
Kau tak akan tahu bagaimana
rasanya cinta manusia. Malam itu aku habiskan dengan kesedihan.
###
Mencintai karena kesempurnaan
bukan arti dari mencintai sesungguhnya. Dari dua purnama yang aku lewati
sendiri, akhirnya aku menyadari bahwa aku hanyalah pengalih dari cintamu
sebenarnya. Kau selalu bilang jika cinta itu membutuhkan pengorbanan. Mungkin inilah
saatnya aku melakukannya. Memelukmu melalui doa-doaku.
Jika berada didekatmu aku
tersakiti, lalu menjauh darimu aku tak bisa. Tuhan, cinta ini salah.
23 februari - 13 maret 2013
semua cinta itu benar, hanya saja terkadang pada waktu yang salah.
Nailal Mustaghfiri