[Part I]
“cinta memang buta, tapi seharusnya tidak bodoh..cinta
adalah sesuatu yang membuat kita menyiapkan pisau belati dibalik punggung
ketika kita menyodorkan bunga mawar dengan tangan kanan..selalu ada kegelapan
disetiap sudut terang..”
###
Satu jam yang
lalu aku baru saja menerima uang pensiunanku. Satu tas penuh dengan uang
seratus ribuan. Bila ditaksir mungkin sekitar enam puluh juta lebih, aku sengaja minta kontan
dengan harapan setelah menjadi pensiunan aku bisa membuka toko kelontong
kecil-kecilan untuk mencukupi anak dan istriku. Umurku sudah semakin tua tapi
aku belum bisa untuk menjadi selayaknya seumuranku, aku masih ingin bekerja. Tapi
apalah daya Tuhan sudah mengistirahatkan aku dengan pensiunan.
Dulu aku adalah
seorang penjaga sekolah yang diangkat sebagai pegawai negeri setelah 25 tahun
menjadi tenaga bantu di SD Negeri di kampung. Sewaktu itu penjaga kampung
adalah jabatan setingkat takmir masjid, karena tugasnya adalah sama-sama
menjaga tempat yang bermanfaat, sehingga aku sering dipanggil pak bon dari pada
nama asli ku, yaitu badruzzaman.
Sewaktu itu aku masih berusia 16 tahun, setelah menamatkan sekolah menengah
pertama aku melamar menjadi pesuruh di toko orang tionghoa, tapi tak sampai
sebulan dipecatnyalah diriku karena selalu memcahkan gelas sewaktu menghidangkan makanan
pagi, padahal yang memecahkan anak bungsu yang masih balita. Sungguh tak mujur
nasibku waktu itu.lalu aku melamar menjadi tukang pemetik teh dibelakang desa,
tak sampai dua minggu aku pun mundur karena aku tak cukup gesit untuk menyamai
tangan para wanita yang sudah turun temurun menjadi pemetik teh. Lalu pada akhirnya
aku melamar menjadi tukang penjaga sekolahan untuk kali pertamanya di kampung.
Hanya menyediakan teh manis setiap pagi dan membersihkan dedaunan kering di halaman
bukanlah merupakan pekerjaan berat bagi ku.
Sewaktu dulu sekolahan itu masih milik Belanda,
dimana para menir selalu memesan kopi pahit dan gula batu setiap paginya.
Dengan kudapan kue onde-onde yang biasa dipesan dari kampung sebelah. Sepuluh
tahun sudah aku meladeni para kompeni sampai akhirnya tahun 1948 indonesia
mengusir para penjajah dengan pengakuan kemerdekaan Negara indonesia. Dari
sinilah ceritaku dimulai, kawan akan aku ceritakan semua selagi aku masih
mengingatnya.
###
Hari setelah
pengakuan itu ternyata masih sama saja dengan hari sebelumnya, aku masih saja
menyediakan kopi pahit dan gula batu untuk para menir, ternyata mereka tidak
ikut pulang ketanah kelahiran mereka karena mereka adalah seorang pengajar,
bukan militer, dalam perjanjian yang dibuat oleh Bung Hatta bukan semua warga
Belanda yang ditarik kembali melainkan hanya militernya saja, sungguh gusar
hatiku mendengar hal itu, aku masih saja melayani orang asing dinegeri sendiri,
aku bukan lulusan SR (sekolah Rakjtat) setingkat SD kalau jaman sekarang. Aku
hanya mampu sampai tingkat 3 di SR, lalu aku putus sekolah dan lebih memilih
sapi dan kambing untuk menjadi teman keseharianku. Lalu oleh pak bayan aku
disuruh untuk meneruskan sekolah dengan jenjang keseteraan yang diadakan oleh pemerintah
Soekarno. Ku ikuti sembari masih menjadi teman dari kambing dan sapi, setelah
lulus aku mendaftar menjadi penjaga sekolah, dan diterimalah aku, ternyata
ucapan pak bayan ada benarnya, dengan ilmu kita bisa menjadi apa saja yang kita
inginkan, bukan hanya menjadi teman dari sapi dan kambing.
Seingatku hari
itu adalah hari Senin di minggu kedua dalam bulan ketiga. Aku masih ingat waktu
itu adalah tanggal 15, seperti biasa hari senin
adalah hari yang sangat membuat pusing bagi penjaga sekolah dimanapun,
karena tiap awal minggu pasti ada upacara bendera, dan pak bon-lah yang harus
mempersiapkan segala macam upeti yang hendak dipersiapkan. Sekilas dan sangat
tak jelas aku melihatnya, untuk pertama kali aku merasakan sesuatu bergemuruh
dihati, bukan karena omelan pak tarjo sang kepala sekolah, ataupun triakan
anak-anak sekolah yang seakan selalu mengejek diriku. Bukan karena itu tapi
mungkin lebih mirip dengan cinta. Entahlah akupun tak tahu menahu tentang hal
itu, hanya saja seperti bunga yang beterbangan disekelilingku, sungguh aneh
tetapi aku sangat menikmatinya. Aku senyum sendiri setelah kejadian itu. Ya
Tuhan mungkin jodohku sudah dekat. Saat itu baru berumur 35 tahun. Ukuran yang
sangat mepet untuk seorang perjaka, aku belum siap menikah karena hidupku saja
tak bisa aku atur, apalagi harus mengatur kehidupan orang lain yang menjadi
istri dan anaknya kelak?? Selalu pertanyaan itu yang muncul dalam benak, dan
itulah yang selalu saja berhasil mengganjal aku untuk menikah, lalu aku
undurkan saja niatku, setahun, dua tahun lalu bertahun-tahun.
Dia sangat manis
bila ku lihat, anak dari seorang saudagar yang kaya di kampung, sempat ada rasa
minder dan takut untuk mendekatinya, bukan takut karena akan digigit atau
semacamnya melainkan strata sosial yang susah ditandingi olehku. Aku seorang pak
bon sedang dia adalah putri seorang saudagar kain di kecamatan. Tapi inilah
indahnya cinta, cinta tak kan memandang apa-apa. Meski jelek, meski kaya, meski
miskin cinta selalu hidup diantaranya. Maka tak heran bila akhirnya cinta itu
buta. Buta tak bisa membedakan apapun. Setelah hari itu aku jadi sering lama
menyapu halaman depan ketika jam masuk sekolah, sembari menunggu anak-anak
menyebrang jalan aku lihat sekeliling siapa tahu dia lewat dengan orang tuanya.
Ku lihat dia sekilas, lalu dia membalasnya dengan senyuman. Kau tahu kawan
bagaimana rasanya?? Seperti makan kue bandung bikinan orang kecamatan yang
hanya jualan pada malam minggu. Atau seperti mendapatkan uang banyak sekali dan
tak terhitung. Kurang lebih begitulah makna dari senyumannya kepada ku. Meski
mungkin menurutnya bukan seperti yang aku gambarkan. Begitulah cinta…
###
Hari sudah sore
ketika aku hendak menutup pintu terakhir ruang para guru, setelah membersihkan
halaman dan kelas-kelas. Suasana sekolahan tampak menyeramkan sekali, bulu
kudukku sampai berdiri dibuatnya. Sungguh aneh suasana hari itu. Ketika selesai
mengunci pintu terakhir ruang guru yang berada di pojokan sebelah barat kuputar
tubuhku dan astaga betapa kagetnya aku melihat sosok perempuan tertunduk lesu
di lantai halaman depan. Siapakah gerangan wanita itu? Hatiku bergetar dan
takut, Ingin
rasanya berlari saja melompati pagar setinggi 2 meter atau pura-pura pingsan
saja agar wanita itu hilang dalam kedipan mata. Ku gosok-gosok mata berulang
kali, ku kedipkan mataku berulang kali juga. Tapi entah mengapa hantu wanita
itu tak jua hilang dalam pandangan. Makin takut saja aku. Pikiran tentang hantu
wanita yang suka memakan organ tubuh manusia dari cerita orang tua jaman dulu
merasuki otak ku, berdesak-desakan sampai membuatku berkeringat deras. Sempat
terucap sebuah doa dari hati ku;
“ya Tuhan jangan
ambil nyawaku sekarang, aku belum menikah Tuhan..!!”. bisikku dalam hati.
Sepuluh menit
berlalu dengan otakku yang masih dijejali cerita mistik, lalu aku beranikan
diri untuk mendekati wanita itu, sekitar jarak 5 meter terdengar isak tangis
kecil darinya. Makin bergidik saja tubuhku. Aku berhenti dan sempat mundur
beberapa langkah. Ku ambil kayu ranting di sebelahku, menyodorkan kearah
tubuhnya, dengan alasan agar ketika dia benar-benar siluman benda yang pertama
dia terkam adalah ranting naas ini, bukan diriku. Kupukul-pukul ranting itu
ditanah dekat dengan wanita itu. Namun tidak ada respon. Lalu ku panggil mbak,
dia tak menoleh, ku panggil non, dia juga tak menoleh. Ku panggil lagi dengan
bu dia juga tak menoleh. Heran bercampur dengan ketakutan diriku ini. Lalu ku
panggil dia Ning, karena aku sepertinya kenal dengan gelang yang dikenakan di
tangan kirinya. Semoga itu benar Ning, ku lontarkan pertanyaan penasaranku
sekali lagi;
“Ning?”
Mulai ada
gerakan, tepatnya kepalanya bergerak keatas. Lalu dia berhambur memelukku yang
masih membawa ranting yang juga sama-sama heran oleh kelakuan Ning, ingin
kutanyakan kenapa dia sampai seperti ini, tapi sepertinya bukan waktu yang
tepat.
“bawa aku kemana
saja, mas!”. Bisiknya ditelingaku.
Petir seakan
menyambar tubuhku sepersekian detik. Mengapa tidak, perempuan yang biasa aku
kagumi setiap aku menyapu halaman sekarang sedang memelukku dan membisikan
untuk dibawa kemana saja. Bukan main hebohnya dan panik batinku. Pikiranku kosong sekian detik sampai Ning melepaskan
pelukannya dengan tatapan terpana dan heran.
“Mas?”. Bisik Ning ditelingaku.
“bawa aku kemana saja, mas!”.
“sekarang juga! Aku sudah tak tahan melihat gelagat papa yang mau
menjodohkanku”.
Petir kembali menyambar. Bukan main kagetnya. Ada rasa kecewa, kaget, sedih
dan lemas menari riang ditubuhku.
(kita potong dulu ceritanya, mohon ditunggu untuk potongan cerita selanjutnya yaa.. ^^)
29 april 2013
Nailal Mustaghfiri.