Cari

Senin, 02 Januari 2012

blackpepper at the evening

Dalam fikiranku ada namamu. Lalu seperti dalam film film barat ingatan kita flashback kembali kemasa yang kita tentukan. Disana ada dirimu. Aku tahu persis bahwa itu kamu.
Kafe steak, masih jelas diotakku kau dan aku pastinya sedang duduk di meja nomor 21. Bukan, 23 mungkin. Terletak jauh didalam ruangan yang hangat, lembab karena AC tidak bisa menutup sirkulasi udara yang berganti diruangan itu. Masih tergambar jelas, kau duduk disana denganku. Disamping jendela menghadap ke arah jalan raya. Lipatan kursi dan meja yang khas dalam kafe itu, lis kayu pada jendela yang sudah lusuh-kita sama-sama tidak tahu berapa umurnya. Debu-debu yang menempel di meja, engsel-engsel pintu, dan aroma masakan daging yang khas tercampur dengan lada hitam, blackpepper- kesukaanmu, kita. Kafe itu tidak pernah berubah, paling tidak di ingatanku selama ini.
Sore itu, aku menjemputmu dengan terburu-buru sampai –sampai aku tak sempat mengabarimu hanya untuk mengatakan aku akan segera datang.
To: shita
+085642xxxxxx
Aku mau menjemputmu.

To: radis
+085642xxxxxx
Kapan??

Aku tak membalas. Hatiku menyuruh untuk membiarkan dia dengan segala keterburuan dan ketidakpastiaannya dia. Aku senang kalau melihatmu tergesa-gesa. Ada sesuatu yang selalu membuat aku tersenyum ketika kau melakukannya. Lucu.
Butuh waktu sepuluh menit untuk sampai ditempatmu, hunianmu kala menghindari hujan. Ku buka handphone lusuhku, yang sedari SMP menemaniku, dialah saksi bisu tentang apa yang sudah terjadi.
To: Shita
+085642xxxxxx
Aku didepan. Buruan keluar..


To: radis
+085642xxxxxx
Hee? Kebiasaan kamu itu, kalo mau datang bilang dulu napa?? Tunggu setengah jam!

Aku hanya tersenyum melihat balasan darimu. Lagi-lagi tak ku balas. Lalu aku berimajinasi tentang kamu ketika gelagapan mencari kostum yang pas untuk ditampilkan kepadaku. Didepanku.
Kau datang dengan tergopoh-gopong membetulkan kerudung coklat yang dihari itu kau pakai untukku. Hanya untukku seorang. Aku tersenyum melihatmu masih kedodoran. Aku suka pada saat bagian ini. Selalu menikmati tiap detiknya.
“Jelek, mau kemana?”.  Katamu sambil naik keatas motor.
“udah, ikut aja ya..”. jawabku sambil menyalakan motor.
Diatas motor ini, tidak ada yang spesial, kau tidak memelukku, aku juga tidak ingin meminta dirimu untuk memelukku. Terkadang, aku ingat aku kedinginan, dan betapa bodohnya dirimu tak memelukku. Sungguh bodoh.
Sore itu, petang itu, kita masuk kesebuah  cafĂ©. Aku menyukainya, begitupun dirimu. Kita berdua sama-sama suka dengan kafe ini. Salah satu saksi bisu bahwa ada cinta ayng menyambar-nyambar. Hanya saja tak ada yang mendengar ledakan keras halilintarnya. Tuhan mungkin mendengar. Dengan baju coklat manis itu, dirimu sangat cocok sekali dengan setelan tas warna gelap. Selalu aku ingin mengatakan bahwa kau punya mata yang indah. Tetapi aku mungkin yang bodoh. Tak pernah bisa mengungkapkannya. Sekalipun.
“mas, pesen Blackpepper satu sama lemon tea. Jelek kamu mau?”. Tanyamu mengaburkan kata-kata yang sudah rapih aku susun.
“ehm..iya, aku juga”.
“ya udah mas, dua jadinya..”.
Hening. Entah apa harus seperti ini. Aku masih sibuk mencari cara memecahkan es keheningan diantara kau dan aku, sedang kau malah asik dengan handphone mu. Kita berada semeja, tapi hati kita tak pernah menyatu. Tak pernah mungkin tak akan pernah.
Kulipat tanganku, kusandarkan kepalaku diatas tanganku. Memandangmu dengan cara seperti ini adalah sesuatu yang aku sukai. Bisa melihat matamu yang sedang sibuk membalas sms orang lain. Aku selalu berfikir positif, mungkin teman ceweknya yang sedang minta bantuan saran atau malah minta bantuan untuk membalaskan mantan karena sudah menyakiti. Ketika kau menangkap mataku, kita saling pandang, sekian detik. Lalu semuanya terputus. Kau pasti menundukan kepalamu dan aku selalu mendahului untuk mengatakan – malu, katamu selalu seperti itu.
Hidangan sudah keluar. Aku dan kamu. Menikmati itu. Dipetang itu. Tanpa basa-basi. Sepi diantara kita.
“oh ya, kamu tau gak, kamu itu digandrungi sama temenku lhoo..”. disela makan daging sapi yang masih hangat.
“siapa?”
“pkoknya kamu itu criteria dia banget”.
Hening kembali.
“lalu, bagaimana kriteriamu?”. Aku memberanikan diri.
“pokoknya 5 S, Smart, Soleh, Santun, Sugih, sempurna”.
“jadi aku bukan kriteriamu ya?”. Blackpepper itu ternyata pedas kala dicampur dengan saus dan lada.
Kau hanya tertawa. Entah sampai sekarang aku masih bertanya-tanya tentang rahasia tertawamu. Ada irisan hati yang terjatuh waktu itu. Kau pasti tak mengetahuinya. Setelah itu aku tak berani lagi bertanya tentang perasaan. Cinta ini hanya tuhan yang tahu, biar tuhan yang menentukan.
Lalu bayangan itu menghilang ditelan rintik air yang jatuh menerpa kaca helmku. Ku kemudikan motorku dengan kecepatan 89km/jam. Meliuk-liuk diantara trailer yang sedang merangkak menembus hujan.  Semua sudah terlambat, kendali remku sudah tak memadai untuk berhenti dalam keadaan mendadak. Kulihat dirimu diantara trailer-trailer yang berbondong-bondong menyerbuku. Kau cantik, kau manis, aku suka kamu. Bye jelek J.

Semarang, 6 november 2011
Nailal mustaghfiri
Menembus hujan, tanpa sarung tangan dan sepatu, terasa sangat menyakitkan.seperti digigit semut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar