Aku benci harus mengatakan ini, kala harus dihadapkan dengan pilihan yang sulit, tak ingin aku melukai, tapi hati juga tak ingin memujinya. Sungguh sulit.
Ku aduk kembali kopi ku yang sedari tadi tak tersentuh,sembari memandang garis-garis lurus kertas sidu di hadapanku yang seakan mengejek diriku karena tak bisa mengungkapkan dengan lantangnya.
“dasar pengecut kau!”. Ejek kertas-kertas itu.
Aku acuh atas perkataannya. Bukan acuh sebenarnya, melainkan memang mengiyakan bahwa aku adalah seorang pengecut, pengecut yang hanya bisa meratapi semuanya dengan hatinya sendiri. Memandang nasib dengan tatapan kosong, mendekatinya lalu menjilatnya. Ku tahu nasib itu rasanya pahit tapi entah mengapa masih saja ku kunyah nasib itu dan menelannya bulat-bulat. Berkali-kali seperti itu. Ku seruput lagi kopi disampingku. Menggelintirkan kepahitan kopi dengan nasib yang hendak aku tulis menjadi sajak. Aku sedang melakukan kedua persamaan penyair serta tukang peminum kopi. Jika penyair menikmati pahitnya hidup dari baris-baris kata yang ia buat, sedangkan peminum kopi menikmati pahitnya kopi dari setiap bibir gelas yang ia kecup. Semua terasa getir. Sangat getir.
Sajak dan kopi ini yang masih saja setia menemani aku yang sedang menelan bulat semua nasib pahitku. Terkadang aku tersedak dalam menelan, lalu aku guyur saja dengan kopi pahitku.
“ Makin pahit saja kudapanku ini”. Ketusku.
Lalu kopiku mengantarkan nasib yang aku telan menuju kerongkongan lalu berhenti di sungai. Entah mungkin nanti atau esok aku akan membuangnya. Kopiku masih separo di gelas, tapi aku masih saja belum bisa menuliskan nasib-nasib yang aku telan dalam sajak-sajak. Entah sajak apa nanti jadinya.
Ku teguk sekali lagi kopi pahitku tanpa kudapan. Menyitir pahitnya hidup dalam tegukkan kopi. Lalu aku ambil lagi kudapan nasibku sekali lagi. Lalu inilah sajak-sajak itu:
Kan kupanggil dirimu pencuri
Karena tak mau mengembalikan hati yang telah kau bawa lari
Lalu kemudian kau hadir kembali
Menyeru untuk membunuh saja cinta ini
Kan kupanggil dirimu pembohong
Karena tak mau berkata yang sebenarnya
Ingin aku membenci
Tapi kau lah satu-satunya di hatiku
Kan kupanggil dirimu anjing
Karena menggonggong untuk cintaku
Ingin aku menjauh
Karena pak guru bilang “anjing adalah haram”
Kan ku selalu benci dirimu
Karena mencintaiku
Ingin aku berlari
Karena hati ini telah kau sakiti
Ingin ku benci dirimu
Karena engkau terlalu cantik
Ingin aku menyesali
Karena kau telah mencintaiku
Dengan cinta ini
Kan ku benci dirimu selalu
Mengurung dirimu dalam kata
Terlari dalam halaman yang telah lalu
Ku teguk lagi kopi yang terakhir. Terlalu getir untuk kuminum dengan kudapanku yang terakhir. Menyelesaikan sisi kertas dengan sisi yang lain dengan kata-kata yang terlalu getir.
Semarang, 8-15 juni 2011
Kos-kosan sendirian digigiti nyamuk-nyamuk nakal,
Dilematis atas sesuatu. Semoga Tuhan memberikan yang terbaik.
Nb: ini adalah note yang paling lama dibuat. ^^V
Tidak ada komentar:
Posting Komentar