Dilampu merah itu detik terus
berlari, menuju hijau tentunya. Dan seperti biasa, jam delapan lebih dua puluh
menit. Di sini, didekat lampu merah aku menikmati hidangan makan malam seperti
biasa. Deru mobil bersahut-sahutan tidak akan pernah mampu menghalau lalu
lalang orang-orang kelaparan untuk datang ketempat itu. Sebenarnya tidak ada
yang spesial. Gerobak dorong warna biru. Lampu neon lima belas watt dan
gorengan yang berserakan diatas nampan-nampan yang nampaknya pasrah saat
gorengan-gorengannya diambil oleh orang tanpa dosa itu. Tapi paling tidak
nampan itu mendapatkan tugas yang mulia. Dari pada hanya di letakkan diemperan
toko perabot seberang jalan yang tak pernah laku.
Malam itu, seperti biasanya; nasi
bungkus rasa ayam Bali dan semangkuk
mie instan telur. Sesekali melirik gorengan, yang – jujur terkadang terlihat
sangat menawan. Ingin kumakan, tapi sering juga tercekat saat menyadari dompet
selalu berteriak kekosongan. Sesuap demi suap aku nikmati malam-malam biasa dengan
es teh, nasi, mie dan deru laju
kendaraan yang sesekali memekakkan telinga.
Disanalah pak Amin berjualan nasi
bungkus. Dan apabila ada undian untuk pelanggan pasti aku akan mendapatkan
undian doorprize–nya. Aku adalah
pelanggan setianya. Intinya, tidak ada yang bisa mengungguli rasa nasi bungkus
”ayam bali”-nya. Atau mungkin aku yang terlalu lemah untuk beranjak ketempat
lain dengan menu dan rasa masakan yang lebih lezat. Bisa jadi aku gagal move on. Aih!
Di hitungan lampu merah yang ke
tiga puluh. Kau datang dari balik bilik toko sebelah pasar. Masih aku ingat
jelas kau mengenakan kaos barong bali warna ungu kombinasi putih dan celana training biru. Iya, sepertinya begitulah
adanya dirimu saat itu. Sederhana dan cantik. Entah mengapa aku terpaku
melihatmu. Sempat aku bertanya apakah kau adalah seseorang yang pernah mengisi
masa lalu-ku. Tapi aku pastikan kau adalah orang baru. Bukan orang yang baru
datang dari masa lalu. Kau cantik. Bagiku sangat cantik. Mata yang teduh itu,
ah.
#
Di malam-malam selanjutnya hampir
kau selalu ada disaat jam delapan lebih duapuluh. Terkadang hari senin, rabu
atau bahkan sabtu malam. Setelah malam yang terakhir disebut aku terka kau
belum menemukan pacar atau pujaan hati. Tapi sayang, aku sudah.
Setelah beberapa puluh malam, aku
akhirnya hafal apa yang selalu kau pesan. Cuma segelas susu coklat anget. Entah alasan logis apa yang harus aku terima
saat kau mencoba membela tindakanmu ini saat nanti – entah kapa kita akan
berbicara. Kau selalu memesannya dan kau ambil posisi duduk yang sekiranya
berada dalam jangkauan pandanganku. Ah, strategi mu bagus!
Untuk malam itu kau tersenyum
pada akhirnya kepadaku setelah kau habiskan susu
coklat anget-mu. Malam itu aku gagal tidur sampai subuh. Aku bahagia.
#
Setelah kejadian malam itu aku
mencoba untuk mencari dimana kau hidup. Lalu aku temukan alamat yang mungkin
seratus persen benar. Kau tinggal beberapa gang jaraknya dari tempat biasa kita
bertemu. Aneh kah? Hatiku bertanya saat melihat betapa jauhnya jarak antara
warung kucingan ini dan tempat kosmu hanya demi segelas susu coklat anget.
Dua malam setelah itu kuputuskan
untuk mengunjungi warung pak Amin lebih terlambat. Jam sembilan lebih tiga
puluh. Dan aku bersorak gembira saat kau masih ada disana dengan gelasmu. Kau duduk
diseberangku. Gelas, sendok dan nasi ayam
bali ini juga terpaku akan waktu. Diam. Malam itu kau tak habiskan susu coklat anget-mu. Langit bergemuruh.
Mungkin hujan akan datang lebih awal.
#
Pada malam-malam selanjutnya kau
memilih untuk membungkus semuanya. Gorengan, susu coklat, dan hatiku. Berlalu seperti angin. Kau terlalu dingin.
#
Malam itu tepat hari ulang
tahunku. Kuputuskan untuk merayakannya sendiri di kucingan pak Amin. Dengan segelas
soda gembira-minuma spesial karena
hari itu hari yang spesial, serta tak lupa nasi ayam bali dan mie instan
telur. Semua terasa hambar. Kurasa karena kau melewatkan hari itu untuk tak
datang diacara pesta ulang tahunku. Halilintar menyambar. Tanda akan badai.
Setelah lebih dari sebulan kau
tak menampakan diri, aku sampai lupa bagaimana rasanya menikmati nasi ayam bali-ku ini. Tapi beberapa detik
setelah detik lampu merah mencapai hijau, diantara celah bayangan lapak-lapak
pedagang pasar kau terlihat. Pandanganku berhamburan mencari kebenaran hal itu.
Dan memang ternyata itu dirimu. Aku bahagia, gembira. Melebihi rasa manisnya es teh-ku ini.
Diantara para pelanggan yang lain
kau seperti mengajakku untuk mengikutimu melalui mata teduhmu. Lalu kau kembali
menghilang ditelan gelap. Kukemasi barangku, dan mengejarmu. Ah, seperti itukah
seorang perempuan itu?
Dibalik sudut pasar yang terlihat
redup itu kau duduk sendirian. Seakan memohon untuk ditemani. Setelah jarak
hanya satu langkah kau tiba-tiba menyergapku. Memelukku dengan erat. Kau diam. Tapi
aku bisa menerka bahwa ada cinta yang mengalir. Dekapanmu semakin erat sampai
aku menahan nafas. Diantara udara yang membisu itu kucoba memecahkannya dengan
mengucapkan sesuatu.
“aku juga mencintaimu”.
Kau tetap diam.
Mata kita bertemu. Lalu sekian
detik kemudian ada dengus nafas diantara bibir yang beradu. Kau kencangkan lagi
dekapanmu, seakan kau tak membiarkan pergi dengan yang lain. Kita berpagutan. Baru
kali ini aku mencium seseorang asing. Tapi aku rasa kau bukan seorang asing
lagi. Mungkin akunya yang buta tak pernah melihatmu berlalu-lalang dihati.
Diatara dekapan erat, remasan
yang menggetarkan jiwa, ada kata-kata cinta. Ada kata sayang. Berulang-ulang.
#
Lalu semua itu hilang ditelan
gelap seperti layar TV saat mati lampu. Ku benahi lagi posisi dudukku, diantara
para pengunjung yang ramai malam ini kau masih tetap asyik menikmati susu coklat anget –mu duduk diujung
sudut kursi terjauh. Entah demi apapun, aku pernah
mencintaimu.
Dia seperti genderang malamku
Dia seperti penyejuk malamku
Dia tak kusangka balas pandanganku..
Dia begitu jauh dimataku
Dia begitu jauh di jangkauku
Dia tak kusangka balas senyumanku..
Kami saling pandang tanpa bicara
Sepertinya dia tahu apa dihatiku tertera
Dan waktu saat itu sungguh mengerti aku
Dan dia berlalu tanpa tahu
siapa aku..
Aku cukup tahu dia dari sini saja
Aku cukup lihat dia dari sudut sini saja
Dan aku sudah bahagia seperti ini
Dan dia sudah sempurna
(Evo- Aku dan Dia)
12 Juli 2012
Nailal Mustaghfiri
@naelalo
Diantara tumpukan lembar skripsi
kutemukan cerita ini, terimakasih untuk Evo atas lagunya..inspiratif.. J
*Dan buat seseorang disana, cinta yang dipendam itu seperti berjalan ke
pusat perbelanjaan, hendak membeli sesuatu yang dibutuhkan tapi uangnya tidak
mencukupi untuk membelinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar