Cari

Senin, 29 April 2013

Ning!

[Part I]

“cinta memang buta, tapi seharusnya tidak bodoh..cinta adalah sesuatu yang membuat kita menyiapkan pisau belati dibalik punggung ketika kita menyodorkan bunga mawar dengan tangan kanan..selalu ada kegelapan disetiap sudut terang..”

###
Satu jam yang lalu aku baru saja menerima uang pensiunanku. Satu tas penuh dengan uang seratus ribuan. Bila ditaksir mungkin sekitar enam puluh juta lebih, aku sengaja minta kontan dengan harapan setelah menjadi pensiunan aku bisa membuka toko kelontong kecil-kecilan untuk mencukupi anak dan istriku. Umurku sudah semakin tua tapi aku belum bisa untuk menjadi selayaknya seumuranku, aku masih ingin bekerja. Tapi apalah daya Tuhan sudah mengistirahatkan aku dengan pensiunan.

Dulu aku adalah seorang penjaga sekolah yang diangkat sebagai pegawai negeri setelah 25 tahun menjadi tenaga bantu di SD Negeri di kampung. Sewaktu itu penjaga kampung adalah jabatan setingkat takmir masjid, karena tugasnya adalah sama-sama menjaga tempat yang bermanfaat, sehingga aku sering dipanggil pak bon dari pada nama asli ku, yaitu badruzzaman. Sewaktu itu aku masih berusia 16 tahun, setelah menamatkan sekolah menengah pertama aku melamar menjadi pesuruh di toko orang tionghoa, tapi tak sampai sebulan dipecatnyalah diriku karena selalu memcahkan gelas sewaktu menghidangkan makanan pagi, padahal yang memecahkan anak bungsu yang masih balita. Sungguh tak mujur nasibku waktu itu.lalu aku melamar menjadi tukang pemetik teh dibelakang desa, tak sampai dua minggu aku pun mundur karena aku tak cukup gesit untuk menyamai tangan para wanita yang sudah turun temurun menjadi pemetik teh. Lalu pada akhirnya aku melamar menjadi tukang penjaga sekolahan untuk kali pertamanya di kampung. Hanya menyediakan teh manis setiap pagi dan membersihkan dedaunan kering di halaman bukanlah merupakan pekerjaan berat bagi ku.

Sewaktu dulu sekolahan itu masih milik Belanda, dimana para menir selalu memesan kopi pahit dan gula batu setiap paginya. Dengan kudapan kue onde-onde yang biasa dipesan dari kampung sebelah. Sepuluh tahun sudah aku meladeni para kompeni sampai akhirnya tahun 1948 indonesia mengusir para penjajah dengan pengakuan kemerdekaan Negara indonesia. Dari sinilah ceritaku dimulai, kawan akan aku ceritakan semua selagi aku masih mengingatnya.

###
Hari setelah pengakuan itu ternyata masih sama saja dengan hari sebelumnya, aku masih saja menyediakan kopi pahit dan gula batu untuk para menir, ternyata mereka tidak ikut pulang ketanah kelahiran mereka karena mereka adalah seorang pengajar, bukan militer, dalam perjanjian yang dibuat oleh Bung Hatta bukan semua warga Belanda yang ditarik kembali melainkan hanya militernya saja, sungguh gusar hatiku mendengar hal itu, aku masih saja melayani orang asing dinegeri sendiri, aku bukan lulusan SR (sekolah Rakjtat) setingkat SD kalau jaman sekarang. Aku hanya mampu sampai tingkat 3 di SR, lalu aku putus sekolah dan lebih memilih sapi dan kambing untuk menjadi teman keseharianku. Lalu oleh pak bayan aku disuruh untuk meneruskan sekolah dengan jenjang keseteraan yang diadakan oleh pemerintah Soekarno. Ku ikuti sembari masih menjadi teman dari kambing dan sapi, setelah lulus aku mendaftar menjadi penjaga sekolah, dan diterimalah aku, ternyata ucapan pak bayan ada benarnya, dengan ilmu kita bisa menjadi apa saja yang kita inginkan, bukan hanya menjadi teman dari sapi dan kambing.

Seingatku hari itu adalah hari Senin di minggu kedua dalam bulan ketiga. Aku masih ingat waktu itu adalah tanggal 15, seperti biasa hari senin  adalah hari yang sangat membuat pusing bagi penjaga sekolah dimanapun, karena tiap awal minggu pasti ada upacara bendera, dan pak bon-lah yang harus mempersiapkan segala macam upeti yang hendak dipersiapkan. Sekilas dan sangat tak jelas aku melihatnya, untuk pertama kali aku merasakan sesuatu bergemuruh dihati, bukan karena omelan pak tarjo sang kepala sekolah, ataupun triakan anak-anak sekolah yang seakan selalu mengejek diriku. Bukan karena itu tapi mungkin lebih mirip dengan cinta. Entahlah akupun tak tahu menahu tentang hal itu, hanya saja seperti bunga yang beterbangan disekelilingku, sungguh aneh tetapi aku sangat menikmatinya. Aku senyum sendiri setelah kejadian itu. Ya Tuhan mungkin jodohku sudah dekat. Saat itu baru berumur 35 tahun. Ukuran yang sangat mepet untuk seorang perjaka, aku belum siap menikah karena hidupku saja tak bisa aku atur, apalagi harus mengatur kehidupan orang lain yang menjadi istri dan anaknya kelak?? Selalu pertanyaan itu yang muncul dalam benak, dan itulah yang selalu saja berhasil mengganjal aku untuk menikah, lalu aku undurkan saja niatku, setahun, dua tahun lalu bertahun-tahun.

Dia sangat manis bila ku lihat, anak dari seorang saudagar yang kaya di kampung, sempat ada rasa minder dan takut untuk mendekatinya, bukan takut karena akan digigit atau semacamnya melainkan strata sosial yang susah ditandingi olehku. Aku seorang pak bon sedang dia adalah putri seorang saudagar kain di kecamatan. Tapi inilah indahnya cinta, cinta tak kan memandang apa-apa. Meski jelek, meski kaya, meski miskin cinta selalu hidup diantaranya. Maka tak heran bila akhirnya cinta itu buta. Buta tak bisa membedakan apapun. Setelah hari itu aku jadi sering lama menyapu halaman depan ketika jam masuk sekolah, sembari menunggu anak-anak menyebrang jalan aku lihat sekeliling siapa tahu dia lewat dengan orang tuanya. Ku lihat dia sekilas, lalu dia membalasnya dengan senyuman. Kau tahu kawan bagaimana rasanya?? Seperti makan kue bandung bikinan orang kecamatan yang hanya jualan pada malam minggu. Atau seperti mendapatkan uang banyak sekali dan tak terhitung. Kurang lebih begitulah makna dari senyumannya kepada ku. Meski mungkin menurutnya bukan seperti yang aku gambarkan. Begitulah cinta…

###
Hari sudah sore ketika aku hendak menutup pintu terakhir ruang para guru, setelah membersihkan halaman dan kelas-kelas. Suasana sekolahan tampak menyeramkan sekali, bulu kudukku sampai berdiri dibuatnya. Sungguh aneh suasana hari itu. Ketika selesai mengunci pintu terakhir ruang guru yang berada di pojokan sebelah barat kuputar tubuhku dan astaga betapa kagetnya aku melihat sosok perempuan tertunduk lesu di lantai halaman depan. Siapakah gerangan wanita itu? Hatiku bergetar dan takut, Ingin rasanya berlari saja melompati pagar setinggi 2 meter atau pura-pura pingsan saja agar wanita itu hilang dalam kedipan mata. Ku gosok-gosok mata berulang kali, ku kedipkan mataku berulang kali juga. Tapi entah mengapa hantu wanita itu tak jua hilang dalam pandangan. Makin takut saja aku. Pikiran tentang hantu wanita yang suka memakan organ tubuh manusia dari cerita orang tua jaman dulu merasuki otak ku, berdesak-desakan sampai membuatku berkeringat deras. Sempat terucap sebuah doa dari hati ku; 

“ya Tuhan jangan ambil nyawaku sekarang, aku belum menikah Tuhan..!!”. bisikku dalam hati.

Sepuluh menit berlalu dengan otakku yang masih dijejali cerita mistik, lalu aku beranikan diri untuk mendekati wanita itu, sekitar jarak 5 meter terdengar isak tangis kecil darinya. Makin bergidik saja tubuhku. Aku berhenti dan sempat mundur beberapa langkah. Ku ambil kayu ranting di sebelahku, menyodorkan kearah tubuhnya, dengan alasan agar ketika dia benar-benar siluman benda yang pertama dia terkam adalah ranting naas ini, bukan diriku. Kupukul-pukul ranting itu ditanah dekat dengan wanita itu. Namun tidak ada respon. Lalu ku panggil mbak, dia tak menoleh, ku panggil non, dia juga tak menoleh. Ku panggil lagi dengan bu dia juga tak menoleh. Heran bercampur dengan ketakutan diriku ini. Lalu ku panggil dia Ning, karena aku sepertinya kenal dengan gelang yang dikenakan di tangan kirinya. Semoga itu benar Ning, ku lontarkan pertanyaan penasaranku sekali lagi;

“Ning?”

Mulai ada gerakan, tepatnya kepalanya bergerak keatas. Lalu dia berhambur memelukku yang masih membawa ranting yang juga sama-sama heran oleh kelakuan Ning, ingin kutanyakan kenapa dia sampai seperti ini, tapi sepertinya bukan waktu yang tepat.

“bawa aku kemana saja, mas!”. Bisiknya ditelingaku.

Petir seakan menyambar tubuhku sepersekian detik. Mengapa tidak, perempuan yang biasa aku kagumi setiap aku menyapu halaman sekarang sedang memelukku dan membisikan untuk dibawa kemana saja. Bukan main hebohnya dan panik batinku. Pikiranku kosong sekian detik sampai Ning melepaskan pelukannya dengan tatapan terpana dan heran.

“Mas?”. Bisik Ning ditelingaku.

Lalu seketika kesadaranku kembali pulih. Dan Ning masih saja berdiri dengan wajah keheranan.

“bawa aku kemana saja, mas!”.

“sekarang juga! Aku sudah tak tahan melihat gelagat papa yang mau menjodohkanku”.

Petir kembali menyambar. Bukan main kagetnya. Ada rasa kecewa, kaget, sedih dan lemas menari riang ditubuhku.




(kita potong dulu ceritanya, mohon ditunggu untuk potongan cerita selanjutnya yaa.. ^^)
  29 april 2013
Nailal Mustaghfiri.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar