Cari

Minggu, 15 Januari 2012

Hujan Separuh Dansa

In your majesty, you create differences
In my arrogance, I question your wisdom
In your misery, you create temptation
In my inferiority, you make me more than I am
So, here I am…
###
… jadi seperti ini rasanya? Dalam hati ku menanyakan pada hujan. Semakin deras ternyata hujan menjawabnya. Tuhan tahu apa yang harus terjadi diantara kita. Diantara dengusan nafas kita yang berdekatan. Sampai aku bisa mendengar detak jantungmu. Saat ini. Tuhan sedang menunjukan cinta sebenarnya padaku. Saat ini.
Ku rengkuh jemarimu, memegang erat dan tak ingin melepaskannya. Aku sangat menikmati ditiap detiknya. Kupejamkan mataku, merasakan tiap detail garis-garis tanganmu. Mungkin kau hanya bisa tertegun melihatku seperti ini. Tapi aku sangat bahagia. Sungguh, detik-detik ini tidak akan bisa aku lupakan. Terlalu susah.
Ku condongkan kepalaku mendekatimu, sempat kau bergerak mundur. Heran dengan apa yang sedang terjadi. Aku berhenti sesaat. Ku remas lembut tanganmu lalu kita berpagutan untuk waktu yang lama. Di sini, diruangan ini. Aku bisa memilikimu. Sekarang aku bisa memilikimu. Dalam tiap nafas bibirku bergetar saat  mengecupmu. Ternyata bukan setan aku menciummu. Memang cinta yang sedang merasuki tubuhku. Semoga kau merasakan. Selalu. Diluaran sana, hujan masih separuh dansa menggantung di teras.
###
Tatapan matamu aneh. Itulah yang terlintas saat kita berdansa disana. Hanya kita berdua, meski belum mengenal satu sama lain. Tapi aku tahu ada sesuatu yang tumbuh diantara kita. Maaf, mungkin hanya aku. Aku gemetaran, kau pun ku rasa juga bergetar. Diluar sana hujan turun dengan derasnya, menyaksikan kita sedang berdansa. Syahdu.
Dari situlah aku mengenalmu, mengenal sesosok bidadari yang ternyata memang benar-benar nyata adanya didunia ini. Tuhan dengan angkuh menunjukan padaku. Itulah dirimu.
Kucintai dirimu sejak aku bertatapan denganmu. Mata yang selalu saja ceria. Mata yang selalu saja menyimpan sejuta rahasia.  Dan semenjak itu, bayanganmu selalu muncul ditiap rintik hujan yang turun tiap sore, diteras. Banyak orang yang akan menikmati hujan disore hari dengan segelas teh hangat, cemilan dan rokok. Tapi, bagiku, membayangkanmu berdansa diantara rintik hujan yang turun saja sudah sangat bahagia. Berjinjit-jintit mengikuti alunan nada dari hujan, ritmik. Ku rengkuh tubuhmu, berputar-putar, dan mata kita saling bertatapan. Aku ingin memiliki dirimu sepenuhnya – batinku berucap. Terkadang kamu hanya memandang aneh ketika aku melihatmu dengan nada yang mungkin sedikit berbeda. Itulah yang coba aku katakan padamu. Aku ingin memiliki dirimu sepenuhnya.
Semua kembali sirna, rasa ingin memilikimu, rasa mencintaimu sedikit terluka disaat aku ingat kembali bahwa ada seseorang yang sudah memilikimu. Perasaan bahagia itu seketika runtuh, hancur porak-poranda. Kilat menyambar. Langit berteriak keras. Ku genggam tanganmu semakin erat. Ada amarah yang lewat di nadi-nadi tanganku. Aku kirimkan sinyal-sinyal itu agar kau tahu bagaimana rasanya menjadi aku. Diantara dansa itu ada setetes kebahagiaan yang ada. Meski akan menguap disaat matahari kembali terbit.
Terkadang, kutanyakan pada hujan yang kembali deras disore hari. Semua rasa ini apakah benar dan tepat untukku? Hujan sekejap mereda, lalu bergemuruh. Lalu aku kembali berdansa dengan mu. Berputar kembali mengikuti waktu. Dan disaat bulan hadir dipojokan teras kita akan berpisah. Ada sedu sedan yang melanda untuk saat-saat seperti itu. Kucintai dirimu, cantik.
###
“kau bahagia?”

Ku tanyakan padamu disaat kita sedang beristirahat. Duduk bersila saling berhadapan. Saling beradu tatapan mata. Aku berharap waktu terkena serangan lumpuh. Agar tak beranjak kemana-mana. Ku pegang tanganmu. Dan sekali lagi ku tanyakan padamu disela rintik gerimis sore di kota ini. Berjingkrak-jingkrak diatas aspal.

“apakah kau bahagia?”

Kau hanya mengangguk. Lalu menebar senyum kepadaku. Aku berdebar. Dan kamu mengucapkan sepatah kata yang paling tidak mampu menjinakkan jantungku untuk sesaat.

“iya.”

Lalu diruangan itu, kudekatkan tubuhmu. Semakin mendekat lalu menarik dirimu jatuh dibibirku. Kita saling mengisi. Diantara helaan nafas panjang. Aku tak ingin kau pergi. Sungguh aku mencintaimu. Diluaran sana hujan sudah reda. Hanya saja angin masuk kedalam ruangan, kita saling berdekapan. Saling melindungi dari angin. Disaat-saat seperti ini aku bisa memilikimu. Saat seperti ini, disaat orang yang memilikimu itu sedang jauh. Aku bisa memilikimu. Sesaat.
Di nun jauh sana, terkadang aku berfikir, monyetmu bila mengetahui semua ini pasti akan sangat murka. Dan bila diminta untuk memilih aku lebih memilih bertemu dengan hantu dari pada lihat kamu bergandengan dengan monyetmu. Atau terkena bogem setengah mentah dari monyetmu.  Sumpah.

###

Suatu waktu, hujan masih menggantung dilangit, disudut barat jauh. Belum berencana untuk turun aku rasa. Dan kita masih saja berdansa, berputar mengitari ubin-ubin semu kuning yang semakin lusuh. Disinilah kita mendapatkan cinta itu. Diantara tiang-tiang sanggar yang mempertemukan kita. Tempat dimana Tuhan menurunkan bidadari beserta monyetnya. Aku tak butuh monyet, aku hanya butuh bidadarinya. Dan itu kamu.
Di sela-sela pembicaraan dan dansa kita. Kau bergumam. Menerobos diantara tarian berputar yang kita buat sendiri. Kau dan aku. Aku dan kau. Cinta membuat kita sama, tapi berbeda. Cinta yang menyatukan perbedaan diantara kita. Lewat sorot mata itu aku luluh. Lewat senyum tipis itu aku remuk redam. Kamu buatku jatuh cinta.
Hujan turun juga akhirnya.
Angin menerobos masuk melalui celah-celah jendela. Mengalahkan mesin penyejuk udara ruangan ini. Tanpa disadari kita semakin berdekatan.

“kamu cantik”.

Bisikku pelan, sekaligus mengingatkan mu agar tetap dalam posisi yang ideal dalam berdansa. Kamu lalu membenahi posisimu. Kau tersenyum saja. Lalu ku balas dengan senyuman. Diluar hujan semakin deras untuk berdansa diantara genting-genting. Bersuka ria karena ada cinta ditiap tetesnya.
###
Hujan kembali turun, tapi kali ini bergandengan dengan gemuruh.
Resahku ini kembali muncul. Menyeriap masuk dalam nadi tangan yang sedang memegang erat tanganmu. Matamu lalu bergerak masuk kemataku. Kamu menanyakan sesuatu padaku.

“kenapa?”

Aku hanya tersenyum. Ada kekhawatiran yang harus dikubur hidup-hidup sore itu. Diluar sana. Gemuruh semakin ramai.


###
“aku tak menyuruhmu untuk pergi, bila kau sudah menemukan yang lain, maka pergilah.”

Suara parau darimu yang sangat menyayat. Jadi seperti inikah yang aku rasakan sebagai balasan cintaku padamu? – batinku meronta hebat. Ku coba pegangi dengan tangan kiriku, lalu kupejamkan sebentar. Disela-sela nafasku ada badai yang menggelegar. Memang benar aku tak bisa membuatmu menjadi ratu dihatiku.

“apa karena monyetmu?”

Hujan kembali turun, kini dengan ritmik yang sendu. Tanpa angin, tanpa gemuruh. Hanya hujan. Tak lebih.
Kamu hanya tertunduk. Lelah mungkin yang kamu rasakan. Ku coba untuk tanyakan lagi.
“monyetmu?”
Kau diam.
Aku juga diam.
Ada sesuatu yang terjatuh disana. Disela-sela dansa yang kita tarikan setiap sore. Terinjak diantara kaki-kaki kita yang mengalun pelan seirama nada hujan. Belakangan baru aku sadar bahwa itu adalah hati. Sepotong hati.
Perlahan. Beranjak dari hujan-hujan selanjutnya genggaman tanganmu saat kita dansa menjadi renggang. Tak kuasa aku menggenggamnya lagi. Dan rasannya untuk menahanmu sedetik saja tidak bisa. Senja pun tiba diruangan tempat biasa kita berdansa. Kamu berpamitan. Tanpa isyarat mata seperti biasa ataupun genggaman erat tangan. Tidak. Sama sekali tidak.
Memang harus ada yang kalah dan yang menang. Ritmik hujan masih menggantung diatap teras, berduyung-duyung turun ke selokan. Bersamaan itu pula ku coba hanyutkan perasaan ini. Jatuh bersama sampah dikali sebelah rumah. Terus menuju lautan. Mengambang disana akhirnya. Terapung. Tak bertujuan.

###
Sekarang, dirimu. Entah dimana. Masihkah ingat akan gerakan dansa yang biasa kita latih ditiap sore? – kutanyakan padamu selalu lewat angin yang menelisik diantara sela bajuku.
Disini, diruangan ini, aku masih melatih gerakan tarian dansa kita. Aku dan bayanganmu. Hanya bayanganmu. Yang entah kapan akan menjelma sosok tubuhmu yang asli. Dalam semua gerakan dansa ku selalu ku tunggu dirimu disini. Diatas ubin semu kekuningan ini. Dengan memakai jas dan pantofel yang dulu selalu kau katakan padaku – aku suka dengan bajumu. Sering ku gambari jemariku dengan wajah tangisku. Agar semua orang tahu ada aku yang sedang menunggu kekasihnya pulang.
Terkadang, malam sudah larut. Ibu menyuruhku untuk menyelesaikan latihanku. Lalu menuntunku kembali masuk kamar. Sesekali ibu bertanya kepadaku;

“masihkah kau percaya bahwa dia akan kembali?”

Aku lalu menatap dalam mata ibuku. Mengangguk. Itulah jawabanku.

“bu, mungkin aku akan mendadak terkenal, karena menjadi seorang pria yang selalu berdansa dengan bayangan disaat hujan, tapi yang jelas, disaat dia berubah pikiran kelak, tempat inilah yang pertama kali dia tuju, maka aku harus menunggunya disini dengan setelan jas dan pantofel ini.”

Bunyi lonceng berbunyi. Menandakan jam besuk dirumah sakit ini sudah berakhir. Tiang-tiang penyangga lorong-lorong menuntun ibu menuju gerbang keluar. Dan aku masih saja berdansa.bahagia. Diteras, hujan masih separuh dansa dengan ku.







Nailal mustaghfiri
@naelalo
15 januari 2012
Trengguli 1 no.29
Semoga kau bahagia dengan “monyet” mu.. J

Sabtu, 07 Januari 2012

Sepucuk cinta dariku

Kau yang tercinta,
Maaf bila surat ini mengusik hari-harimu, aku hanya tak tahu harus bagaimana melakukannya. Dalam tiap lembaran surat ini aku sertakan potongan cinta yang sejak dulu aku simpan untuk mu. Maaf, terkadang aku tak punya waktu untuk memberikannya. Mungkin lebih tepatnya tidak menyempatkan. Kau terburu pergi, maka aku kirimkan saja dengan surat ini. Cinta itu sudah tak betah dihati ku. Ia ingin kembali kepada majikannya.
Cinta itu aku bungkus rapat agar tetap segar seperti sewaktu aku kirimkan kepada pak pos. ada raut heran dimata pak pos kala aku datang dengan kotak besar yang aku bawa didepan dada, terhuyung menuju meja resepsionis, beliau langsung mengatakan “apa ini?” cinta pak, jawabku.  Pak pos itu tidak percaya kalau cinta bisa dikirimkan lewat pos. aku selalu percaya. Apakah kau mempercayaiku?
Ketokan stempel pos sudah ada dikotak ini, yang berarti barangnya sudah siap dikirim kepadamu. Kabari aku segera bila kau sudah selesai membaca surat ini dan mengambil cinta dalam kotak itu. Di sini aku pasti akan sangat lega.
Seperti senja di pantai yang dulu kita habiskan waktu bersama, begitulah rupa cinta yang aku kirim kepadamu, semoga masih lengkap dengan buih-buih ombak yang hilir mudik, dengan karang yang kau ambil – untuk dijadikan kalung katamu, aku hanya tersenyum melihatmu seperti anak kecil, bermain pasir pantai yang putih, masihkah rupa cinta yang sudah kau terima dengan apa yang sudah aku gambarkan tadi?
Pasti kau heran bagaimana bisa aku berkirim kepadamu sepotong cinta, maka akan aku ceritakan padamu bagaimana aku mengirimkan cinta itu padamu kembali.
Sore itu hujan, seperti yang dulu sering aku ceritakan padamu kalau disini hujan turun seperti gadis pemalu yang bejingkrak-jingkrak berlompatan diatas jalan, selalu riang diatas trotoar, jalan, atap rumah, pohon yang menjadikan semuanya gembira menari bersama. Hari itu aku baru pulang dari tempatku mencari uang, melepaskan mantel yang basah, mengkibas-kibaskan lalu menggantungnya di dinding, lalu berjalan menuju ruang tengah. Melihat hujan yang selalu riang itu mengingatkanku padamu. Wajah manis yang selalu riang. Tiba-tiba petir menyambar, tepat di depan rumah, lalu aku ingat sesuatu.  Masih ada yang tertinggal dihati hanya untukmu.
Seperti biasa, apabila hujan aku selalu menyukai duduk didekat jendela ruang tengah, melihat rintik air yang jatuh, melihat tempias air yang bercipratan kesana-kemari. Mengedarkan pandangan keluar jendela, jauh disana. Lalu ada yang berontak dihati. Lalu ku ingat dirimu. “akan aku kirimkan itu untukmu.”
Hujan sudah redam. Menyisakan genangan-genangan kecil disana-sini. Aku beranjak menuju dapur. Mencari sebilah pisau. Tapi tak kunjung aku temui teman pisauku. Lalu aku mengalihkan pandangan pada sebuah silet yang tergeletak di atas pintu. Ku coba mengambilnya, tapi sudah berkarat. Kurasa kau tak akan menerima cinta yang sudah berkarat. Aku tidak mengambilnya. Didalam sini, ada yang bergejolak, ku redam dengan tangan kiriku, mencoba untuk menenangkan. Didapur hanya ada sebuah sendok. Apa boleh buat, mungkin sendok itu akan berguna.
Lalu aku kembali keruang tengah. Mencoba mencari sesuatu yang berguna saat itu. Lalu mataku bertabrakan dengan bayangan dicermin. Aku berhenti sejenak. Lalu aku mendapatkan ide gila – yaitu membelah dadaku dengan pecahan kaca. Adakah bekas sayatan kaca dicintamu itu sekarang?
Hujan kembali turun, aku bergegas naik kekamarku. Didalam sana ada sebuah cermin. Tangan kiriku masih memegang sendok dan masih meredam gejolak didadaku. Dengan segera aku hantamkan tangan kananku ke arah cermin, darah segar mengucur dari jemariku. Sangat aneh. Tidak ada rasa sakit sedikitpun. Sebuah bongkahan cermin jatuh kebawah. Dengan darah yang menetes merah aku pungut cermin itu. Sekilas bayangan wajahmu yang cantik tersenyum, seolah mengatakan – segera pulangkan cintaku!!.
Aku gemetaran. Entah apa yang sedang aku lakukan. Kucoba rapalkan sebaris doa yang biasa bapak ajarkan dulu sewaktu SD, lalu kuhunuskan kedadaku. Teriakanku tertahan di tenggorokan, aku tak mau ada yang mendengarkan ku kesakitan. Aku terhuyung jatuh kelantai. Darah dimana-mana. Cermin itu berhasil menembus dadaku. Aku tersengal-sengal tertunduk dilantai. Dengan segenap tenaga aku tarik keatas cermin itu, membentuk sebuah sayatan panjang. Lalu semuanya mereda, sudah tidak ada lagi gejolak di dada. Semuanya hilang. Kulihat dengan mataku, benar ada sesuatu yang biasa kau sebut cinta didalamnya. Kuambil sendok yang tadi terjatuh dengan tangan kiriku. Kumasukan sendok itu, dan cinta itu terangkat. Sedikit berdetak tapi lebih menyerupai pudding coklat yang biasa kau pesan kala aku mengajakmu makan malam.
Kuletakan cinta itu didalam mangkuk, membersihkannya dengan air lalu aku bungkus dengan plastik. Ku obati dada ini dengan antiseptic, agar cepat kering. Lalu ku berlari turun kebawah mencari kotak yang pas. Tapi aku tidak kunjung menemukan. Lalu hanya ada kardus mie instan, kufikir itu akan sangat berguna pada waktu itu. Dengan bercakdarah dimana-mana aku belah jalanan dengan berlari menuju kantor pos. dan aku yakin kau pasti tahu kelanjutannya. Jadi begitulah ceritanya bagaimana aku bisa mengirimkan sepoting cinta untukmu, maksudku mengembalikannya padamu.
Sudah kah kau menghubungiku meski hanya sekedar memastikan kalau cintamu sudah sampai ditempatmu?
Bersama dengan surat ini, aku sertakan cinta yang dulu aku punya hanya untukmu, cinta yang kau buat dengan sikap manismu, paras cantikmu, sudah aku kembalikan, semoga tidak kau kirim balik kepadaku. Aku sudah sangat menderita menjaganya. Aku harap kau mengetahuinya. Sudah kukerat cinta itu diagonal menjadi seukuran kartu pos, agar lebih murah dalam biayanya, masih utuhkah bentuknya?
Kini, hatiku sudah benar-benar tak lagi berbentuk persegi. Pada masa yang akan datang, orang-orang tua, dokter, ataupun ilmuan akan bercerita kepada anaknya, muridnya atau sekedar topic selingan disaat minum kopi, bahwa dulunya hati manusia berbentuk persegi panjang sempurna, tapi lantas seseorang memotongnya dengan sebilah cermin untuk orang yang sangat dikasihinya karena sebagian hatinya sudah menjadi milik kekasih yang sudah jauh pergi itu.
Kau, yang sudah sangat jauh, terimalah cinta ini hanya untukmu, cinta yang secara tidak langsung kau ambil dari seseorang yang sedari dulu ingin membahagiakanmu. Ku mohon kau akan menerimanya, sudah kukembalikan cinta itu utuh, hati-hati dengan debur ombak, pasir pantai, mie ayam yang pedas, serta hujan pertama yang dulu membuat kau dan aku terperangkap dalam tempat yang sama. Semoga tidak tumpah yang menjadikan banjir. Alasan mengapa aku kembalikan cinta itu karena aku seorang penulis. Dari dulu kau sangat membenci penulis, pengecut katamu. Yang hanya mengungkapkan semuanya dengan kata-kata, padahal kata-kata itu tidak akan merubah segalanya.  Itulah sebabnya kau memilih orang yang bergelar sarjana hukum. Bukan sarjana kesenian.
Dari tempat yang selalu hujan, kukirimkan serta rindu, lengkap dengan peluk, cium yang mesra, meski tidak mungkin.

28 oktober 2011
Nailal mustaghfiri
Semarang, trengguli 1 no.29
Terima kasih buat: seno gumira dan kurnia JR atas inspirasinya.. ^^

Senin, 02 Januari 2012

ku benci kau karna cintaku

Aku benci harus mengatakan ini, kala harus dihadapkan dengan pilihan yang sulit, tak ingin aku melukai, tapi hati juga tak ingin memujinya. Sungguh sulit.
Ku aduk kembali kopi ku yang sedari tadi tak tersentuh,sembari memandang garis-garis lurus kertas sidu di hadapanku yang seakan mengejek diriku karena tak bisa mengungkapkan dengan lantangnya.
“dasar pengecut kau!”. Ejek kertas-kertas itu.
Aku acuh atas perkataannya. Bukan acuh sebenarnya, melainkan memang mengiyakan bahwa aku adalah seorang pengecut, pengecut yang hanya bisa meratapi semuanya dengan hatinya sendiri. Memandang nasib dengan tatapan kosong, mendekatinya lalu menjilatnya. Ku tahu nasib itu rasanya pahit tapi entah mengapa masih saja ku kunyah nasib itu dan menelannya bulat-bulat. Berkali-kali seperti itu. Ku seruput lagi kopi disampingku. Menggelintirkan kepahitan kopi dengan nasib yang hendak aku tulis menjadi sajak. Aku sedang melakukan kedua persamaan penyair serta tukang peminum kopi. Jika penyair menikmati pahitnya hidup dari baris-baris kata yang ia buat, sedangkan peminum kopi menikmati pahitnya kopi dari setiap bibir gelas yang ia kecup. Semua terasa getir. Sangat getir.
Sajak dan kopi ini yang masih saja setia menemani aku yang sedang menelan bulat semua nasib pahitku. Terkadang aku tersedak dalam menelan, lalu aku guyur saja dengan kopi pahitku.
“ Makin pahit saja kudapanku ini”. Ketusku.
Lalu kopiku mengantarkan nasib yang aku telan menuju kerongkongan lalu berhenti di sungai. Entah mungkin nanti atau esok aku akan membuangnya. Kopiku masih separo di gelas, tapi aku masih saja belum bisa menuliskan nasib-nasib yang aku telan dalam sajak-sajak. Entah sajak apa nanti jadinya.
Ku teguk sekali lagi kopi pahitku tanpa kudapan. Menyitir pahitnya hidup dalam tegukkan kopi. Lalu aku ambil lagi kudapan nasibku sekali lagi. Lalu inilah sajak-sajak itu:
Kan kupanggil dirimu pencuri
Karena tak mau mengembalikan hati yang telah kau bawa lari
Lalu kemudian kau hadir kembali
Menyeru untuk membunuh saja cinta ini

Kan kupanggil dirimu pembohong
Karena tak mau berkata yang sebenarnya
Ingin aku membenci
Tapi kau lah satu-satunya di hatiku

Kan kupanggil dirimu anjing
Karena menggonggong untuk cintaku
Ingin aku menjauh
Karena pak guru bilang “anjing adalah haram

Kan ku selalu benci dirimu
Karena mencintaiku
Ingin aku berlari
Karena hati ini telah kau sakiti

Ingin ku benci dirimu
Karena engkau terlalu cantik
Ingin aku menyesali
Karena kau telah mencintaiku

Dengan cinta ini
Kan ku benci dirimu selalu
Mengurung dirimu dalam kata
Terlari dalam halaman yang telah lalu

Ku teguk lagi kopi yang terakhir. Terlalu getir untuk kuminum dengan kudapanku yang terakhir. Menyelesaikan sisi kertas dengan sisi yang lain dengan kata-kata yang terlalu getir.

Semarang, 8-15 juni 2011
Kos-kosan sendirian digigiti nyamuk-nyamuk nakal,
Dilematis atas sesuatu. Semoga Tuhan memberikan yang terbaik.
Nb: ini adalah note yang paling lama dibuat. ^^V

blackpepper at the evening

Dalam fikiranku ada namamu. Lalu seperti dalam film film barat ingatan kita flashback kembali kemasa yang kita tentukan. Disana ada dirimu. Aku tahu persis bahwa itu kamu.
Kafe steak, masih jelas diotakku kau dan aku pastinya sedang duduk di meja nomor 21. Bukan, 23 mungkin. Terletak jauh didalam ruangan yang hangat, lembab karena AC tidak bisa menutup sirkulasi udara yang berganti diruangan itu. Masih tergambar jelas, kau duduk disana denganku. Disamping jendela menghadap ke arah jalan raya. Lipatan kursi dan meja yang khas dalam kafe itu, lis kayu pada jendela yang sudah lusuh-kita sama-sama tidak tahu berapa umurnya. Debu-debu yang menempel di meja, engsel-engsel pintu, dan aroma masakan daging yang khas tercampur dengan lada hitam, blackpepper- kesukaanmu, kita. Kafe itu tidak pernah berubah, paling tidak di ingatanku selama ini.
Sore itu, aku menjemputmu dengan terburu-buru sampai –sampai aku tak sempat mengabarimu hanya untuk mengatakan aku akan segera datang.
To: shita
+085642xxxxxx
Aku mau menjemputmu.

To: radis
+085642xxxxxx
Kapan??

Aku tak membalas. Hatiku menyuruh untuk membiarkan dia dengan segala keterburuan dan ketidakpastiaannya dia. Aku senang kalau melihatmu tergesa-gesa. Ada sesuatu yang selalu membuat aku tersenyum ketika kau melakukannya. Lucu.
Butuh waktu sepuluh menit untuk sampai ditempatmu, hunianmu kala menghindari hujan. Ku buka handphone lusuhku, yang sedari SMP menemaniku, dialah saksi bisu tentang apa yang sudah terjadi.
To: Shita
+085642xxxxxx
Aku didepan. Buruan keluar..


To: radis
+085642xxxxxx
Hee? Kebiasaan kamu itu, kalo mau datang bilang dulu napa?? Tunggu setengah jam!

Aku hanya tersenyum melihat balasan darimu. Lagi-lagi tak ku balas. Lalu aku berimajinasi tentang kamu ketika gelagapan mencari kostum yang pas untuk ditampilkan kepadaku. Didepanku.
Kau datang dengan tergopoh-gopong membetulkan kerudung coklat yang dihari itu kau pakai untukku. Hanya untukku seorang. Aku tersenyum melihatmu masih kedodoran. Aku suka pada saat bagian ini. Selalu menikmati tiap detiknya.
“Jelek, mau kemana?”.  Katamu sambil naik keatas motor.
“udah, ikut aja ya..”. jawabku sambil menyalakan motor.
Diatas motor ini, tidak ada yang spesial, kau tidak memelukku, aku juga tidak ingin meminta dirimu untuk memelukku. Terkadang, aku ingat aku kedinginan, dan betapa bodohnya dirimu tak memelukku. Sungguh bodoh.
Sore itu, petang itu, kita masuk kesebuah  cafĂ©. Aku menyukainya, begitupun dirimu. Kita berdua sama-sama suka dengan kafe ini. Salah satu saksi bisu bahwa ada cinta ayng menyambar-nyambar. Hanya saja tak ada yang mendengar ledakan keras halilintarnya. Tuhan mungkin mendengar. Dengan baju coklat manis itu, dirimu sangat cocok sekali dengan setelan tas warna gelap. Selalu aku ingin mengatakan bahwa kau punya mata yang indah. Tetapi aku mungkin yang bodoh. Tak pernah bisa mengungkapkannya. Sekalipun.
“mas, pesen Blackpepper satu sama lemon tea. Jelek kamu mau?”. Tanyamu mengaburkan kata-kata yang sudah rapih aku susun.
“ehm..iya, aku juga”.
“ya udah mas, dua jadinya..”.
Hening. Entah apa harus seperti ini. Aku masih sibuk mencari cara memecahkan es keheningan diantara kau dan aku, sedang kau malah asik dengan handphone mu. Kita berada semeja, tapi hati kita tak pernah menyatu. Tak pernah mungkin tak akan pernah.
Kulipat tanganku, kusandarkan kepalaku diatas tanganku. Memandangmu dengan cara seperti ini adalah sesuatu yang aku sukai. Bisa melihat matamu yang sedang sibuk membalas sms orang lain. Aku selalu berfikir positif, mungkin teman ceweknya yang sedang minta bantuan saran atau malah minta bantuan untuk membalaskan mantan karena sudah menyakiti. Ketika kau menangkap mataku, kita saling pandang, sekian detik. Lalu semuanya terputus. Kau pasti menundukan kepalamu dan aku selalu mendahului untuk mengatakan – malu, katamu selalu seperti itu.
Hidangan sudah keluar. Aku dan kamu. Menikmati itu. Dipetang itu. Tanpa basa-basi. Sepi diantara kita.
“oh ya, kamu tau gak, kamu itu digandrungi sama temenku lhoo..”. disela makan daging sapi yang masih hangat.
“siapa?”
“pkoknya kamu itu criteria dia banget”.
Hening kembali.
“lalu, bagaimana kriteriamu?”. Aku memberanikan diri.
“pokoknya 5 S, Smart, Soleh, Santun, Sugih, sempurna”.
“jadi aku bukan kriteriamu ya?”. Blackpepper itu ternyata pedas kala dicampur dengan saus dan lada.
Kau hanya tertawa. Entah sampai sekarang aku masih bertanya-tanya tentang rahasia tertawamu. Ada irisan hati yang terjatuh waktu itu. Kau pasti tak mengetahuinya. Setelah itu aku tak berani lagi bertanya tentang perasaan. Cinta ini hanya tuhan yang tahu, biar tuhan yang menentukan.
Lalu bayangan itu menghilang ditelan rintik air yang jatuh menerpa kaca helmku. Ku kemudikan motorku dengan kecepatan 89km/jam. Meliuk-liuk diantara trailer yang sedang merangkak menembus hujan.  Semua sudah terlambat, kendali remku sudah tak memadai untuk berhenti dalam keadaan mendadak. Kulihat dirimu diantara trailer-trailer yang berbondong-bondong menyerbuku. Kau cantik, kau manis, aku suka kamu. Bye jelek J.

Semarang, 6 november 2011
Nailal mustaghfiri
Menembus hujan, tanpa sarung tangan dan sepatu, terasa sangat menyakitkan.seperti digigit semut.