Cari

Kamis, 12 Juli 2012

Dikucingan, kita selingkuh..!!


Dilampu merah itu detik terus berlari, menuju hijau tentunya. Dan seperti biasa, jam delapan lebih dua puluh menit. Di sini, didekat lampu merah aku menikmati hidangan makan malam seperti biasa. Deru mobil bersahut-sahutan tidak akan pernah mampu menghalau lalu lalang orang-orang kelaparan untuk datang ketempat itu. Sebenarnya tidak ada yang spesial. Gerobak dorong warna biru. Lampu neon lima belas watt dan gorengan yang berserakan diatas nampan-nampan yang nampaknya pasrah saat gorengan-gorengannya diambil oleh orang tanpa dosa itu. Tapi paling tidak nampan itu mendapatkan tugas yang mulia. Dari pada hanya di letakkan diemperan toko perabot seberang jalan yang tak pernah laku.

Malam itu, seperti biasanya; nasi bungkus rasa ayam Bali dan semangkuk mie instan telur. Sesekali melirik gorengan, yang – jujur terkadang terlihat sangat menawan. Ingin kumakan, tapi sering juga tercekat saat menyadari dompet selalu berteriak kekosongan. Sesuap demi suap aku nikmati malam-malam biasa dengan es teh, nasi, mie dan deru laju kendaraan yang sesekali memekakkan telinga.

Disanalah pak Amin berjualan nasi bungkus. Dan apabila ada undian untuk pelanggan pasti aku akan mendapatkan undian doorprize–nya. Aku adalah pelanggan setianya. Intinya, tidak ada yang bisa mengungguli rasa nasi bungkus ”ayam bali”-nya. Atau mungkin aku yang terlalu lemah untuk beranjak ketempat lain dengan menu dan rasa masakan yang lebih lezat. Bisa jadi aku gagal move on. Aih!

Di hitungan lampu merah yang ke tiga puluh. Kau datang dari balik bilik toko sebelah pasar. Masih aku ingat jelas kau mengenakan kaos barong bali warna ungu kombinasi putih dan celana training biru. Iya, sepertinya begitulah adanya dirimu saat itu. Sederhana dan cantik. Entah mengapa aku terpaku melihatmu. Sempat aku bertanya apakah kau adalah seseorang yang pernah mengisi masa lalu-ku. Tapi aku pastikan kau adalah orang baru. Bukan orang yang baru datang dari masa lalu. Kau cantik. Bagiku sangat cantik. Mata yang teduh itu, ah.
#
Di malam-malam selanjutnya hampir kau selalu ada disaat jam delapan lebih duapuluh. Terkadang hari senin, rabu atau bahkan sabtu malam. Setelah malam yang terakhir disebut aku terka kau belum menemukan pacar atau pujaan hati. Tapi sayang, aku sudah.

Setelah beberapa puluh malam, aku akhirnya hafal apa yang selalu kau pesan. Cuma segelas susu coklat anget. Entah alasan logis apa yang harus aku terima saat kau mencoba membela tindakanmu ini saat nanti – entah kapa kita akan berbicara. Kau selalu memesannya dan kau ambil posisi duduk yang sekiranya berada dalam jangkauan pandanganku. Ah, strategi mu bagus!

Untuk malam itu kau tersenyum pada akhirnya kepadaku setelah kau habiskan susu coklat anget-mu. Malam itu aku gagal tidur sampai subuh. Aku bahagia.
#
Setelah kejadian malam itu aku mencoba untuk mencari dimana kau hidup. Lalu aku temukan alamat yang mungkin seratus persen benar. Kau tinggal beberapa gang jaraknya dari tempat biasa kita bertemu. Aneh kah? Hatiku bertanya saat melihat betapa jauhnya jarak antara warung kucingan ini dan tempat kosmu hanya demi segelas susu coklat anget.

Dua malam setelah itu kuputuskan untuk mengunjungi warung pak Amin lebih terlambat. Jam sembilan lebih tiga puluh. Dan aku bersorak gembira saat kau masih ada disana dengan gelasmu. Kau duduk diseberangku. Gelas, sendok dan nasi ayam bali ini juga terpaku akan waktu. Diam. Malam itu kau tak habiskan susu coklat anget-mu. Langit bergemuruh. Mungkin hujan akan datang lebih awal.
#
Pada malam-malam selanjutnya kau memilih untuk membungkus semuanya. Gorengan, susu coklat, dan hatiku. Berlalu seperti angin. Kau terlalu dingin.
#
Malam itu tepat hari ulang tahunku. Kuputuskan untuk merayakannya sendiri di kucingan pak Amin. Dengan segelas soda gembira-minuma spesial karena hari itu hari yang spesial, serta tak lupa nasi ayam bali dan mie instan telur. Semua terasa hambar. Kurasa karena kau melewatkan hari itu untuk tak datang diacara pesta ulang tahunku. Halilintar menyambar. Tanda akan badai.

Setelah lebih dari sebulan kau tak menampakan diri, aku sampai lupa bagaimana rasanya menikmati nasi ayam bali-ku ini. Tapi beberapa detik setelah detik lampu merah mencapai hijau, diantara celah bayangan lapak-lapak pedagang pasar kau terlihat. Pandanganku berhamburan mencari kebenaran hal itu. Dan memang ternyata itu dirimu. Aku bahagia, gembira. Melebihi rasa manisnya es teh-ku ini.

Diantara para pelanggan yang lain kau seperti mengajakku untuk mengikutimu melalui mata teduhmu. Lalu kau kembali menghilang ditelan gelap. Kukemasi barangku, dan mengejarmu. Ah, seperti itukah seorang perempuan itu?

Dibalik sudut pasar yang terlihat redup itu kau duduk sendirian. Seakan memohon untuk ditemani. Setelah jarak hanya satu langkah kau tiba-tiba menyergapku. Memelukku dengan erat. Kau diam. Tapi aku bisa menerka bahwa ada cinta yang mengalir. Dekapanmu semakin erat sampai aku menahan nafas. Diantara udara yang membisu itu kucoba memecahkannya dengan mengucapkan sesuatu.

“aku juga mencintaimu”.

Kau tetap diam.

Mata kita bertemu. Lalu sekian detik kemudian ada dengus nafas diantara bibir yang beradu. Kau kencangkan lagi dekapanmu, seakan kau tak membiarkan pergi dengan yang lain. Kita berpagutan. Baru kali ini aku mencium seseorang asing. Tapi aku rasa kau bukan seorang asing lagi. Mungkin akunya yang buta tak pernah melihatmu berlalu-lalang dihati.

Diatara dekapan erat, remasan yang menggetarkan jiwa, ada kata-kata cinta. Ada kata sayang. Berulang-ulang.
#
Lalu semua itu hilang ditelan gelap seperti layar TV saat mati lampu. Ku benahi lagi posisi dudukku, diantara para pengunjung yang ramai malam ini kau masih tetap asyik menikmati susu coklat anget –mu duduk diujung sudut kursi terjauh. Entah demi apapun, aku pernah mencintaimu.


Dia seperti genderang malamku
Dia seperti penyejuk malamku
Dia tak kusangka balas pandanganku..

Dia begitu jauh dimataku
Dia begitu jauh di jangkauku
Dia tak kusangka balas senyumanku..

Kami saling pandang tanpa bicara
Sepertinya dia tahu apa dihatiku tertera
Dan waktu saat itu sungguh mengerti aku
Dan dia berlalu tanpa tahu siapa aku..

Aku cukup tahu dia dari sini saja
Aku cukup lihat dia dari sudut sini saja
Dan aku sudah bahagia seperti ini
Dan dia sudah sempurna
(Evo- Aku dan Dia)

12 Juli 2012
Nailal Mustaghfiri
@naelalo
Diantara tumpukan lembar skripsi kutemukan cerita ini, terimakasih untuk Evo atas lagunya..inspiratif.. J
*Dan buat seseorang disana, cinta yang dipendam itu seperti berjalan ke pusat perbelanjaan, hendak membeli sesuatu yang dibutuhkan tapi uangnya tidak mencukupi untuk membelinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar