Cari

Kamis, 12 Juni 2014

Dear Anissa

Tuhan,bahagiakan dia untukku. Selalu.

Dear Anissa,
Doa itu selalu aku sampaikan ke Tuhan beribu-ribu kali. Sampai bibirku kelu berucap. Dan kita sama-sama tahu bahwa – dia – yang ada didalam doaku adalah kamu.Tuhan mungkin bosan mendengarnya, lalu menuliskannya dibuku – hijau – motif batik bertuliskan namamu di singgahsana-Nya.  Berulang kali.

Sudah berpuluh, atau mungkin ratusan surat kukirimkan. Tidakkah kamu menerimanya?. Terkadang aku hanya mengirimkan sepotong doa dan rindu. Kadang juga sebentuk hati lengkap dengan perangko burung belibis seharga tiga-ribu-rupiah yang aku beli di kantor pos.

Ah, rasanya ganjil jika setiap surat-surat tak menanyakan kabar terlebih dahulu dibagian awalnya.

Anissa, kamu apa kabar?

Dia pasti memperlakukanmu bak putri di jauh sana.  Hal yang tak pernah aku lakukan saat denganmu. 
Dulu – sekali.
Aku yang tidak pernah punya kesempatan, dan kamu yang tak pernah memberikan aku peluang. Lalu seakan aku berpura-pura menyalahkan dirimu, tapi akhirnya aku yang salah. Tapi, kamu selalu bahagia kan disana? Aku sedih bila kamu tak bahagia. Itulah sebabnya aku menyembunyikan semua updates-mu di BBM dan twitter. Aku sengaja membuatmu “diam” di twitter. Demi kebahagiaanmu dan aku. Karena bahagia adalah alasan buatmu tak memilihku. Jangan tanyakan padaku. Karena kamu sudah tahu jawabannya. pastinya.

Aku bersyukur saat Tuhan memperbolehkan kita bertemu. Disana. Dimeja-meja yang berbaris rapih terhias pelayan baru ber-hitam putih menawarkan makanan. Kamu ingat saat ku tanyakan padamu – mau pesan makanan apa? – tapi kamu hanya membalas dengan gerakan pundak.

 – terserah –

    katamu.

 Lalu kita tenggelam bersama dengan makanan yang kita santap. Harusnya aku tahu maksudmu menghabiskan makanan secepatnya. Sometimes, we create our heartbreaks through expectation. Aku yang terlalu berharap. Dan bodohnya aku tak mengenalinya saat itu.

Kamu tak lagi menagis kan? Aku harap dia selalu memelukmu. Mengusap air mata peluhmu. Aku hanya bias memelukmu melalui doa-doaku yang selalu aku rapalkan setiap harinya. Seperti candu. Bisa jadi, dia adalah buah dari doa-doaku. Semoga saja benar. Dan berharaplah bahwa aku selalu berfikir positif tentang itu.

Aku selalu merindukan hidung semampaimu. Dan aku selalu merindukan kaki-kaki jenggang mu mengapitku saat membonceng. Kadang, aku berdoa buatmu mengetahui besarnya harapan untukmu tetap tinggal. Harusnya aku sadar, ucapan selamat tinggal malam itu adalah yang terakhir. Kamu yang selalu tak pernah peduli dan aku yang selalu kebakaran jenggot karena ke-canggung-an-ku menghadapimu.  Harusnya aku tahu. Harusnya.

Jadi, kamu, apa kabar?

Dear anissa, rasanya hati kita berjarak setengah planet bumi. Atau mungkin sejauh galaksi bima sakti. Kau tahu? Aku selalu melihat contact di blackberry messenger-ku, hanya untuk memastikan kamu bahagia dengannya. Atau kadang untuk membuatku menyayat perih mengingatmu. Dan kemudian aku menangis tersedu-sedu macam anak kecil kehilangan permennya. Lalu akhirnya berhenti menangisi karena lelah untuk terus bersedih. Aku lelah untuk terus bersedih.

Akhirnya rasa itu datang. Aku tak pernah mengundangnya singgah dihati. Hanya dia datang begitu saja. Just passing by, not even to stay. Awalnya dia memperkenalkan dirinya sendiri sebagai kecewa. Sesekali mengobrak-abrik rumah impian kita. Lalu membuatku seperti orang bodoh yang menangisimu. Lalu kemudian terkadang dia juga mengundang salah satu temannya – amarah yang juga sering mampir kerumah. Meski hanya sebentar.

Dengan mu seperti membaca buku. Selalu mempunyai epilog disetiap akhir cerita. Aku sungguh bermaksud untuk dibacamu pelan. Membunuh waktu lalu kemudian memelukmu selalu. Setiap huruf yang terangkai, alur cerita lembut, semampai dan bangir hidung itu. Kamu mengagumkan. Disetiap kalimatnya aku sering berharap jarak yang memisahkan kata akan semakin merapat dipelaminan. Kata “aku” dan “kamu” bersanding di epilog buku ini.  

Aku telah habis membaca seluruh cerita ini. Diujung epilog ini kuselipkan surat. Andai saja kamu mau menyelesaikan buku ini juga disana dan membaca suratku, lalu saat kau selesai semuanya, kau tutup buku ini dan tegar. Berjanjilah kau akan selalu bahagia dan melupakanku. Jika suatu saat nanti kita bertemu, teruslah untuk berpura-pura tidak mengenalku. Karena, aku akan melakukan hal yang sama untukmu.

***


Dear Anissa,
Aku rasa, menjauhku adalah  hal terbaik untuk kita. Aku dan kamu – aku tak kan lagi berpura-pura melupakanmu, dan kamu tak lagi susah mencari alasan untuk menghindar. Entah dimanapun kamu berada sekarang. Aku harap kamu bahagia dengan segala pilihanmu.

Sudah saatnya aku berhenti menatap gambarmu di layar ponselku. Sudah saatnya aku berhenti mengetikan nama akun twitter-mu dalam kolom pencarian lalu kemudian membaca tweets-mu yang berujung isakan. Sudah saatnya aku mulai menyembunyikan semua pembaharuanmu di kontak BBM-ku. Aku lelah menunggu. Itu saja. Sudah saatnya aku bergerak menjauh kemudian hilang diantara pohon-pohon jati – yang dulu kau ceritakan jika kamu bermimpi mempunyai rumah dengan latar pohonan jati.

Seperti layar televisi yang kemudian sekejap lenyap.  Hitam pekat memeluk senyap.

Semoga kamu selalu tahu, bahwa akan ada selalu ada kamu di bagian hatiku

Terima kasih untuk segalanya. Cukup satu rotasi  saja aku mengharapkanmu. Aku mohon pamit.

Tanpa harap,
N


_hidup adalah sebuah pilihan. termasuk memilih untuk move on dan berbahagia_



Salatiga, 13 Juni 2014
diiringi lagu Arcade Fire _ Divorce Papper (OST. Her).
Nailal Mustaghfiri



5 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha.. lebih dalem hatiku bun.. hati-hati ya dikota sebelah.. i'll gonna miss you.. :(

      Hapus
  2. curcol neh kayanya.. blogwalking ke tempatku, mr. Nailal :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha.. bukan curcol.. tapi emang susah nulis galau.. :( mau bicara politik kok banyak yang kesinggung.. haha.. siap miss.. :D

      Hapus