Cari

Sabtu, 07 Januari 2012

Sepucuk cinta dariku

Kau yang tercinta,
Maaf bila surat ini mengusik hari-harimu, aku hanya tak tahu harus bagaimana melakukannya. Dalam tiap lembaran surat ini aku sertakan potongan cinta yang sejak dulu aku simpan untuk mu. Maaf, terkadang aku tak punya waktu untuk memberikannya. Mungkin lebih tepatnya tidak menyempatkan. Kau terburu pergi, maka aku kirimkan saja dengan surat ini. Cinta itu sudah tak betah dihati ku. Ia ingin kembali kepada majikannya.
Cinta itu aku bungkus rapat agar tetap segar seperti sewaktu aku kirimkan kepada pak pos. ada raut heran dimata pak pos kala aku datang dengan kotak besar yang aku bawa didepan dada, terhuyung menuju meja resepsionis, beliau langsung mengatakan “apa ini?” cinta pak, jawabku.  Pak pos itu tidak percaya kalau cinta bisa dikirimkan lewat pos. aku selalu percaya. Apakah kau mempercayaiku?
Ketokan stempel pos sudah ada dikotak ini, yang berarti barangnya sudah siap dikirim kepadamu. Kabari aku segera bila kau sudah selesai membaca surat ini dan mengambil cinta dalam kotak itu. Di sini aku pasti akan sangat lega.
Seperti senja di pantai yang dulu kita habiskan waktu bersama, begitulah rupa cinta yang aku kirim kepadamu, semoga masih lengkap dengan buih-buih ombak yang hilir mudik, dengan karang yang kau ambil – untuk dijadikan kalung katamu, aku hanya tersenyum melihatmu seperti anak kecil, bermain pasir pantai yang putih, masihkah rupa cinta yang sudah kau terima dengan apa yang sudah aku gambarkan tadi?
Pasti kau heran bagaimana bisa aku berkirim kepadamu sepotong cinta, maka akan aku ceritakan padamu bagaimana aku mengirimkan cinta itu padamu kembali.
Sore itu hujan, seperti yang dulu sering aku ceritakan padamu kalau disini hujan turun seperti gadis pemalu yang bejingkrak-jingkrak berlompatan diatas jalan, selalu riang diatas trotoar, jalan, atap rumah, pohon yang menjadikan semuanya gembira menari bersama. Hari itu aku baru pulang dari tempatku mencari uang, melepaskan mantel yang basah, mengkibas-kibaskan lalu menggantungnya di dinding, lalu berjalan menuju ruang tengah. Melihat hujan yang selalu riang itu mengingatkanku padamu. Wajah manis yang selalu riang. Tiba-tiba petir menyambar, tepat di depan rumah, lalu aku ingat sesuatu.  Masih ada yang tertinggal dihati hanya untukmu.
Seperti biasa, apabila hujan aku selalu menyukai duduk didekat jendela ruang tengah, melihat rintik air yang jatuh, melihat tempias air yang bercipratan kesana-kemari. Mengedarkan pandangan keluar jendela, jauh disana. Lalu ada yang berontak dihati. Lalu ku ingat dirimu. “akan aku kirimkan itu untukmu.”
Hujan sudah redam. Menyisakan genangan-genangan kecil disana-sini. Aku beranjak menuju dapur. Mencari sebilah pisau. Tapi tak kunjung aku temui teman pisauku. Lalu aku mengalihkan pandangan pada sebuah silet yang tergeletak di atas pintu. Ku coba mengambilnya, tapi sudah berkarat. Kurasa kau tak akan menerima cinta yang sudah berkarat. Aku tidak mengambilnya. Didalam sini, ada yang bergejolak, ku redam dengan tangan kiriku, mencoba untuk menenangkan. Didapur hanya ada sebuah sendok. Apa boleh buat, mungkin sendok itu akan berguna.
Lalu aku kembali keruang tengah. Mencoba mencari sesuatu yang berguna saat itu. Lalu mataku bertabrakan dengan bayangan dicermin. Aku berhenti sejenak. Lalu aku mendapatkan ide gila – yaitu membelah dadaku dengan pecahan kaca. Adakah bekas sayatan kaca dicintamu itu sekarang?
