In your majesty, you create differences
In my arrogance, I question your wisdom
In your misery, you create temptation
In my inferiority, you make me more than I am
So, here I am…
###
… jadi seperti ini rasanya? Dalam hati ku menanyakan pada hujan. Semakin deras ternyata hujan menjawabnya. Tuhan tahu apa yang harus terjadi diantara kita. Diantara dengusan nafas kita yang berdekatan. Sampai aku bisa mendengar detak jantungmu. Saat ini. Tuhan sedang menunjukan cinta sebenarnya padaku. Saat ini.
Ku rengkuh jemarimu, memegang erat dan tak ingin melepaskannya. Aku sangat menikmati ditiap detiknya. Kupejamkan mataku, merasakan tiap detail garis-garis tanganmu. Mungkin kau hanya bisa tertegun melihatku seperti ini. Tapi aku sangat bahagia. Sungguh, detik-detik ini tidak akan bisa aku lupakan. Terlalu susah.
Ku condongkan kepalaku mendekatimu, sempat kau bergerak mundur. Heran dengan apa yang sedang terjadi. Aku berhenti sesaat. Ku remas lembut tanganmu lalu kita berpagutan untuk waktu yang lama. Di sini, diruangan ini. Aku bisa memilikimu. Sekarang aku bisa memilikimu. Dalam tiap nafas bibirku bergetar saat mengecupmu. Ternyata bukan setan aku menciummu. Memang cinta yang sedang merasuki tubuhku. Semoga kau merasakan. Selalu. Diluaran sana, hujan masih separuh dansa menggantung di teras.
###
Tatapan matamu aneh. Itulah yang terlintas saat kita berdansa disana. Hanya kita berdua, meski belum mengenal satu sama lain. Tapi aku tahu ada sesuatu yang tumbuh diantara kita. Maaf, mungkin hanya aku. Aku gemetaran, kau pun ku rasa juga bergetar. Diluar sana hujan turun dengan derasnya, menyaksikan kita sedang berdansa. Syahdu.
Dari situlah aku mengenalmu, mengenal sesosok bidadari yang ternyata memang benar-benar nyata adanya didunia ini. Tuhan dengan angkuh menunjukan padaku. Itulah dirimu.
Kucintai dirimu sejak aku bertatapan denganmu. Mata yang selalu saja ceria. Mata yang selalu saja menyimpan sejuta rahasia. Dan semenjak itu, bayanganmu selalu muncul ditiap rintik hujan yang turun tiap sore, diteras. Banyak orang yang akan menikmati hujan disore hari dengan segelas teh hangat, cemilan dan rokok. Tapi, bagiku, membayangkanmu berdansa diantara rintik hujan yang turun saja sudah sangat bahagia. Berjinjit-jintit mengikuti alunan nada dari hujan, ritmik. Ku rengkuh tubuhmu, berputar-putar, dan mata kita saling bertatapan. Aku ingin memiliki dirimu sepenuhnya – batinku berucap. Terkadang kamu hanya memandang aneh ketika aku melihatmu dengan nada yang mungkin sedikit berbeda. Itulah yang coba aku katakan padamu. Aku ingin memiliki dirimu sepenuhnya.
Semua kembali sirna, rasa ingin memilikimu, rasa mencintaimu sedikit terluka disaat aku ingat kembali bahwa ada seseorang yang sudah memilikimu. Perasaan bahagia itu seketika runtuh, hancur porak-poranda. Kilat menyambar. Langit berteriak keras. Ku genggam tanganmu semakin erat. Ada amarah yang lewat di nadi-nadi tanganku. Aku kirimkan sinyal-sinyal itu agar kau tahu bagaimana rasanya menjadi aku. Diantara dansa itu ada setetes kebahagiaan yang ada. Meski akan menguap disaat matahari kembali terbit.
Terkadang, kutanyakan pada hujan yang kembali deras disore hari. Semua rasa ini apakah benar dan tepat untukku? Hujan sekejap mereda, lalu bergemuruh. Lalu aku kembali berdansa dengan mu. Berputar kembali mengikuti waktu. Dan disaat bulan hadir dipojokan teras kita akan berpisah. Ada sedu sedan yang melanda untuk saat-saat seperti itu. Kucintai dirimu, cantik.
###
“kau bahagia?”
Ku tanyakan padamu disaat kita sedang beristirahat. Duduk bersila saling berhadapan. Saling beradu tatapan mata. Aku berharap waktu terkena serangan lumpuh. Agar tak beranjak kemana-mana. Ku pegang tanganmu. Dan sekali lagi ku tanyakan padamu disela rintik gerimis sore di kota ini. Berjingkrak-jingkrak diatas aspal.
“apakah kau bahagia?”
Kau hanya mengangguk. Lalu menebar senyum kepadaku. Aku berdebar. Dan kamu mengucapkan sepatah kata yang paling tidak mampu menjinakkan jantungku untuk sesaat.
“iya.”
Lalu diruangan itu, kudekatkan tubuhmu. Semakin mendekat lalu menarik dirimu jatuh dibibirku. Kita saling mengisi. Diantara helaan nafas panjang. Aku tak ingin kau pergi. Sungguh aku mencintaimu. Diluaran sana hujan sudah reda. Hanya saja angin masuk kedalam ruangan, kita saling berdekapan. Saling melindungi dari angin. Disaat-saat seperti ini aku bisa memilikimu. Saat seperti ini, disaat orang yang memilikimu itu sedang jauh. Aku bisa memilikimu. Sesaat.
Di nun jauh sana, terkadang aku berfikir, monyetmu bila mengetahui semua ini pasti akan sangat murka. Dan bila diminta untuk memilih aku lebih memilih bertemu dengan hantu dari pada lihat kamu bergandengan dengan monyetmu. Atau terkena bogem setengah mentah dari monyetmu. Sumpah.
###
Suatu waktu, hujan masih menggantung dilangit, disudut barat jauh. Belum berencana untuk turun aku rasa. Dan kita masih saja berdansa, berputar mengitari ubin-ubin semu kuning yang semakin lusuh. Disinilah kita mendapatkan cinta itu. Diantara tiang-tiang sanggar yang mempertemukan kita. Tempat dimana Tuhan menurunkan bidadari beserta monyetnya. Aku tak butuh monyet, aku hanya butuh bidadarinya. Dan itu kamu.
Di sela-sela pembicaraan dan dansa kita. Kau bergumam. Menerobos diantara tarian berputar yang kita buat sendiri. Kau dan aku. Aku dan kau. Cinta membuat kita sama, tapi berbeda. Cinta yang menyatukan perbedaan diantara kita. Lewat sorot mata itu aku luluh. Lewat senyum tipis itu aku remuk redam. Kamu buatku jatuh cinta.
Hujan turun juga akhirnya.
Angin menerobos masuk melalui celah-celah jendela. Mengalahkan mesin penyejuk udara ruangan ini. Tanpa disadari kita semakin berdekatan.
“kamu cantik”.
Bisikku pelan, sekaligus mengingatkan mu agar tetap dalam posisi yang ideal dalam berdansa. Kamu lalu membenahi posisimu. Kau tersenyum saja. Lalu ku balas dengan senyuman. Diluar hujan semakin deras untuk berdansa diantara genting-genting. Bersuka ria karena ada cinta ditiap tetesnya.
###
Hujan kembali turun, tapi kali ini bergandengan dengan gemuruh.
Resahku ini kembali muncul. Menyeriap masuk dalam nadi tangan yang sedang memegang erat tanganmu. Matamu lalu bergerak masuk kemataku. Kamu menanyakan sesuatu padaku.
“kenapa?”
Aku hanya tersenyum. Ada kekhawatiran yang harus dikubur hidup-hidup sore itu. Diluar sana. Gemuruh semakin ramai.
###
“aku tak menyuruhmu untuk pergi, bila kau sudah menemukan yang lain, maka pergilah.”
Suara parau darimu yang sangat menyayat. Jadi seperti inikah yang aku rasakan sebagai balasan cintaku padamu? – batinku meronta hebat. Ku coba pegangi dengan tangan kiriku, lalu kupejamkan sebentar. Disela-sela nafasku ada badai yang menggelegar. Memang benar aku tak bisa membuatmu menjadi ratu dihatiku.
“apa karena monyetmu?”
Hujan kembali turun, kini dengan ritmik yang sendu. Tanpa angin, tanpa gemuruh. Hanya hujan. Tak lebih.
Kamu hanya tertunduk. Lelah mungkin yang kamu rasakan. Ku coba untuk tanyakan lagi.
“monyetmu?”
Kau diam.
Aku juga diam.
Ada sesuatu yang terjatuh disana. Disela-sela dansa yang kita tarikan setiap sore. Terinjak diantara kaki-kaki kita yang mengalun pelan seirama nada hujan. Belakangan baru aku sadar bahwa itu adalah hati. Sepotong hati.
Perlahan. Beranjak dari hujan-hujan selanjutnya genggaman tanganmu saat kita dansa menjadi renggang. Tak kuasa aku menggenggamnya lagi. Dan rasannya untuk menahanmu sedetik saja tidak bisa. Senja pun tiba diruangan tempat biasa kita berdansa. Kamu berpamitan. Tanpa isyarat mata seperti biasa ataupun genggaman erat tangan. Tidak. Sama sekali tidak.
Memang harus ada yang kalah dan yang menang. Ritmik hujan masih menggantung diatap teras, berduyung-duyung turun ke selokan. Bersamaan itu pula ku coba hanyutkan perasaan ini. Jatuh bersama sampah dikali sebelah rumah. Terus menuju lautan. Mengambang disana akhirnya. Terapung. Tak bertujuan.
###
Sekarang, dirimu. Entah dimana. Masihkah ingat akan gerakan dansa yang biasa kita latih ditiap sore? – kutanyakan padamu selalu lewat angin yang menelisik diantara sela bajuku.
Disini, diruangan ini, aku masih melatih gerakan tarian dansa kita. Aku dan bayanganmu. Hanya bayanganmu. Yang entah kapan akan menjelma sosok tubuhmu yang asli. Dalam semua gerakan dansa ku selalu ku tunggu dirimu disini. Diatas ubin semu kekuningan ini. Dengan memakai jas dan pantofel yang dulu selalu kau katakan padaku – aku suka dengan bajumu. Sering ku gambari jemariku dengan wajah tangisku. Agar semua orang tahu ada aku yang sedang menunggu kekasihnya pulang.
Terkadang, malam sudah larut. Ibu menyuruhku untuk menyelesaikan latihanku. Lalu menuntunku kembali masuk kamar. Sesekali ibu bertanya kepadaku;
“masihkah kau percaya bahwa dia akan kembali?”
Aku lalu menatap dalam mata ibuku. Mengangguk. Itulah jawabanku.
“bu, mungkin aku akan mendadak terkenal, karena menjadi seorang pria yang selalu berdansa dengan bayangan disaat hujan, tapi yang jelas, disaat dia berubah pikiran kelak, tempat inilah yang pertama kali dia tuju, maka aku harus menunggunya disini dengan setelan jas dan pantofel ini.”
Bunyi lonceng berbunyi. Menandakan jam besuk dirumah sakit ini sudah berakhir. Tiang-tiang penyangga lorong-lorong menuntun ibu menuju gerbang keluar. Dan aku masih saja berdansa.bahagia. Diteras, hujan masih separuh dansa dengan ku.
Nailal mustaghfiri
@naelalo
15 januari 2012
15 januari 2012
Trengguli 1 no.29
Semoga kau bahagia dengan “monyet” mu.. J
