Sebelum kamu membaca ini semakin
dalam, aku mohon dengan sangat agar kamu mengenakan headphone-mu , lalu mainkan
lagunya Emeli Sande – Clown yang biasa aku nyanyikan disaat kita bersama
membelah kota dengan sepeda motor bututku, dulu disaat sendu. Karena, disaat aku menulis ini, aku sembari
menyanyikannya dengan gemuruh, pendar petir. Di hati.
###
Kita sudah sampai di akhir. Iya,
kita. Aku dan kamu. Berada diujung jalan kita masing-masing. Itulah kenapa aku
namai ini sebagai epilog. Aku tidak pernah membayangkan bahwa akhirnya kita
memiliki jalur yang berbeda. Oh, bukan kita. Cuma kamu saja. Aku masih dijalur
yang biasa kita impikan dan perjuangkan – jalur yang biasa kita angan-angankan
disaat rebahan dibawah konstalasi bintang milky
way diatap kosku.
Kita sudah berada diujung akhir
buku yang tiap hari kita biasa tuliskan dengan penuh harapan-harapan dan
doa-doa. Aku tidak mengerti kenapa ini semua berakhir. Apakah doa-doa kita
tidak memiliki perangko, sampai-sampai pak pos tidak mau beranjak sehingga
Tuhan tidak menerimanya? Ataukah kita kehabisan pulsa? Sering aku tanyakan
kepada Tuhan akan hal itu. Dia membisu. Aku tersedu. Semakin dalam aku larut
diantara remah embun diujung mata sujudku.
Sebentar lagi kita akan sama-sama
menutup lembar terakhir buku kita. Kamu hendak menuliskan cerita yang lain, dan
aku hanya akan menuliskan synopsis dan biodataku sendiri dilembaran cover
belakang buku kita. Diikuti dengan membubuhkan tanda tanganku sebagai pelengkap.
Lalu sepenuhnya hanya untuk dikenang. Olehku saja. Bukan kamu, mungkin karena
kamu akan terlalu sibuk dengan menuliskan cerita dengan harapan, doa yang
menggebu dibuku dan cerita yang lain. Semoga tidak kehabisan perangko ataupun
pulsa. Aku berdoa itu untukmu.
Aku sangat berterimakasih telah
sudi mampir dibuku-ku ini. Terimakasih telah mau meluangkan waktu untuk
menuliskan berpuluh, beratus-ratus lembar cerita dan doa-doa kita dengan tulus.
Aku sangat bangga sekali denganmu. Dan aku selalu akan bahagia. Karena kamu
pernah bilang bahwa kamu sangat mencintaiku seadanya. Terimakasih telah membuat
bapak-nomor-satu-didunia-ku bahagia mendengar setiap cerita-cerita yang kau
haturkan dari kota. Bapak selalu menggemari cerita-ceritamu dikala kamu mampir
kerumah. Terimakasih telah membuat ibuku bahagia karena akhirnya ada yang mau
menemani beliau memasak. Kamu tahu kan jika kakak-kakakku tidak ada yang bisa memasak.
Remah-remah candamu tertinggal disini. Sudikah mau mengambilnya? Sepertinya mereka
tidak lagi membutuhkan itu.
Jarak. Lalu, tumbuh diantara kita
sebuah jarak. Spasi yang biasa kita ciptakan untuk melengkapi kata-kata menjadi
semakin jauh. Spasi yang tidak pernah kita duga akan memisahkan cerita-cerita
kita. Setelah buku ini tertutup rapat aku mohon untuk tidak pernah lagi mencoba
membuka buku ini. Aku takut buku barumu sakit hati. Karena aku begitu. Dulu. Setelah
buku ini habis, aku harap kamu tidak pernah menanyakan aku. Meskipun hanya
kabar. Bisa saja aku sudah tidak mencetak buku baru lagi. Tinggalkan saja aku
diperpustakaan yang biasa kamu kunjungi disaat kota menyengat panasnya. Sibukkan
dirimu dengan harapan-harapan baru. Doa-doa baru yang tiada henti. Kamu berhak
mendapatkan yang lebih dari sekedar aku. Letakkan saja buku ini dirak kategori
novel baris kedua dari bawah. Tidak perlu menghafal nomor serinya. Dan kamu
pasti tahu alasannya.
Hidup adalah sebuah pilihan, termasuk memilih untuk bahagia.
Itulah kalimat yang selalu aku
ucapkan padamu. Kamu berhak memilih bahagia. Kamu pantas mendapatkan lebih dari
sekedar aku.
Kita sudah sampai diujung. Sudah aku
maafkan segalanya. Mulai sekarang kamu bebas untuk pergi. Begitupun sebaliknya.
Maafkan aku atas segala ketidaknyamanan sehingga kamu pindah ke buku yang lain.
Maafkan jika tempat berteduhku tak senyaman dan sebagus mereka yang kamu
impikan. Maafkan aku yang tidak bisa menepati janjiku untuk menahanmu lebih
lama.
###
Kalimat-kalimatku hampir habis. Sebelum
titik memaksaku berhenti, aku memliliki satu permintaan. Aku mohon ingat lagi
segala tujuan awal dan semua komitmen disaat lembar kata pengantar tertuang
dibuku yang lain. Lalu semua epilog-epilog ini akan musnah. Mungkin aku tak
seberuntung yang lain. Maka, aku harap jangan pernah lagi membuat epilog yang
lain. Cukup aku saja yang jadi badutmu.
24 september 2014
Nailal mustaghfiri.
Terselip ini, untuk kita, disaat
badai diantara kita sedang melanda. Cepatlah sembuh. Mari lari-lari lagi.
People change, feelings change. It doesn’t mean that the love once
shared wasn’t true and real. It simply just means that sometimes when people
grow, they grow apart.