Cari

Rabu, 24 September 2014

Epilog

Sebelum kamu membaca ini semakin dalam, aku mohon dengan sangat agar kamu mengenakan headphone-mu , lalu mainkan lagunya Emeli Sande – Clown yang biasa aku nyanyikan disaat kita bersama membelah kota dengan sepeda motor bututku, dulu disaat sendu.  Karena, disaat aku menulis ini, aku sembari menyanyikannya dengan gemuruh, pendar petir. Di hati.

###

Kita sudah sampai di akhir. Iya, kita. Aku dan kamu. Berada diujung jalan kita masing-masing. Itulah kenapa aku namai ini sebagai epilog. Aku tidak pernah membayangkan bahwa akhirnya kita memiliki jalur yang berbeda. Oh, bukan kita. Cuma kamu saja. Aku masih dijalur yang biasa kita impikan dan perjuangkan – jalur yang biasa kita angan-angankan disaat rebahan dibawah konstalasi bintang milky way diatap kosku.

Kita sudah berada diujung akhir buku yang tiap hari kita biasa tuliskan dengan penuh harapan-harapan dan doa-doa. Aku tidak mengerti kenapa ini semua berakhir. Apakah doa-doa kita tidak memiliki perangko, sampai-sampai pak pos tidak mau beranjak sehingga Tuhan tidak menerimanya? Ataukah kita kehabisan pulsa? Sering aku tanyakan kepada Tuhan akan hal itu. Dia membisu. Aku tersedu. Semakin dalam aku larut diantara remah embun diujung mata sujudku.

Sebentar lagi kita akan sama-sama menutup lembar terakhir buku kita. Kamu hendak menuliskan cerita yang lain, dan aku hanya akan menuliskan synopsis dan biodataku sendiri dilembaran cover belakang buku kita. Diikuti dengan membubuhkan tanda tanganku sebagai pelengkap. Lalu sepenuhnya hanya untuk dikenang. Olehku saja. Bukan kamu, mungkin karena kamu akan terlalu sibuk dengan menuliskan cerita dengan harapan, doa yang menggebu dibuku dan cerita yang lain. Semoga tidak kehabisan perangko ataupun pulsa. Aku berdoa itu untukmu.

Aku sangat berterimakasih telah sudi mampir dibuku-ku ini. Terimakasih telah mau meluangkan waktu untuk menuliskan berpuluh, beratus-ratus lembar cerita dan doa-doa kita dengan tulus. Aku sangat bangga sekali denganmu. Dan aku selalu akan bahagia. Karena kamu pernah bilang bahwa kamu sangat mencintaiku seadanya. Terimakasih telah membuat bapak-nomor-satu-didunia-ku bahagia mendengar setiap cerita-cerita yang kau haturkan dari kota. Bapak selalu menggemari cerita-ceritamu dikala kamu mampir kerumah. Terimakasih telah membuat ibuku bahagia karena akhirnya ada yang mau menemani beliau memasak. Kamu tahu kan jika kakak-kakakku tidak ada yang bisa memasak. Remah-remah candamu tertinggal disini. Sudikah mau mengambilnya? Sepertinya mereka tidak lagi membutuhkan itu.

Jarak. Lalu, tumbuh diantara kita sebuah jarak. Spasi yang biasa kita ciptakan untuk melengkapi kata-kata menjadi semakin jauh. Spasi yang tidak pernah kita duga akan memisahkan cerita-cerita kita. Setelah buku ini tertutup rapat aku mohon untuk tidak pernah lagi mencoba membuka buku ini. Aku takut buku barumu sakit hati. Karena aku begitu. Dulu. Setelah buku ini habis, aku harap kamu tidak pernah menanyakan aku. Meskipun hanya kabar. Bisa saja aku sudah tidak mencetak buku baru lagi. Tinggalkan saja aku diperpustakaan yang biasa kamu kunjungi disaat kota menyengat panasnya. Sibukkan dirimu dengan harapan-harapan baru. Doa-doa baru yang tiada henti. Kamu berhak mendapatkan yang lebih dari sekedar aku. Letakkan saja buku ini dirak kategori novel baris kedua dari bawah. Tidak perlu menghafal nomor serinya. Dan kamu pasti tahu alasannya.

Hidup adalah sebuah pilihan, termasuk memilih untuk bahagia.

Itulah kalimat yang selalu aku ucapkan padamu. Kamu berhak memilih bahagia. Kamu pantas mendapatkan lebih dari sekedar aku.

Kita sudah sampai diujung. Sudah aku maafkan segalanya. Mulai sekarang kamu bebas untuk pergi. Begitupun sebaliknya. Maafkan aku atas segala ketidaknyamanan sehingga kamu pindah ke buku yang lain. Maafkan jika tempat berteduhku tak senyaman dan sebagus mereka yang kamu impikan. Maafkan aku yang tidak bisa menepati janjiku untuk menahanmu lebih lama.

###

Kalimat-kalimatku hampir habis. Sebelum titik memaksaku berhenti, aku memliliki satu permintaan. Aku mohon ingat lagi segala tujuan awal dan semua komitmen disaat lembar kata pengantar tertuang dibuku yang lain. Lalu semua epilog-epilog ini akan musnah. Mungkin aku tak seberuntung yang lain. Maka, aku harap jangan pernah lagi membuat epilog yang lain. Cukup aku saja yang jadi badutmu.




24 september 2014
Nailal mustaghfiri.
Terselip ini, untuk kita, disaat badai diantara kita sedang melanda. Cepatlah sembuh. Mari lari-lari lagi.


People change, feelings change. It doesn’t mean that the love once shared wasn’t true and real. It simply just means that sometimes when people grow, they grow apart.