Hujan kembali turun, aku bergegas naik kekamarku. Didalam sana ada sebuah cermin. Tangan kiriku masih memegang sendok dan masih meredam gejolak didadaku. Dengan segera aku hantamkan tangan kananku ke arah cermin, darah segar mengucur dari jemariku. Sangat aneh. Tidak ada rasa sakit sedikitpun. Sebuah bongkahan cermin jatuh kebawah. Dengan darah yang menetes merah aku pungut cermin itu. Sekilas bayangan wajahmu yang cantik tersenyum, seolah mengatakan – segera pulangkan cintaku!!.
Aku gemetaran. Entah apa yang sedang aku lakukan. Kucoba rapalkan sebaris doa yang biasa bapak ajarkan dulu sewaktu SD, lalu kuhunuskan kedadaku. Teriakanku tertahan di tenggorokan, aku tak mau ada yang mendengarkan ku kesakitan. Aku terhuyung jatuh kelantai. Darah dimana-mana. Cermin itu berhasil menembus dadaku. Aku tersengal-sengal tertunduk dilantai. Dengan segenap tenaga aku tarik keatas cermin itu, membentuk sebuah sayatan panjang. Lalu semuanya mereda, sudah tidak ada lagi gejolak di dada. Semuanya hilang. Kulihat dengan mataku, benar ada sesuatu yang biasa kau sebut cinta didalamnya. Kuambil sendok yang tadi terjatuh dengan tangan kiriku. Kumasukan sendok itu, dan cinta itu terangkat. Sedikit berdetak tapi lebih menyerupai pudding coklat yang biasa kau pesan kala aku mengajakmu makan malam.
Kuletakan cinta itu didalam mangkuk, membersihkannya dengan air lalu aku bungkus dengan plastik. Ku obati dada ini dengan antiseptic, agar cepat kering. Lalu ku berlari turun kebawah mencari kotak yang pas. Tapi aku tidak kunjung menemukan. Lalu hanya ada kardus mie instan, kufikir itu akan sangat berguna pada waktu itu. Dengan bercakdarah dimana-mana aku belah jalanan dengan berlari menuju kantor pos. dan aku yakin kau pasti tahu kelanjutannya. Jadi begitulah ceritanya bagaimana aku bisa mengirimkan sepoting cinta untukmu, maksudku mengembalikannya padamu.
Sudah kah kau menghubungiku meski hanya sekedar memastikan kalau cintamu sudah sampai ditempatmu?
Bersama dengan surat ini, aku sertakan cinta yang dulu aku punya hanya untukmu, cinta yang kau buat dengan sikap manismu, paras cantikmu, sudah aku kembalikan, semoga tidak kau kirim balik kepadaku. Aku sudah sangat menderita menjaganya. Aku harap kau mengetahuinya. Sudah kukerat cinta itu diagonal menjadi seukuran kartu pos, agar lebih murah dalam biayanya, masih utuhkah bentuknya?
Kini, hatiku sudah benar-benar tak lagi berbentuk persegi. Pada masa yang akan datang, orang-orang tua, dokter, ataupun ilmuan akan bercerita kepada anaknya, muridnya atau sekedar topic selingan disaat minum kopi, bahwa dulunya hati manusia berbentuk persegi panjang sempurna, tapi lantas seseorang memotongnya dengan sebilah cermin untuk orang yang sangat dikasihinya karena sebagian hatinya sudah menjadi milik kekasih yang sudah jauh pergi itu.
Kau, yang sudah sangat jauh, terimalah cinta ini hanya untukmu, cinta yang secara tidak langsung kau ambil dari seseorang yang sedari dulu ingin membahagiakanmu. Ku mohon kau akan menerimanya, sudah kukembalikan cinta itu utuh, hati-hati dengan debur ombak, pasir pantai, mie ayam yang pedas, serta hujan pertama yang dulu membuat kau dan aku terperangkap dalam tempat yang sama. Semoga tidak tumpah yang menjadikan banjir. Alasan mengapa aku kembalikan cinta itu karena aku seorang penulis. Dari dulu kau sangat membenci penulis, pengecut katamu. Yang hanya mengungkapkan semuanya dengan kata-kata, padahal kata-kata itu tidak akan merubah segalanya.  Itulah sebabnya kau memilih orang yang bergelar sarjana hukum. Bukan sarjana kesenian.
Dari tempat yang selalu hujan, kukirimkan serta rindu, lengkap dengan peluk, cium yang mesra, meski tidak mungkin.

28 oktober 2011
Nailal mustaghfiri
Semarang, trengguli 1 no.29
Terima kasih buat: seno gumira dan kurnia JR atas inspirasinya.. ^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar